hidden scars.
yoonhong wonhui | by sha.
hidden scars; tentang mas han dan segala kurangnya.
yoonhong wonhui | by sha.

Terkadang, menjadi dewasa dan memikirkan segalanya dengan matang itu tidak pernah jadi mudah. Sebab, manusia itu makhluk yang egois; lebih mementingkan kepuasannya sendiri dibandingkan dengan orang lain.
Hal-hal yang dianggap benar, mungkin bagi orang lain malah jadi pecahan kaca yang melukai kaki mereka tanpa sisa. Kadang pemikiran ataupun keputusan yang dianggap terbaik, justru bagi orang lain jadi ruang hampa yang begitu menyesakkan.
Sama halnya dengan apa yang Jeonghan renungi sekarang, cacatnya komunikasi antara dia dengan sang adik justru jadi batu yang mengenai kepalanya hingga hampir pecah.
Padahal harusnya ini semua tidak pernah terjadi.
Kalau saja dia bisa menahan emosi, mungkin Wonwoo tidak akan senekat itu untuk kabur.
Kalau saja segalanya bisa diselesaikan dengan kepala dingin, mungkin dia tidak akan sepanik ini saat mendengar adiknya harus berakhir dibawa ke rumah sakit.
Sayangnya, dia gagal membuat itu tidak terjadi.
“Mas, pelan-pelan jalannya, nanti kamu jatuh.”
Mungkin, sudah terhitung lebih dari belasan kali kalimat itu diucapkan oleh Joshua dengan suara cukup lantang saat Jeonghan menariknya dengan terbirit-birit menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Sementara Jeonghan lebih memilih untuk menghiraukan. Maniknya masih fokus memandang ke sekeliling, menatapi tiap-tiap ruang dengan harap agar dia segera bertemu Wonwoo, sang adik.
Segala rasa khawatir menumpuk jadi satu di kepalanya. Namun semua itu perlahan menghilang saat mata Jeonghan menangkap ada sosok Junhui yang tengah duduk di depan sebuah ruangan.
“Mas Han?” sapa lirih Junhui terdengar menggema di lorong rumah sakit yang menyepi. Dia langsung bangkit, menyambut Jeonghan yang kini menatap ke arahnya dengan panik.
“Juni, kamu nggak apa-apa? Nggak ada yang luka?”
Junhui mengangguk, dia merasa baik-baik saja. Namun dari sorot mata Junhui dan bekas air mata yang tertinggal di pipinya, Jeonghan tahu kalau pacar sang adik sedang tidak baik-baik saja.
“Mas tadi....”
“Duduk dulu Juni, tenangin diri kamu dulu, ya.”
Junhui menuruti. Dia duduk kembali di kursinya sembari menggigit bibir. Kepalan tangannya mengencang, dia terdiam sejenak, bingung harus memulai bercerita dari mana. Hingga satu helaan napas berat dia hembuskan dengan lirih, memberanikan diri menatap presensi kakak dari kekasihnya itu dengan begitu hati-hati, “Mas tadi waktu Nonu otw ke kosanku, Nonu jatuh di persimpangan jalan. Tadi ada yang nelpon aku karena nomerku ternyata dijadiin emergency call sama Nonu. Dan kata orang yang liat, Nonu ngehindarin ibu-ibu yang salah belok, terus—“
“Nggak apa-apa, Juni.” Jeonghan memotong ucapan Junhui yang masih gugup, mengelus punggung Junhui dengan pelan, “Nggak usah dipaksain kalau kamu memang belum siap. Nanti ceritanya pas udah balik aja, ya?”
Sementara Joshua duduk di samping Junhui, menyodorkan sebotol air kepadanya. “Ini minum dulu, Juni. Tenangin diri kamu dulu, ya.”
Junhui hanya mengangguk, menyesap sedikit air mineral yang Joshua berikan, sembari mengatur napasnya yang memburu sedari tadi.
“Nonu tadi parah nggak, Jun?”
Junhui memandangi yang lebih tua dengan takut-takut. “Nggak tahu, Mas. Waktu aku sampai disini Nonu udah dipindahin ke ruangan ini. Semoga aja sih... nggak parah sih, Mas.”
Jeonghan terdiam, dia bersandar di tembok dengan senyum kecut yang terlukis di bibirnya. “Amin, semoga nggak separah itu.”
Lalu, ada pintu yang terbuka beberapa saat setelah ketiganya berbincang dengan serius. Jeonghan jadi orang pertama yang menyapa dan menanyai bagaimana keadaan Wonwoo kepada orang-orang yang baru saja keluar dari ruangan itu. Pria dengan jas putih bersih—seorang dokter yang telah memeriksa Wonwoo, mengatakan segalanya baik-baik saja, Wonwoo hanya harus dirawat semalam dan boleh pulang besok pagi.
Ada lega yang tercetak dengan jelas di raut wajah Jeonghan, diikuti pula dengan Joshua dan Junhui yang mengekor di belakangnya.
Sang dokter banyak mengatakan ini dan itu kepada Jeonghan, pemuda itu hanya mengangguk kemudian membiarkan sang dokter dan beberapa perawat meninggalkan mereka bertiga.
Ketiganya masuk ke dalam ruangan itu, menatap Wonwoo yang terbaring dengan beberapa bagian tubuh yang dibalut perban; tangannya, lututnya, pergelangan kaki kirinya.
Lebih parah dari yang dibayangkan.
“Nonu.”
Jeonghan hendak berjalan mendekat, tetapi Wonwoo tidak memandangnya sama sekali; seolah-olah hadirnya disana tidak pernah ada. Adiknya itu justru hanya fokus menatap pacarnya dan mencoba memberi isyarat kepada Junhui untuk mendekat ke arahnya. “Juni, sini. Aku pengin sama kamu.”
Mungkin, wajar kalau Wonwoo belum sudi menatapnya untuk sekarang ini. Wajar kalau Wonwoo jauh lebih memilih Junhui dibandingkan dirinya sendiri sebagai seorang kakak Wonwoo. Sebab, Jeonghan tahu dia terlalu gegabah untuk ikut campur di keputusan adiknya.
Sebab, Jeonghan pun kadang menatap dirinya sendiri dengan rasa benci. Jeonghan tahu kalau pada kenyataannya dia gagal memahami, dia gagal mengerti.
Dia juga gagal mengayomi.
Dunia mungkin memandangnya sebagai sosok yang serba bisa, sosok yang mampu dan sanggup mendapatkan segala apa yang dia mau, tetapi kenyataannya Jeonghan punya segudang kekalahan-kekalahan yang tidak pernah orang lain tahu.
Tentang dia yang terkadang gagal menahan egonya sendiri. Tentang dia yang belum benar-benar memahami bagaimana caranya jadi seorang manusia yang baik, untuk dirinya sendiri dan juga untuk orang di sekelilingnya. Tentang dia yang masih perlu banyak belajar.
Ada kesal yang memenuhi rongga dadanya, entah marah karena sikap adiknya itu atau marah untuk dirinya sendiri, Jeonghan pun tidak paham. Namun genggaman tangan milik Joshua menahannya untuk tetap tenang. Ibu jari yang mengelus lembut punggung tangannya, membuat Jeonghan memilih mundur. Membiarkan Junhui mendekat ke arah sang adik dan duduk di kursi samping ranjang Wonwoo.
Wonwoo menggenggam erat tangan milik Junhui yang disambut dengan tatapan panik kekasihnya itu,
“Nu, sumpah kamu bisa nggak sih jangan gila sehari aja. Aku hampir sinting pas dapet telpon tadi.”
Wonwoo hanya terkekeh pelan, pemuda itu bergerak mengelus puncak kepala Junhui dengan lembut.
“Maaf ya, bikin kamu panik. Aku nggak apa-apa kok.”
“Jangan diulangin lagi.”
“Nggak kok, nggak bakalan.”
“Janji nggak?”
“Janji, Juni bawel.”
Tangan Wonwoo yang semula mengelus kepala Junhui, kini dia gunakan untuk mengacak pelan rambut pacarnya itu.
Jeonghan hanya terdiam, mengulum senyum miris dan kekehan tersembunyi di dalam dirinya sendiri. Karena bahkan tanpa diucapkan pun, Jeonghan sudah tahu kalau Junhui adalah satu-satunya tempat nyaman dan aman bagi Wonwoo.
Melihat bagaimana dua manusia itu berbincang satu sama lain, Jeonghan semakin sadar pada satu hal. Bahwa bersama dengan Junhui, Wonwoo jadi terlihat jauh lebih ceria. Dengan hadirnya Junhui, sisi Wonwoo yang tak pernah dia lihat muncul begitu nyata di depan matanya.
“Btw, Nu. itu ada Mas Han sama Kak Joshu. Kamu mau ngobrol berdua dulu kah sama Mas?” ujar Junhui, sembari menunjuk keberadaan Jeonghan yang sedari tadi diabaikan.
“Kalau cuma buat marah-marah doang, aku males ngomong. Besok aja kalau udah sembuh.”
Jeonghan langsung mendekat, berkata kepada adiknya itu dengan lirih. “Nggak perlu dipaksain kalau kamu belum pengin ngobrol sama Mas. Istirahat dulu. Biar kamu cepet sem—”
“Sekarang aja deh, Mas,” potong Wonwoo tiba-tiba. “Aku nggak mau nunda-nunda nanti malah masalahnya makin rumit. Selesaiin sekarang aja.”
Maka Junhui dan Joshua keluar dari ruangan itu, meninggalkan Jeonghan dan Wonwoo untuk berbicara berdua.
Jeonghan duduk di sebelah Wonwoo, memandangi adiknya itu dengan serius. “Tadi... parah banget kah kamu jatuhnya?”
Wonwoo mengangguk, “mau ngehindari ibu-ibu tapi malah apes. Untung tadi jatuhnya ke pinggir, kalau ke tengah nggak tahu deh. Kayanya bisa ma—“
“Jangan gitu ngomongnya.” Tangan Jeonghan langsung menggenggam tangan milik Wonwoo, memotong ucapan adiknya agar tidak menyebutkan kata itu. “Mas takut.”
“Maaf bikin Mas khawatir.”
Jeonghan menggeleng, “Mas yang harusnya minta maaf ke kamu. Harusnya Mas nggak gegabah kaya tadi. Maaf ya, Mas tadi nggak bisa nahan emosi. Mas nggak bermaksud buat selancang itu ngecek catatan kamu, Nu. Itu tadi ada di meja dan nggak sengaja Mas baca.”
Wonwoo hanya menghela napasnya lirih, “Aku tuh nggak pernah kepikiran macem-macem, Mas. Apapun yang ada di catatanku cuma hal-hal yang pengin aku lakuin. Mas pernah bilang sendiri kan, hidup itu harus punya setidaknya satu mimpi. Itu mimpi-mimpiku Mas, walaupun belum tahu bisa terwujud atau nggak.”
Jeonghan ingat, selalu ingat, kata-kata itu memang selalu dia ucapkan kepada adik-adiknya. Jeonghan tidak pernah banyak menuntut, setidaknya itu yang dia rasakan, keinginannya hanya satu; dia ingin adik-adiknya jadi orang baik. Jauh lebih baik dibanding dirinya. Sayangnya, ada hal-hal yang di luar kendalinya, yang bahkan tidak bisa dia pahami.
“Kenapa sampai harus pindah ke luar negeri bahkan ke Eropa? Mas cuma penasaran aja.”
Wonwoo melukiskan senyum tipis, matanya beralih ke langit-langit ruangan itu sebelum kembali menatap Jeonghan.
“Aku pengin bahagiain Juni.”
Ada hening barang sedetik diantara mereka, sebelum akhirnya Wonwoo kembali melanjutkan dengan tetesan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya.
“Kaya yang Mas Han lakuin buat Kak Joshu, Mas pasti pengin liat Kak Joshu bahagia, ‘kan? Aku juga pengin, Mas. Disini tuh, Juni udah terlalu banyak ngerasain sakit. Walaupun di depan semua orang dia keliatannya baik-baik aja, tapi dia sering banget nangis karena ngeliat orang tuanya rebutan dia. Aku ngerti ini kaya nggak masuk akal, tapi selama ini, jujur Juni itu peganganku, Mas. Segila-gilanya aku ngejalanin hariku, kalau ada Juni, aku selalu ngerasa tenang. Aku nggak pengin liat orang yang jadi alasanku buat tetep semangat hidup sedih terus-terusan. Aku pengin dia bener-bener lepasin rasa sakitnya, Mas. Setidaknya, jauh dari orang-orang yang bikin dia sedih.”
Mendengar kalimat panjang yang diucapkan Wonwoo, Jeonghan hanya mengangguk. Dia semakin sadar kalau adiknya itu sudah benar-benar dewasa. Bahwa adiknya juga punya hak untuk pilihannya sendiri. Di titik itu, Jeonghan tidak mampu menjawab apapun dan memilih membiarkan Wonwoo untuk mengeluarkan segala perasaan yang mungkin selama ini adiknya itu pendam sendirian.
“Nu, apapun pilihan kamu, yang penting kamu bisa tanggung jawab sama semua itu, ya. Mas ngerti kok segitu sayangnya kamu sama Juni. Maaf ya, Mas harusnya bisa sedikit ngertiin pilihan kamu dan nggak harusnya kaya gini.”
“Iya, Mas. Maaf juga ya, Nonu bikin masalah kaya gini sampai jatuh dan harus masuk rumah sakit.”
Sesegukan sudah tidak lagi terdengar, air mata Wonwoo juga tidak lagi jatuh menetes di pipinya. Jeonghan mengelap air mata Wonwoo dengan sebuah tisu, pun pula memberikan air minum kepada adiknya.
“Nggak apa-apa, Nu. Namanya orang kena musibah kan nggak bakal ada yang tahu. Oh iya, Mas belum ngomong ke bapak sama ibu tentang keadaan kamu. Maaf tadi Mas panik banget dan cuma kepikiran langsung ngecek kamu disini. Mau telpon?”
“Mas aja yang bilang. Jangan ngomongin masalah kita berdua. Bilang aja aku lagi apes.”
Panggilan kurang lebih 15 menit berlangsung, ada rasa panik yang terdengar dari panggilan itu tetapi Jeonghan dengan sigap langsung menenangkan sang ayah. “Tenang aja, Pak. Nanti masalah biaya, Mas yang urus aja. Nonu nggak apa-apa kok, Pak. Besok udah boleh pulang ke rumah.”
Jam jenguk sudah hampir berakhir, harus ada satu orang yang menjaga Wowwoo. Namun belum sempat Jeonghan menawarkan diri, Wonwoo berkata, “Mas pulang aja, aku pengin ditemenin sama Juni.”
Dan, di detik itu juga, daftar kekalahan Jeonghan bertambah.
Sepulang dari rumah sakit, Jeonghan tidak langsung kembali ke rumah. Dia memilih untuk menenangkan pikirannya sebentar sembari melihat lautan.
Disana, Joshua yang sedari tadi hanya terdiam kini menatap Jeonghan dengan lekat. Memberikan perhatian lebih kepada kekasihnya. “Capek banget ya, Mas?”
Jeonghan hanya terkekeh ringan sembari mengangguk. Tangan miliknya kini mengelus puncak kepala Joshua dengan lembut. “Lumayan, Sayang. Mas lagi agak puyeng mikir ini itu.”
“Maaf banget aku nggak bisa bantu apa-apa, Mas.”
“Kata siapa? Kamu disini dan nemenin Mas, udah bikin Mas seneng, Sayang.” Jeonghan membiarkan bibirnya melukis senyum, merapatkan jarak diantara dirinya dan sang kekasih sebelum mengecup pipi Joshua. “Adanya kamu disini udah bikin Mas ngerasa lega.”
“Syukur kalau kamu mikir gitu. Aku selalu ada buat kamu, Mas.”
Keduanya saling melemparkan senyum.
“Kalau Mas pengin ngerokok bentar, boleh nggak, Sayang?”
Pertanyaan itu hadir memecah keheningan diantara mereka, membuat Joshua yang tadinya asyik menatap ombak yang menyapu pasir kini mengalihkan pandangannya pada sang kekasih. Dengan senyum tipis, tanpa ada penghakiman.
“Boleh kok, emangnya kapan aku ngelarang kamu, Mas?”
Jeonghan tersenyum, setengah miris. Benar. Tidak pernah, tidak sekalipun, dia mendapatkan larangan yang dia takutkan.
Jeonghan kecil, dulunya selalu diberi kasih sayang tanpa batas, melakukan apapun yang dia inginkan, hingga suatu hari kebebasan itu justru membuat dia memandang dunia dengan tidak benar dan begitu rumit. Membawanya pada Jeonghan dewasa yang justru hidup dalam kurungan ketakutan yang dia ciptakan sendiri. Dia kadang terlalu takut mengambil banyak keputusan, terlalu ragu juga untuk menentukan.
Perlahan kepulan-kepulan asap mulai beterbangan dan menyatu dengan udara yang semakin dingin. Jeonghan terdiam, seolah-olah dihipnotis oleh bagaimana indahnya laut yang ada di depannya. Sementara Joshua memandangi kekasihnya itu dari samping dalam diam.
Dari jarak yang cukup dekat itu, Joshua bisa melihat dengan jelas segala rasa khawatir, kesedihan, dan juga kekecewaan yang berusaha Jeonghan tutupi dengan rapat. Jeonghan memang bukanlah manusia yang selalu sempurna, bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, karena sering kali dia menghadapi situasi yang tak pernah dia inginkan.
Sering kali dia terjebak dalam kebingungan.
Satu batang rokok telah habis dalam waktu yang singkat, hampir Jeonghan mengambil batang rokok kedua miliknya tetapi tangannya keburu ditarik oleh Joshua.
“Mas?” tanya Joshua, membuat Jeonghan langsung menatapnya. “Tadi kamu udah ngobrol sama Nonu, ‘kan? Ngobrolin apa aja?”
Jeonghan tidak langsung menjawab. Dia melepaskan tangan Joshua yang mencoba menahannya mengambil rokok, sembari tersenyum tipis. “Satu lagi ya, Sayang? Nanti sambil Mas ceritain yang tadi.”
Kalau Jeonghan sudah punya kemauan, maka Joshua tidak punya kemampuan untuk menahannya. Jadi, dia hanya bisa mengangguk dan mempersilakan Jeonghan untuk kembali menyesap rokoknya. Membiarkan kekasihnya itu melepaskan rasa stresnya.
“Joshu, Mas tuh kadang bego banget, ya?” ujar Jeonghan sambil terkekeh, menertawai dirinya sendiri. “Mas selalu bikin banyak masalah, selalu ngecewain banyak orang. Mas gagal jadi seorang kakak buat adik-adik Mas.”
Ada perih yang tergores di hati Joshua, pemuda itu langsung meraih salah satu tangan Jeonghan dan menggenggamnya erat. “Mas, kenapa mikir gitu?”
“Tadi... Mas nanya ke Nonu tentang rencana dia yang abis lulus kuliah mau nikah terus pindah ke Eropa.”
Jeonghan menunduk, mengelus jemari Joshua yang tengah bertaut dengan miliknya. Rokok yang baru dia nyalakan itu, dia matikan. Maniknya kini beralih ke arah sang kekasih yang masih menawarkan telinganya untuk mendengarkan cerita Jeonghan.
“Jawaban dan alasan Nonu bikin Mas sadar kalau dia tuh udah bener-bener dewasa, Sayang. Dia bukan lagi remaja yang lebih mentingin egonya sendiri, dia bahkan mikirin kebahagiaan orang lain. Nggak kaya Mas yang bahkan cuma mikirin diri Mas sendiri, jujur Mas malu. Kalau Mas bisa sedikit aja ngertiin, keadaannya nggak akan kaya tadi. Mas tadi bingung, soalnya Mas bener-bener sedih.”
Mendengar itu, Joshua mengangguk. Dilepas genggam tangannya dari tangan milik Jeonghan lalu dia mengelus punggung Jeonghan yang ada di sampingnya itu dengan lembut.
“Mas, wajar kok kamu ngerasa sedih. Kamu pengin keluarga selalu kumpul bareng dan tiba-tiba adik kamu punya pilihan lain dan nggak semua hal sesuai kaya keinginan kamu.” Tangan Joshua yang mengelus punggung Jeonghan berganti jadi sebuah rangkulan. “Aku juga udah bilang berkali-kali kan, Mas. Nggak semua orang paham jalan pemikiran kita, bahkan kita sendiri pun kadang nggak paham. Kamu pun jangan terlalu mengekang adik-adik kamu. Mereka udah gede dan juga punya pilihan mereka sendiri. Tapi kamu nggak gagal kok, Mas. Kamu nggak bego sama sekali. Kamu hebat, Mas. Dan yang harus dilakuin sekarang, kamu cuma harus jadiin itu pelajaran buat ke depannya. Jangan gitu lagi, ya?”
Ada anggukan lirih yang bisa Joshua lihat dari sudut pandangnya. Jeonghan melukis senyum tipis, menatap Joshua dengan mata yang kini memerah; sebab segala tangis sudah berkumpul disana. “Iya, Sayang. Mas nggak mau gini lagi. Makasih banyak ya udah bikin Mas makin sadar.”
Joshua tersenyum, dia mendekatkan dirinya kepada Jeonghan. “Mas, mau peluk?”
Jeonghan hanya mengangguk, menyandarkan kepalanya di bahu Joshua. Seketika tangis Jeonghan pecah dalam peluk Joshua. Segala perasaan campur aduk yang terpendam dalam hatinya seolah menguap bersama udara.
Kalau Wonwoo punya Junhui sebagai pegangannya, maka Jeonghan punya Joshua sebagai bahu sandarannya. Tempat dimana dia bisa menjadi dirinya sendiri, tempat dimana dia bisa menunjukan segala lemah dan kurangnya tanpa takut dihakimi.
Hadirnya Joshua di sampingnya adalah hal yang selalu Jeonghan syukuri tiap harinya. Mungkin memang benar bahwa mereka memang ditakdirkan untuk satu sama lain. Bahwa mereka seperti potongan puzzle yang mengisi kurang dan lebih satu sama lain.
Mereka melepaskan pelukan itu, saling bertatap dalam diam. Tangisan yang pecah kini berganti jadi senyum yang terlukis dengan indah di bibir.
Perlahan Jeonghan mendekatkan dirinya kepada sang kekasih. Dia dengan lembut menyatukan bibir mereka. Ciuman itu berakhir dengan singkat, begitu penuh cinta dan tanpa tuntutan.
“Apapun keadaannya, tetep ada buat Mas ya? Mas sayang banget sama kamu, Joshu.”
Joshua mengangguk, dia mengelus pipi Jeonghan yang masih basah dengan lembut.
“I will always be there for you, loving you unconditionally and endlessly, Mas Han.”
— fin.
메타데이터
- post_id
- 263e4cd2f8bf
- slug
- hidden-scars-tentang-mas-han-dan-segala-kurangnya-263e4cd2f8bf
- url
- https://medium.com/@yeshabila/hidden-scars-tentang-mas-han-dan-segala-kurangnya-263e4cd2f8bf
- canonical_url
- https://medium.com/@yeshabila/hidden-scars-tentang-mas-han-dan-segala-kurangnya-263e4cd2f8bf
- author_url
- https://medium.com/@yeshabila
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-25 11:21:33