Meloncat pada keabadian
Kami sedang makan kangkung dan ayam dengan sambal yang pedas di sebuah warung selepas mengadakan diskusi bertajuk Loncatan Kreatif. Sore…
Meloncat pada keabadian

Kami sedang makan kangkung dan ayam dengan sambal yang pedas di sebuah warung selepas mengadakan diskusi bertajuk Loncatan Kreatif. Sore itu berjalan santai. Sambil makan dengan lahap, kami masih mengulas tipis-tipis apa yang tadi dibicarakan di ruang diskusi. Obrolan bergerak dari seni, pameran, kondisi kota, sampai cerita cerita kecil yang muncul begitu saja. Tidak terasa makanan kami habis lebih dulu daripada topik pembicaraan.
Di meja itu aku duduk bersama Bonyong Munni Ardhi. Kami sudah cukup lama saling kenal, pernah berpameran bersama, nongkrong bersama, atau sekadar bertemu di acara seni rupa yang itu-itu lagi. Diskusi hari itu sebenarnya berangkat dari kegelisahan beliau sendiri: tentang bagaimana seni membutuhkan “loncatan kreatif” agar tidak berjalan di tempat. Meski usianya sudah jauh di atasku, ia selalu punya keinginan besar untuk bertemu anak-anak muda, terutama di Solo.
Kurang lebih, yang beliau sampaikan sore itu adalah bahwa seni selalu punya semangat untuk mendobrak zamannya sendiri. Seni selalu bergerak ke depan, bahkan kadang terlalu jauh hingga tidak dimengerti oleh masyarakat pada hari ketika karya itu lahir. Menurutnya, sejak zaman purba sampai kontemporer, selalu ada seniman yang harus berjalan di jalan sunyi karena dunia belum siap memahami apa yang sedang ia lakukan.
Mendengar beliau berbicara, aku jadi teringat bahwa sebenarnya itulah jalan hidup yang beliau pilih sejak lama.
Pada tahun 1970-an, ketika medan seni rupa Indonesia masih cukup nyaman dengan estetika yang mapan — lukisan indah, dekoratif, dan relatif aman, Bonyong Munni Ardhi bersama tokoh-tokoh seperti Jim Supangkat, Hardi, dan FX Harsono justru memilih jalur yang berbeda. Mereka melahirkan Gerakan Seni Rupa Baru, sebuah gerakan yang mengguncang cara pandang seni rupa Indonesia saat itu.
Mereka menolak batas-batas lama tentang apa yang layak disebut seni. Kanvas bukan lagi satu-satunya medium. Benda bekas, objek sehari-hari, material temuan, hingga ruang hidup masyarakat bisa menjadi bagian dari karya. Seni tidak lagi sekadar menghias, tapi berbicara. Kadang menggugat.
Dan Pak Bonyong tetap hidup dengan semangat itu sampai hari ini.
Di sela makan sore tadi, kami sempat membicarakan kondisi seni rupa Solo sekarang. Tanpa sengaja aku nyeletuk bahwa akhir-akhir ini aku juga sering diselimuti rasa sepi. Teman-teman kuliah sudah banyak yang pulang ke daerah masing-masing, sementara yang lain mulai sibuk menghidupi kehidupannya sendiri.
Dengan nada agak tinggi beliau menjawab,
“Masih mending kamu. Teman-temanku sudah banyak yang mati.”
Kalimat itu membuatku diam sebentar.
Di situ aku sadar bahwa rasa sepi yang kurasakan ternyata belum seberapa dibanding kesunyian yang beliau hadapi sebagai seseorang yang hidup melewati begitu banyak zaman seni rupa. Banyak kawan seperjuangannya telah tiada, banyak ruang berubah, banyak gelombang datang dan pergi. Tapi semangatnya tetap menyala di kota yang sebenarnya tidak terlalu gaduh oleh hiruk-pikuk seni rupa.
Pak Bonyong mungkin sudah cukup tua secara biologis, tapi jiwanya selalu muda. Setiap kali kami bertemu, entah direncanakan atau tidak, ia hampir selalu mengajak membuat sesuatu entah itu pameran, diskusi, atau sekadar membicarakan karya terbaru. Kalau tidak begitu, beliau akan berbagi cerita tentang perkembangan seni rupa hari ini dengan antusias seperti anak muda yang baru menemukan dunia baru.
Sering kali aku justru kalah muda dalam urusan itu. Aku lebih mudah lelah dengan seni rupa, walaupun akhirnya kembali lagi juga.
Di luar perannya yang penting dalam sejarah seni rupa Indonesia, bagiku beliau adalah seseorang yang terus menyalakan api-api kecil di Solo. Mungkin apinya tidak terdengar megah di arus utama seni hari ini, tapi api itu diam-diam tertanam di kepala anak-anak muda.
Kini dunia seni rupa Indonesia diselimuti mendung karena kepergian Bonyong Munni Ardhi. Kita kehilangan salah satu sosok paling radikal dalam seni rupa Indonesia, seorang pemikir seni rupa yang sepanjang hidupnya susah tunduk pada kemapanan.
Namun rasanya beliau tidak benar-benar pergi.
Jika hari ini banyak seniman muda bisa dengan bebas membuat instalasi, karya interaktif, performance art, atau eksplorasi medium yang dulu dianggap aneh, mungkin itu karena ada orang-orang seperti beliau yang sejak awal bersedia berjalan lebih dulu di jalan sunyi.
Dan mungkin benar, seni memang selalu membutuhkan orang-orang yang mau mendahului zamannya, meskipun harus sepi sunyi lebih lama.
메타데이터
- post_id
- 261bacc36894
- slug
- meloncat-pada-keabadian-261bacc36894
- url
- https://medium.com/@duasembilan/meloncat-pada-keabadian-261bacc36894
- canonical_url
- https://medium.com/@duasembilan/meloncat-pada-keabadian-261bacc36894
- author_url
- https://medium.com/@duasembilan
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 12:17:11