← Back to list

Sebelum Ada Nama, Dulu Ada Alasan

Kita perlu lebih jeli membaca kondisi lingkungan di sekitar kita, khususnya kawasan pemukiman tempat kita tinggal hari ini, bagaimana ia…

Teuku Imansyah · 2026-05-21 05:15 · 1 claps · 7.1 min read
#budaya #sejarah #kampung #toponimi
Open on Medium ↗

Sebelum Ada Nama, Dulu Ada Alasan

Desa Sibedi dan Koleksi Pribadi Rahmad Gunawan

Desa Sibedi dan Koleksi Pribadi Rahmad Gunawan

Kita perlu lebih jeli membaca kondisi lingkungan di sekitar kita, khususnya kawasan pemukiman tempat kita tinggal hari ini, bagaimana ia bisa terbentuk, dan apa saja faktor yang melatarbelakanginya.

Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa terlalu jauh menoleh ke masa lalu hanya akan membuat kita terjebak dalam lingkaran stagnansi, tidak maju, tidak berkembang, dan hanya berdiri diam seolah menunggu sesuatu yang tak datang. Namun, pandangan itu perlu kita renungkan ulang.

Coba kita membayangkan, ini mungkin terdengar terlalu jauh, tapi coba, seseorang, entah berapa ratus tahun yang lalu, bermigrasi dan menelusuri pinggir sungai. Tidak berjalan sendirian, tetapi bersama rombongan kecil. Mereka lelah karena persediaan logistik habis. Mereka membawa anak-anak. Kemudian, apa yang mereka perlukan, mereka berhenti untuk mencari sesuatu untuk dimakan dan diminum, sekaligus tempat untuk beristirahat.

Pertanyannya bukan di tempat mana yang paling indah. Pertanyannya jauh lebih mendasar dari itu, di mana kami bisa bertahan hidup?

Ari dan Antariksa (2005), pernah mengungkapkan sesuatu yang sebetulnya sederhana tapi sering kita lupakan, bahwa tempat tinggal bukan sekadar atap dan dinding. Manusia membutuhkan tempat berlindung, tempat pulang, tempat yang bisa melindungi mereka dari berbagai ancaman di luar sana. Itu kebutuhan yang sangat mendasar.

Tapi menariknya, ketika orang memilih tempat tinggal, yang mereka pertimbangkan jauh lebih dari sekadar kondisi fisik rumahnya. Ada hal-hal lain yang ternyata sama pentingnya, fasilitas di sekitar, bagaimana lingkungan sosialnya, dan betapa mudahnya mereka bisa menjangkau tempat-tempat yang mereka butuhkan sehari-hari.

Dari sini saya ingin berbicara tentang sesuatu yang tampaknya kecil tetapi saya kira penting sekali, alasan mengapa nama itu ada.

Ada desa bernama Beka, tidak jauh dari tempat saya tinggal sekarang, ada penamaan tempat atau toponimi yang orang-orang tua masih menyebut Valiri sebelum nama Beka kita kenal sekarang, Valiri apa? Bukannya pemukiman ini sudah diberi nama Beka sejak awal. Menurut Alam Sryanto bahwa kata Valiri berasal dari kalimat nevaliri atau jadi disini dan segala permasalahan apa pun di Tanah Kaili diselesaikan di wilayah Ngata Valiri. Tempat ini menjadi pusat pengambilan keputusan tertinggi, yang dalam istilah sekarang dapat dijadikan hakim agung, artinya ada peristiwa dan interaksi sosial sehingga membentuk tempat tersebut. Selain itu terdapat bukti keberadaan Hutan Ranjuri dengan umur pohon rau atau sebutan lainnya pohon Kaili (Dracontomelon Mangiferum) diperkirakan berumur sekitar 500 tahun dengan diameter besar yang masih berdiri dan tetap dapat dilihat hingga saat ini. Di dalam kawasan Hutan Ranjuri terdapat tujuh mata air yang tetap terpelihara dengan baik dan terus dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Menariknya, jarak antara hutan dan perkampungan hanya sekitar 200 meter, sehingga keberadaan hutan ini masih sangat dekat dengan kehidupan masyarakat hingga hari ini.

Pertanyaanya mengapa nama Valiri tidak digunakan hingga saat ini?Menagapa nama Valiri beralih menjadi Beka, apakah ada peristiwa bencana, wabah atau perang? Kalau kita merujuk pada kamus bahasa Kaili Ledo yang disusun oleh Donna Evans pada tahun 2003, kata Beka atau Nebeka artinya retakan. Retakan? Apakah ini soal gempa yang memaksa warga Valiri turun ke bawah, atau justru ini lebih dekat dengan cerita tentang Vatu Matoe? Batu itu cukup besar, dan kalau dilihat sekilas, ada retakan di permukaannya. Yang menarik, ada kepercayaan yang hidup di sana. Konon, seorang bayi ditemukan di bagian batu tersebut. Dari kisah itulah nama Desa Beka dipercaya berasal, yakni dari cerita Vatu Matoe (Alam Sryanto, 2026).

Di era sekarang, kita mungkin hanya bisa meraba-raba apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu hingga sebuah nama bisa muncul dan bertahan sampai hari ini. Kita tidak benar-benar tahu. Lalu bagaimana mungkin kita bisa memahami itu semua, jika rasa ingin tahu terhadap masa lalu saja mulai hilang.

Selain cerita tentang Valiri dan Beka ada juga cerita rakyat yang ditulis oleh Alb. C.Kruit pada tahun 1930 tentang asal usul sebaran penduduk pegunungan di sebagian timur Lembah Palu. Cerita bermula dari seorang laki-laki asal Pakuli bernama Mpowulu. Suatu hari dia turun dari kampungnya di Mantendo, jauh di pegunungan, ke dataran rendah untuk berburu.

Ketika sampai di dekat Silonga, di lereng bukit Sibowi , dia berhasil melukai seekor babi, dan bukan babi sembarangan, melainkan yang sangat besar. Tapi tenaganya sudah habis. Dia tidak mampu lagi mengejar binatang itu sendirian. Maka dia meminta bantuan dua orang dari Silonga , Guri dan Were. Kemudian Mpowulu menyerahkan tugas itu kepada keduanya, tapi dengan satu syarat yang jelas, ikuti jejak yang besar. Jangan sekali-kali beralih ke jejak yang lebih kecil.

Akhirnya Guri dan Were mengikuti jejak seekor babi itu. Setelah cukup jauh mereka mengejarnya terjerat di antara rumput liar yang disebut sibalaya (sida acuta), tapi sebelum sempat ditangkap, binatang itu lepas duluan. Dari situlah nama kampung Sibalaya diambil.

Perjalanan berlanjut. Lebih jauh ke depan, babi itu tersangkut lagi, kali ini di semak-semak yang tumbuh di dekat pohon Sidondo (Vitextrifolia). Lagi-lagi lolos. Lalu di dekat Sungai Wuno, pohon Wuu (belum diketahui pohon wuu sejenis tumbuhan apa) jadi saksi bisu saat hewan itu sekali lagi berhasil melepaskan diri.

Tiga tempat, tiga kali lepas. Dan dari kejadian itulah nama kampung Sidondo lahir. Kemudian, mereka pun melanjutkan perjalanan dan menemukan sesuatu yang belum pernah mereka lihat, sebatang pohon kelapa. Buahnya enak, tanahnya pinggiran luar biasa. Labu dan jagung yang mereka tanam tumbuh besar hanya dalam tiga hari. Mereka menyebut tempat itu Kaluku Bula, pohon kelapa putih, dan memutuskan menetap di sana.

Tapi sebelum itu, satu hal harus diselesaikan, siapa yang menjadi pemilik tanah baru ini? Disepakati-lah sebuah cara, masing-masing berlomba menuju pohon tinggi tiro tasi (polyscias fulva) melalui jalur yang berbeda. Yang tiba lebih dulu, dialah pemimpinnya. Were memilih membawa tebu sebagai bekal, sedangkan Guri membawa mentimun. Dalam perjalanan, Were sibuk mengupas tebu sehingga perjalanannya menjadi lebih lambat. Oleh karena itu, Guri tiba lebih dulu.

Segera setelah kedatangan mereka, rupanya menarik perhatian orang-orang di pegunungan. Mereka turun, satu per satu, meminta tempat tinggal di dataran. Guri menerima semuanya, membagi wilayah dengan tertib: Lando ke Biromaru, Kalinjo ke Waro dan Petobo, Tagari ke Tatanga, Binggi njoi dan Dombu ke Binangga, dan penduduk Pegunungan Ulayo mendapat wilayah tempat Kota Palu berdiri sekarang. Tempat itu mereka namakan Wolo wulu Palu, bambu yang merambat, dalam bahasa Pamona disebut woyo payu.

Raper (1996), seorang ahli yang mendalami toponimi, ilmu tentang nama-nama tempat, pernah menjelaskan bahwa nama-nama geografis menyimpan rekam jejak sejarah manusia yang seringkali tidak bisa ditemukan di tempat lain. Nama lahir dari pengalaman. Dari bencana. Dari sumber daya alam yang melimpah. Dari orang-orang yang pernah tinggal di sana dan meninggalkan sesuatu, meskipun bukan batu nisan.

Menurut Kamonkran (2008), toponimi pada dasarnya adalah fenomena kebahasaan yang lahir dari bentang alam dan kehidupan masyarakat di suatu daerah. Di dalamnya ada jejak budaya lokal, bahasa, sejarah, sampai cara masyarakat berhubungan dengan lingkungannya sendiri. Oleh karena itu, pola penamaan tiap wilayah tentu tidak bisa disamakan. Setiap daerah mempunyai cara dan latar yang berbeda dalam memberi makna pada ruang di tempat mereka. Menariknya, nama-nama unsur geografis sebenarnya sudah ada jauh sebelum peta dibuat. Nama itu muncul dari kebutuhan paling awal manusia ketika mulai menetap di suatu tempat. Saat manusia pertama kali mendiami suatu wilayah, mereka mulai memberi nama pada sungai, bukit, hutan, atau bagian alam lain di sekitarnya sebagai cara untuk mengenali dan membedakan ruang hidup mereka.

Dan saya pikir itu sedang terjadi di banyak tempat sekarang.

Misalnya, beberapa nama-nama kampung yang menarik jika kita perhatikan, di antaranya Salumbavo, yang Merujuk pada sungai kecil di bagian atas atau wilayah di atas aliran sungai kecil. Ada juga Salumbone yang menggambarkan sungai kecil berpasir, sementara Salu Bai dimaknai sebagai sungai kecil yang kering. Dari sini terlihat bahwa sungai menjadi bagian penting dalam penamaan wilayah.

Nama lain juga punya kaitan yang kuat dengan kondisi geografis. Natura atau Tatura misalnya dimaknai sebagai runtuh, lalu Duyu yang berkaitan dengan longsor, Lonjo yang berarti tenggelam atau terendam, dan Kaombona yang merujuk pada tempat amblas atau runtuh. Penamaan seperti ini biasanya lahir dari pengalaman masyarakat menghadapi kondisi alam di sekitarnya.

Ada pula nama yang menggambarkan proses awal terbentuknya pemukiman. Karoya diartikan sebagai rintisan kampung baru, sedangkan Kinta Baru merujuk pada lahan baru yang dibuka untuk pemukiman. Poboya sendiri kurang lebih berarti tempat yang sejak awal diniatkan menjadi kampung.

Beberapa nama lainnya justru dekat dengan tumbuhan atau ciri lingkungan tertentu. Kamonji berarti sukun, Jono merujuk pada alang-alang, Nunu berarti beringin, dan Kaluku Bula dimaknai sebagai kelapa putih. Sementara Binangga berarti sungai, Tatanga diartikan sebagai kampung di tengah, dan Boya Oge berarti kampung besar.

Ada juga nama yang terdengar sederhana dan menyimpan makna simbolik, seperti Tondo yang berarti tanda, Panau sebagai tempat turun, atau Tompe yang dimaknai dipukul atau dihempas ombak. Bahkan Pusentasi dikenal dengan arti “pusat laut”, yang menampilkan hubungan masyarakat dengan ruang laut di sekitarnya.

Sebelum Semua Cerita Itu Hilang

Yang membuat saya gelisah, dan saya kira ini perlu dikatakan dengan jujur, adalah fakta bahwa banyak orang sekarang tinggal di suatu tempat tanpa memiliki hubungan apa pun dengan tanah yang mereka injak setiap hari.

Bukan salah mereka sepenuhnya. Modernisasi datang membawa banyak hal yang memang lebih mendesak, tagihan, pekerjaan, sekolah anak-anak, koneksi internet yang lambat. Tidak ada ruang di kepala untuk bertanya mengapa kampung ini diberi nama seperti ini dan bukan begitu. Tidak ada waktu untuk duduk mendengarkan orang tua bercerita tentang peperangan, wabah, banjir, tsunami, gempa bumi, dan likuefaksi yang sampai lahirlah nama tempat-tempat yang sekarang kita ketahui hari ini.

Tapi ada yang terasa kosong ketika hubungan itu terputus. Secara fisik mereka memang ada, setiap hari melewati jalan yang sama, melihat rumah-rumah yang sama. Tapi secara historis, mereka seperti menggantung di ruang kosong. Tidak benar-benar mengenal tanah yang dipijak, tidak paham kenapa kampung mereka tumbuh dengan karakter seperti sekarang, dan mengapa bentuknya menjadi seperti ini, bukan yang lain.

Dan yang lebih meyakinkan lagi, mereka tidak tahu bahwa mereka tidak mau mencari tahu. Mereka tidak merasa ada yang kurang. Karena memang tidak ada yang diketahui yang mengajarkan mereka bahwa ada sesuatu yang perlu.

Saya tidak sedang mengajak siapa pun untuk menjadi bersejarah. Itu tidak realistis dan juga tidak perlu.

Tapi saya kira ada sesuatu yang bisa dilakukan jauh lebih sederhana dari itu. Bertanya. Bertanya kepada orang yang lebih tua tentang nama-nama lama. Memperhatikan pola jalan di kampung dan mencoba membaca mengapa memutar berkelok di sini dan lurus di sana. Mencari tahu mengapa ada pohon yang tidak pernah ada yang berani menebang, padahal sudah tua dan condong berbahaya, pasti ada alasan, meskipun alasan itu mungkin sudah bergeser dari cerita aslinya.

Belajar tentang tempat bukan berarti tidak bisa maju. Justru sebaliknya, tanpa memahami mengapa sesuatu terjadi seperti ini, kita akan terus-menerus membuat keputusan yang salah tentang bagaimana cara mengubahnya. Kita akan menutup sungai yang sebetulnya masih berfungsi sebagai drainase alami. Kita akan merobohkan bangunan tua yang strukturnya masih lebih kuat dari bangunan baru yang dipasang di atasnya. Kita akan mengganti nama tempat dengan nama yang tidak berarti apa-apa, hanya agar terdengar lebih modern.

Suatu hari nanti, seseorang akan duduk di kafe atau di Rumah Makan Sidrap dan mendengar orang tua menyebut nama tempat yang berbeda dari yang ada di peta, lalu bertanya, dan tidak akan ada yang bisa menjawab. Karena yang tahu sudah tidak ada. Dan yang ada tidak pernah sempat bertanya.


메타데이터
post_id
26279ca0fd4e
slug
sebelum-ada-nama-dulu-ada-alasan-26279ca0fd4e
url
https://medium.com/@teukuimansyah99/sebelum-ada-nama-dulu-ada-alasan-26279ca0fd4e
canonical_url
https://medium.com/@teukuimansyah99/sebelum-ada-nama-dulu-ada-alasan-26279ca0fd4e
author_url
https://medium.com/@teukuimansyah99
status
ok
fetched_at
2026-06-24 04:09:36