Surat Terbuka untuk Inu: Selamat Menempuh Hidup Baru
Semoga bahagia selalu, Adikku
Surat Terbuka untuk Inu: Selamat Menempuh Hidup Baru

Dok. pribadi
Aku bingung harus membuka surat ini dengan apa. Barangkali permohonan maaf untuk dua hal: (1) aku tak bisa menghadiri pernikahanmu 11 Mei mendatang, dan (2) jika aku harus menyebut surat ini sebagai kado, rasanya juga kurang pantas. Jadi, untuk dua hal di atas, aku minta maaf. Selebihnya, mungkin, aku akan membuka surat ini dengan ucapan selamat dan doa yang meluap-luap untukmu, Adikku, Inu.
Aku senang ketika Ramadan kemarin akhirnya kita bertukar kabar lewat telepon kembali setelah beberapa kesempatan sebelumnya sebatas berkirim pesan dan itu pun jarang-jarang. Perbedaan waktu antara Indonesia dengan Yaman, juga sekian kesibukan yang menggilas kita tanpa ampun, membuat kita hanya sesekali saja berkomunikasi. Jika sudah begitu, kita baru bisa mensyukuri keberadaan Indomaret Point atau teras Masjid UBK atau tempat mana pun yang dahulu dengan leluasa bisa kita jadikan tempat mengobrol.
Lewat saluran telepon, kau ceritakan bagaimana perjalanan cintamu pada akhirnya bermuara. Obrolan kita memang tak panjang, tetapi aku cukup lega karena kau libatkan. Bercerita, bagiku, sudah lebih dari cukup. Artinya, kau masih menganggapku ada—dan penting. Terima kasih. Menelepon juga mampu mengobati rasa rindu. Aku rindu padamu dan telepon sebulan yang lewat, sedikit-banyak menjadi penawarnya.
Di akhir obrolan kemarin, kau memintaku untuk menyebutkan sekian judul buku tentang pernikahan dan aku tak punya jawaban. Kau juga meminta nasihat pernikahan dan kurasa, meski tak banyak, kali ini aku punya jawabannya.
Inu, aku tahu kau gelisah. Kabar baiknya, semua orang waras akan merasakan kegelisahan menjelang pernikahannya. Ini bukan cuma perjudian dunia, tetapi, sebagai orang yang memeluk agama dan percaya pada kehidupan setelah kematian, kita akan membawa impian-impian itu sejauh langit yang tak bertepi. Kau, calon istrimu, aku dan istriku, semua pasangan yang menikah baik-baik, hampir seluruhnya mengharapkan ketenangan, rasa nyaman, dan kasih sayang. Kegelisahan adalah sinyal bahwa kita ingin memastikan segalanya berjalan mulus sesuai rencana. Ia baik dalam kadar yang cukup. Jika kau merasa gelisah berlarut-larut, coba tuliskan perasaanmu, barangkali itu akan membantumu mengurai benang kusut di kepalamu. Namun, yang lebih utama, Adikku, mintalah ketenangan pada Sang Penggenggam Hati.
Inu, bicara soal pernikahan, menurutku, salah satu pondasi utamanya adalah kesalingan. Pernikahan tak hanya menuntut pengorbanan satu pihak, melainkan keduanya. Mengerjakan pekerjaan domestik secara bersama-sama, sependek pengalamanku, mampu melatih nilai kesalingan ini. Aku dan istriku terbiasa membagi tugas dapur. Istriku yang memasak dan aku akan mencuci piring. Tentu saja, nilai-nilai kesalingan ini tidak hanya sebatas urusan rumah tangga yang kasatmata. Kalian mau menanggalkan ego demi meminta maaf, meskipun sama-sama merasa benar, itu juga kesalingan. Kesalingan akan menjaga neraca kasih sayang dalam rumah tangga tetap seimbang dan tidak berat sebelah. Tidak boleh ada yang merasa paling berkorban, paling berjasa, dan seterusnya, sebab hal yang demikian akan menjadikanmu punya anggapan bahwa dirimu korban pernikahan (si paling menderita, nelangsa, segala macam) dan sok pahlawan (karena berjasa mencari nafkah, misalnya).
Urusan selanjutnya yang tak kalah penting dan bahkan menjadi indikator sehatnya sebuah hubungan adalah komunikasi. Dengan komunikasi yang baik, sepasang suami istri mampu mencapai kesalingan, menyampaikan sikap pasangan yang bikin tak nyaman, merancang masa depan, membicarakan hal-hal sensitif yang mampu memicu berang atau tangis, tetapi di sisi lain mustahil untuk terus menghindar. Komunikasi berdiri di atas kaki-kaki kejujuran dan kesetaraan. Jika kau tukang kibul, gemar menambal dan mencongkel bagian cerita di sana-sini, bacotanmu tak lebih mulia ketimbang sampah. Kelak, kau akan kerepotan sendiri membereskan bencana yang kau mulai. Dan, apabila kau tak menerapkan nilai-nilai kesetaraan dalam berkomunikasi, corak kepemimpinanmu akan cenderung otoritarian. Keputusan yang kau ambil akan menguntungkan dirimu atau hanya baik menurutmu saja.
Dengan komunikasi yang baik, kalian akan mampu mencegah campur tangan pihak ketiga, bahkan jika mereka adalah orang tua kalian. Masalah kalian adalah masalah kalian. Selesaikan sendiri. Terkadang, masalah dalam rumah tangga dipicu perkara remeh-temeh yang, jika kalian mau duduk tenang sambil bicara baik-baik, semuanya akan beres atau, paling tidak, kalian bisa lebih jernih menyikapinya. Namun, jika masalah rumah tangga kalian umbar ke mana-mana, orang-orang yang tidak tahu duduk perkaranya akan merasa memiliki kepentingan untuk mengatur kalian harus begini, harus begitu, jangan lakukan ini, jangan lakukan itu. Diskusi dengan pihak luar, terutama orang tua, tentu saja boleh, tetapi perlu diperhatikan porsinya. Peran orang tua atau pihak ketiga lainnya hanyalah sebatas penasihat. Penentu keputusan rumah tangga kalian, ya, kalian sendiri. Bukan orang lain. Jangan biarkan orang lain merobohkan rumah yang sudah susah-susah kalian bangun. Aku pernah mendengar sebuah kisah tentang hal ini dan, kukira, kau juga perlu mendengarnya. Kisah ini sampai kepadaku menjelang pernikahanku tiga setengah tahun yang lalu. Lewat kisah inilah aku belajar banyak tentang komunikasi dalam rumah tangga. Orang yang diceritakan ini konon bercerai karena komunikasi dengan pasangannya babak-belur, ditambah lagi mertuanya ikut campur. Tentu kita semua tak ingin mengalami hal yang sama, bukan?
Hal terakhir yang ingin aku sampaikan padamu adalah banyak-banyaklah kalian mengingat siapa kalian. Aku, istriku, kau dan calon istrimu, kita semua adalah manusia. Kalau kau hanya mau mengorek cacat-cela, kau hanya akan menemukan apa yang kau cari, bahkan kau tak akan menduga bahwa jumlahnya bisa sebanyak bintang-gemintang di angkasa. Namun, jika kau telaten menghitung kebaikan demi kebaikan dari pasanganmu, seluruh cacat-cela itu akan tertutup tanpa sisa. Maafkan dirimu, maafkan pasanganmu, berbenahlah bersama-sama, karena manusia memang seharusnya rutin memperbaiki diri.
Adikku Inu, mungkin begitu saja isi suratku. Kau bisa menemukan ratusan atau bahkan ribuan nasihat lain yang sudah bersertifikasi halal MUI—barangkali ada, kan?—atau wejangan yang jauh lebih bermutu ketimbang racauanku tadi.
Percayalah, semua luka di punggungmu akan mengering sempurna. Kau akan bahagia. Kau berhak bahagia, Inu. Aku ingin kau bahagia dan mungkin ini saatnya.
Selamat menempuh hidup baru.
Aku menyayangimu.
Mas Usen
메타데이터
- post_id
- 24ccceb1665d
- slug
- surat-terbuka-untuk-inu-selamat-menempuh-hidup-baru-24ccceb1665d
- url
- https://medium.com/@ucendoit/surat-terbuka-untuk-inu-selamat-menempuh-hidup-baru-24ccceb1665d
- canonical_url
- https://medium.com/@ucendoit/surat-terbuka-untuk-inu-selamat-menempuh-hidup-baru-24ccceb1665d
- author_url
- https://medium.com/@ucendoit
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 03:01:46