UpNote: Versi Sederhana Obsidian
Sederhana dan tanpa harus ribet setup dulu, tinggal pasang, daftar, pakai.
#77 | Aplikasi Mencatat | Upnote dari kacamata pengguna Obsidian.
UpNote: Versi Sederhana Obsidian
Sederhana dan gak perlu ribet setup dulu, tinggal pasang, daftar, pakai.
Photo by Kelly Sikkema on Unsplash
Gunakan Upnote jika tidak ingin merasakan susah dan ribetnya mempersiapkan dan mengatur Obsidian. Upnote adalah versi sederhana dari Obsidian, meski perbandingannya jauh, Upnote sudah lebih dari cukup untuk digunakan mencatat atau membuat draf tulisan.
Saya pertama kali mengenal Upnote dari Uda Ivan Lanin melalui komentar salah satu tulisan. Saya juga membaca tulisan Uda tentang Upnote, ia tautkan dari salah satu tulisan terbarunya beberapa waktu lalu.
Saya tidak langsung mencobanya. Saya masih nyaman dengan Obsidian. Beberapa minggu kemudian, baru saya iseng-iseng coba untuk mulai menuliskan draf tulisan saya di Upnote.
Nah, di tulisan ini, saya ingin cerita sedikit ulasan aplikasi satu ini.
Batasan pengguna gratis
Beberapa waktu lalu, habis sudah jatah gratis saya menggunakan Upnote. Pengguna gratis diberikan batasan 50 catatan yang bisa dibuat. Sebenarnya, bisa saja catatan dihapus atau diarsipkan ke aplikasi lain seperti Obsidian atau Notion, yang sepenuhnya gratis. Namun, tidak saya lakukan karena ingin menjadikannya sebagai batasan akhir untuk membuat ulasannya.
Saat saya gunakan sebenarnya masih 43 catatan yang sudah saya gunakan. Saya pikir karena ada catatan yang tertinggal di tempat sampah, jadi, saya hapus semua catatan yang ada di sana, agar bisa membuat catatan baru. Ternyata, tidak berpengaruh, masih belum bisa membuat catatan baru juga.
Mungkin ada yang salah dengan cara saya menggunakannya.
Notebook untuk pengelompokkan catatan
Dari segi tampilan, saya melihat Upnote sangat mirip dengan Evernote. Pengelompokkan catatan menggunakan notebook. Sejauh penggunaan saya, tidak ada kendala dengan fitur notebook ini. Saya hanya menggunakan 3 jenis grup saja, yaitu draf, arsip, dan tulisan yang telah selesai (siap dipublikasikan). Dalam grup arsip, saya membuat satu sub lain, khusus untuk tulisan yang berkaitan dengan Obsidian.
Saya suka, pengelolaan catatan jadi lebih rapi dengan adanya fitur notebook ini. Apalagi, kita bisa membuat sub-grup juga. Hanya saja, jika ingin catatan bisa diakses dari grup utama dan sub-grup, kita harus memasukkan catatan ke dalam dua notebook tersebut secara manual, tidak bisa hanya satu saja di sub-grupnya. Namun, ini bukan masalah besar.
Bisa dibilang, fitur notebook ini fungsinya sebagai folder untuk catatan, kalau di Obsidian.

Tangkapan layar
Markdown
Mirip seperti Obsidian, Notion, dan Medium, Upnote juga menggunakan format Markdown dalam editor teksnya. Sangat mudah menggunakannya karena biasa menggunakan aplikasi sebelumnya. Tidak seperti Obsidian yang membuat kita manual menuliskan karakter tertentu untuk mengatur tampilan tulisannya seperti bold, italic, highlight, dan lainnya, Upnote tidak mengharuskan kita melakukannya secara manual, bisa tinggal klik salah satu ikon yang ada di bagian bawah editornya.
Pengurutan catatan
Saya suka menerapkan metode Zettelkasten untuk mengelola catatan saya. Persis seperti yang dituliskan Sönke Ahrens dalam bukunya yang berjudul How to Take Smart Notes, hanya dimodifikasi sedikit saja. Penerapan sistem penomoran Zettelkasten cukup membantu mengelola informasi yang ditemukan.
Informasi dikelola bukan berdasarkan subjek, kelas, atau kategori informasinya, melainkan berdasarkan relevansi antar informasi. Jika informasi A secara langsung berhubungan dan relevan dengan informasi B, maka catatan di tempatkan tepat di belakang informasi B. Sistem pengurutan di Upnote memungkinkan pengguna menerapkan sistem penomoran dari Zettelkasten. Selain itu, pengguna juga bisa mengatur urutan catatn secara manual, hal ini tidak bisa dilakukan di Obsidian.

Tangkapan layar pribadi — contoh pengurutan berdasarkan Zettelkasten versi penulis.
Tautan Internal
Salah satu yang dibutuhkan untuk menerapkan Zettelkasten agar lebih mudah adalah cara menghubungkan catatan satu dengan catatan lain. Suatu informasi kadang bisa memiliki relevansi dengan informasi lainnya, sehingga perlu untuk dicantumkan bersamaan saat ada informasi yang saling berhubungan.
Dalam Obsidian, fitur ini disebut dengan tautan internal atau Wikilink. Nama fail yang ingin dihubungkan perlu diapit dengan dua tanda kurung siku ([[ ... ]]) di awal dan di akhir nama failnya. Fitur tautan internal ini juga dimiliki oleh Upnote, cara penggunaanya pun sama.
Bedanya, jika di Obsidian, saat kita menambahkan tanda seru (!), maka fungsi tautan tadi berubah menjadi fitur embed (sematkan). Upnote tidak bisa melakukan hal ini, tautan yang dicantumkan hanya berperan sebagai bantuan navigasi saja. Untuk melihat informasi secara keseluruhan kita perlu membuka catatan tersebut.

Tangkapan layar pribadi — Tautan internal dalam Upnote
Workspace
Salah satu fitur lain yang dimiliki Upnote adalah workspace. Sepertinya ini bisa bermanfaat untuk membedakan catatan personal dan kerja. Namun, karena saya hanya menggunakan Upnote untuk menulis draf Medium, ini tidak saya gunakan.
Templat (Template)
Fitur ini wajib sekali ada di aplikasi pencatatan apa pun. Ini sangat berguna untuk mengurangi aktivitas yang sama secara berulang. Misal, membuat struktur dasar tulisan atau sekedar kalimat-kalimat penutup dalam tulisan.
Fungsi templat di Upnote memang tidak selentur di Obsidian, tapi ini sudah termasuk cukup bagi saya.
Tentu saja, semua ini hanya soal kebutuhan dan preferensi masing-masing. Itu juga bukan sebuah masalah yang besar jika digunakan untuk mencatat informasi atau menulis draf Medium.
Dengan fitur gratis saja, menurut saya sudah sangat memuaskan. Hanya saja, jika ingin menggunakannya lebih lama, setiap catatan harus dicadangkan (backup) ke penyimpanan lain, seperti Obsidian atau Notion. Jadi, jumlahnya bisa diulang lagi dari nol.
Beda lagi kalau memang ingin digunakan sebagai aplikasi pencatatan utama, saran saya sih mending bayar saja. Mau berlangganan per bulan atau bayar sekali untuk selamanya, cek harganya di sini.
Saya sendiri masih mempertimbangkan, mau membeli lisensi penggunaan Upnote atau tetap di Obsidian. Sebab, saya sangat menghindari penggunaan gambar jika di Obsidian, benar-benar hanya ingin diisi dengan teks saja di Obsidian.
Tepukan 👏 dan komentar 💬 pembaca sangat berarti bagi penulis.
Jika kamu merasa ini bermanfaat, kamu bisa dukung saya dengan memberi tip di Trakteer.
메타데이터
- post_id
- 23b46eb95db7
- slug
- upnote-versi-sederhana-obsidian-23b46eb95db7
- url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/upnote-versi-sederhana-obsidian-23b46eb95db7
- canonical_url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/upnote-versi-sederhana-obsidian-23b46eb95db7
- author_url
- https://medium.com/@frdi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01