Bertemu Warga eks Kampung Bayam (Lagi)
(Foto: banner di dalam posko atau aula di Huntara)
Bertemu Warga eks Kampung Bayam (Lagi)

(Foto: banner di dalam posko atau aula di Huntara)
Sabtu pagi ini, saya ada kegiatan untuk pergi ke Huntara (Hunian Sementara), tempat tinggal warga eks Kampung Bayam setelah pengusiran paksa beberapa bulan lalu di Kampung Susun Bayam (KSB). Kejam sekali aparat itu, dasar keparat. Tentunya, tidak seorang diri, saya bersama teman-teman yang juga berniat untuk melakukan liputan. Kalau saya si ikut saja ke sana, sambil belajar dan memang sudah lama tidak bertemu warga eks Kampung Bayam.
Sedari malam sebelum berangkat, saya sudah tidak sabar. Namun, ada yang membuat saya merutuki diri sendiri, salah memakai kostum. Saya malah menggunakan jaket jeans di tengah teriknya jakarta ditambah sambil berdesakan dalam TransJakarta. Huft, sepertinya, besok-besok perlu melihat perkiraan cuaca dulu di ponsel saya.
Dari halte terdekat, saya perlu transit di halte Monas untuk sampai ke titik kumpul di stasiun Jakarta Kota. Lalu, berjalan sekian kilo, intinya durasi sampai sana sekitar 30 menit. Itung-itung jogging pagi walaupun sudah siang, hehe. Saya menyukai jalan kaki, tidak suka ketika jalan kaki bersama orang-orang yang gampang mengeluh. Sudahlah.
Akhirnya, saya sampai di Huntara. Daerah ini berlokasi di Jalan Tongkol, kalau kalian tahu kasus penggusuran yang sempat ramai di Kampung Kerapu, nah, ini dekat dari situ. Masuk menyusuri jalanan dengan banyaknya bis-bis, sempat bingung di mana lokasi warga tinggal. Ternyata ada di sebelah kanan, jalanan kecil seperti gang. Rumah warga berhadap-hadapan dan kayu mendominasi untuk fondasi rumah mereka.
Saat mencari tempat tinggal Furqon, ia ketua kelompok tani warga Kampung Bayam. Kami disambut oleh warga-warga yang sangat ramah. Senang sekali, saya bertemu kembali dengan teh Neneng, perempuan yang saya wawancarai dalam tulisan “Di Balik Stadion JIS: Warga Eks Kampung Bayam Kesulitan Air Bersih hingga Dikriminalisasi.”
Setelah bertemu Furqon, kami diajak duduk di posko atau semacam aula yang dibuat warga, berlantai keramik — bersih, rapi. Terdapat perpustakaan juga di pojok ruangan dan gambar-gambar perjuangan warga mempertahankan hak mereka. Saya dan teman-teman berbincang panjang lebar mengenai banyak hal, mulai dari kejadian pengusiran paksa, Furqon yang sempat ditahan, sampai dampak kejadian tersebut terhadap anak-anak.

(Foto: sumur yang dibuat warga)
Saya bertanya soal Huntara ini, yang sedari tadi menorehkan pandangan saya. Furqon bilang bahwa memang sebelumnya warga belum bisa mengakses listrik, bahkan untuk air saja perlu dihubungi terlebih dahulu — alternatifnya, warga membuat sumur sendiri. Di sini, air sumurnya lebih jernih dibanding di KSB. Selain itu, warga kerap kali mengalami tampias saat hujan mengguyur rumah mereka, ditambah berhadapan dengan nyamuk-nyamuk penghisap darah yang mengganggu kenyamanan warga.
Setelah berbincang lama bersama Furqon, saya mengobrol dengan ibu-ibu di sana. Tentu, akses pendidikan yang saya tanyakan. Ternyata pindahnya mereka ke Huntara membuat beberapa anak lebih jauh pergi ke sekolah sehingga memerlukan waktu tambahan untuk berangkat. Mata pencaharian yang hilang karena berdampak pada kehidupan sehari-hari mereka karena warga kesulitan berkebun di Huntara.
Kami kembali ke tempat awal berkumpul, ternyata di sana ada Fifi — anak kecil yang sedari tadi duduk saat kami mengobrol. Saya menyapanya sambil berkenalan. Fifi kelas 1 SD, ia mengajak saya dan teman saya untuk bermain guru-guruan, permainan yang sering ia lakukan bersama anak-anak di sini. Kami mengobrol sambil sesekali tertawa mendengar cerita Fifi saat menceritakan kelakuan lucu temannya. Tak lama, anak-anak lain berdatangan ingin bermain dengan kami. Fifi juga cerita kalau di sini (Huntara) berbeda dengan KSB karena di sana, ia bisa bermain bersama teman-teman sampai maghrib masih ramai, namun di sini tidak.
Terlepas dari kejadian aparat yang merangsek masuk ke tempat tinggal mereka, kemarin. Sangat disayangkan, tindakan aparat itu karena tidak memikirkan anak-anak. Tapi, senyum yang merekah saat kami bermain, membuat saya terharu dengan semangat mereka untuk sekolah dan menggapai mimpinya. Benar, tidak ada yang bisa merenggut mimpi seseorang.
(28 Juni 2024)
메타데이터
- post_id
- 25331df37bf3
- slug
- bertemu-warga-eks-kampung-bayam-lagi-25331df37bf3
- url
- https://medium.com/@devioktaavv/bertemu-warga-eks-kampung-bayam-lagi-25331df37bf3
- canonical_url
- https://medium.com/@devioktaavv/bertemu-warga-eks-kampung-bayam-lagi-25331df37bf3
- author_url
- https://medium.com/@devioktaavv
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 05:37:17