Aku Nggak Pernah Nyangka Akan Kuliah di UST
(dan catatan kecil tentang merdeka belajar yang akhirnya aku alami sendiri)
Aku Nggak Pernah Nyangka Akan Kuliah di UST
(dan catatan kecil tentang merdeka belajar yang akhirnya aku alami sendiri)

Apakah kampus negeri satu-satunya jalan untuk membanggakan diri? Dan… apakah yang bukan negeri berarti pelarian?
Aku pernah mempercayai itu. Bahwa universitas negeri adalah satu-satunya pilihan yang pantas dikejar. Setelah lulus SMA, aku gap year selama dua tahun demi satu hal: kampus impian.
Aku mengejar, berharap, dan mencoba lagi. Berkali-kali. Hingga akhirnya harus menghadapi kenyataan yang tak seperti rencana. Dan jujur saja, itu menyakitkan.
Aku bertanya-tanya,
“Kalau aku kuliah di tempat yang nggak dikenal, masih layakkah aku bangga?” “Apa aku menyerah, atau aku sedang belajar menerima?”
Dari Ambisi ke Keheningan
Setelah kegagalan itu, aku mulai membuka diri. Aku mencari universitas swasta. Tapi bukan yang asal ada. Aku mencari tempat yang punya nilai. Arah. Ruh.
Dan saat itu, aku bertemu Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Kampus yang mungkin belum dikenal banyak orang. Jujur saja, aku sempat ragu.
“Apa aku bisa bertumbuh di tempat ini?”
Antara Takut dan Bingung
Hari-hari pertama di UST penuh keraguan. Aku takut tidak nyambung dan takut kehilangan arah.
Tapi perlahan, aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda. UST bukan hanya kampus. Ia seperti taman, tempat benih-benih nilai ditanam dengan kesadaran.
Ketika Aku Bertemu Nilai
Aku belajar tentang filosofi Ki Hadjar Dewantara:
Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani Yang berarti: di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan.
Dan itu bukan sekadar semboyan di dinding. Nilai-nilai itu terasa dalam cara dosen membimbing, cara mahasiswa berdiskusi, dan suasana kampus yang lebih terasa sebagai ruang belajar hidup, bukan hanya akademik.
UST mengajarkanku bahwa pendidikan bukan soal gengsi, tapi soal arah. Bukan tentang seberapa terkenal kampusmu, tapi seberapa dalam kamu diproses sebagai manusia.
Aku Justru Menemukan “Merdeka Belajar” di Sini
Ironisnya, jargon Merdeka Belajar sedang gencar digaungkan secara nasional. Tapi justru di kampus ini, aku mengalaminya sebagai kenyataan, bukan slogan.
- Aku bebas memilih pendekatan belajar yang sesuai dengan caraku berpikir.
- Aku tidak sekadar mengejar nilai, tapi menyelami makna.
- Aku tidak hanya dididik untuk pintar, tapi juga untuk peka.
- Aku belajar menemukan diriku sendiri dalam proses belajar.
Dan saat itulah aku sadar: Merdeka Belajar bukan kebijakan di atas kertas. Ia bisa menjadi pengalaman yang sangat pribadi.
Pendidikan yang Membumi, Bukan Memunggungi
Tahun 2020, saat memperkenalkan kampusku ke teman-teman, aku sempat diam.
“Aku kuliah di UST… Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.” Mereka terdiam. Ada yang mengernyit. Ada yang bertanya ulang, “Itu di mana?”
Saat itu, aku benar-benar malu. Karena dalam bayanganku, aku akan menyebut nama besar dan orang akan mengangguk penuh respek. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam hati:
“Apa aku sedang menurunkan standar hidupku?” “Apa aku masih pantas bermimpi besar?”
Namun hari ini, aku tidak lagi malu. Bukan karena kampus ini tiba-tiba mendunia, tapi karena aku tahu nilai yang diperjuangkannya.
Aku Masih Belajar
Aku tidak mengaku sudah menjadi teladan. Aku pun masih sering merasa tidak cukup. Tapi hari ini, aku bisa bilang:
Aku tidak salah tempat.
Karena di kampus ini, aku belajar mendidik diriku sendiri. Belajar jujur, belajar bertanya, belajar membentuk ulang makna sukses dan cita-cita. Dan mungkin, itu awal dari pendidikan yang sejati.
Penutup
Aku menulis ini bukan karena aku sudah tahu semuanya. Aku menulis ini karena aku sedang mencari. Dan mungkin, seperti taman yang menumbuhkan pohon secara perlahan, UST telah menumbuhkan cara pandangku terhadap hidup dan pendidikan.
Mungkin kamu juga sedang di titik yang membingungkan. Tidak tahu apakah jalanmu “cukup baik” di mata orang.
Tapi siapa tahu tempat yang tidak kamu rencanakan bisa menjadi taman tumbuhmu juga.
Pendidikan sejati tidak selalu datang dari tempat paling prestisius, tapi dari tempat yang membantumu memahami siapa dirimu dan ke mana kamu ingin berjalan.
메타데이터
- post_id
- 241eea22edc8
- slug
- aku-nggak-pernah-nyangka-akan-kuliah-di-ust-241eea22edc8
- url
- https://medium.com/@davinadisinii/aku-nggak-pernah-nyangka-akan-kuliah-di-ust-241eea22edc8
- canonical_url
- https://medium.com/@davinadisinii/aku-nggak-pernah-nyangka-akan-kuliah-di-ust-241eea22edc8
- author_url
- https://medium.com/@davinadisinii
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-28 10:13:36