← Back to list

Kisah Nabi Samuel dalam Al Quran dan Alkitab

Nama Nabi Samuel tidak disebutkan dalam Al Qur’an. Namun, Al Qur’an menyebutkan kisahnya dalam QS. Al Baqarah 2: 246.

Wiji Al Jawi in Islampedia · 2025-10-08 09:22 · 0 claps · 7.8 min read
#samuel #saul #thalut
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Kisah Nabi Samuel dalam Al Quran dan Alkitab

Photo by Igor Rodrigues on Unsplash

Photo by Igor Rodrigues on Unsplash

Tulisan sebelumnya menceritakan bahwa pasca wafatnya Nabi Harun dan Nabi Musa, Nabi Yusya/Yosua bin Nun memimpin Bani Israel menaklukkan sebagian besar Tanah Kanaan.

Pada masa Nabi Yosua, Bani Israel menunjukkan ketaatan kepada Tuhan (Kitab Yosua 24:31). Namun, setelah Nabi Yosua wafat, ketaatan generasi berikutnya mulai menurun (Kitab Hakim-hakim 2:8–10).

Pasca Nabi Yosua

Saat itu, suku-suku Israel membentuk konfederasi yang longgar. Tidak ada persatuan, dan terjadi penurunan standar moral.

“Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” (Kitab Hakim-hakim 21:25)

Periode pasca wafatnya Nabi Yosua disebut sebagai Masa Hakim-Hakim, yang ditandai dengan pola berulang:

  1. Bani Israel terpengaruh agama tradisional penduduk setempat sehingga menjadi kalah oleh musuh-musuh mereka (Kitab Hakim-hakim 2:11–15).

  2. Tuhan membangkitkan pahlawan, yang disebut Hakim, yang menolong Bani Israel (Kitab Hakim-hakim 2:16–18).

  3. Setelah Hakim tersebut wafat, Bani Israel kembali terpengaruh agama tradisional penduduk setempat (Kitab Hakim-hakim 2:19).

“Demikianlah mereka meninggalkan Tuhan dan beribadah kepada Baal dan para Asytoret.” (Kitab Hakim-hakim 2:13)

Baal adalah dewa hujan dan petir menurut bangsa Kanaan. Kepercayaan ini menginspirasi hadirnya Dewa Zeus di Yunani, dan Dewa Jupiter di Romawi.

Baal dianggap memiliki istri yang bernama Asytoret, yaitu dewi kesuburan menurut bangsa Kanaan. Kepercayaan ini menginspirasi hadirnya Dewi Aphrodite di Yunani, dan Dewi Venus di Romawi.

Hujan dan kesuburan adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh peradaban di masa lalu. Sehingga dewa yang dianggap berperan mengatur hujan dan kesuburan pun menempati posisi penting di masyarakat.

Pada masa Hakim-Hakim tersebut, ada enam Hakim Besar dan sekira enam atau tujuh Hakim Kecil yang “menghakimi” Bani Israel secara bergantian.

Hakim Besar terakhir adalah Samson, yang dalam literatur Arab disebut Syam’un al-Ghazi.

Setelah Samson wafat, di masa Hakim Kecil Eli, Bani Israel mengalami kekalahan dari orang Filistin, di mana Tabut Perjanjian dirampas. Eli pun meninggal ketika mendengar kabar tersebut. (Kitab 1 Samuel 4)

Tabut Perjanjian telah dibahas secara singkat pada tulisan Kisah Bani Israel Menolak Perintah Jihad. Kekalahan ini menunjukkan bahwa Tabut Perjanjian saja tidak cukup untuk menjamin kemenangan.

Kekalahan Bani Israel disebabkan oleh dosa-dosa yang membuat Allah meninggalkan mereka. Namun, alih-alih bertaubat, mereka malah memperlakukan Tabut Perjanjian seperti jimat keberuntungan.

Ilustrasi Tabut Perjanjian (Live Science)

Ilustrasi Tabut Perjanjian (Live Science)

Murid Eli, yaitu Nabi Samuel, kemudian memimpin Bani Israel untuk bertaubat dari penyembahan berhala. (Kitab 1 Samuel 7:3)

“Kemudian orang-orang Israel menjauhkan para Baal dan para Asytoret dan beribadah hanya kepada Tuhan.” (Kitab 1 Samuel 7:4)

Mereka juga berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: “Kami telah berdosa kepada Tuhan.” Dan Samuel menghakimi orang Israel di Mizpa. (Kitab 1 Samuel 7:6)

Ketika orang Filistin mendengar bahwa orang Israel telah berkumpul di Mizpa, majulah raja-raja kota orang Filistin mendatangi orang Israel. (Kitab 1 Samuel 7:7)

Maka orang Israel berperang melawan orang Filistin. Pada hari itu Tuhan mengacaukan orang Filistin, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel. (Kitab 1 Samuel 7:10–11)

Nabi Samuel dan Saul

Nama Nabi Samuel tidak disebutkan dalam Al Qur’an. Namun, Al Qur’an menyebutkan kisahnya dalam QS. Al Baqarah 2: 246.

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israel sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”.

Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”.

Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?” (tempat tinggal dan anak-anak mereka dirampas).

Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. (QS. Al Baqarah 2: 246)

Dalam Alkitab, kisah ini disebutkan dalam Kitab 1 Samuel 8. Para pemimpin suku Israel meminta Samuel untuk mengangkat seorang raja agar mereka memiliki pemerintahan pusat yang bersatu.

Berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel (di rumahnya) di Rama, dan berkata kepadanya: “Engkau sudah tua … maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.” (Kitab 1 Samuel 8:4–5)

Samuel lalu memperingatkan mereka tentang konsekuensi memiliki seorang raja.

Katanya: “Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya.” (Kitab 1 Samuel 8:11)

“Dari gandummu dan hasil kebun anggurmu akan diambilnya sepersepuluh dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawai istananya dan kepada pegawai-pegawainya yang lain.” (Kitab 1 Samuel 8:15)

Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata: “Tidak, harus ada raja atas kami; maka kamipun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain.” (Kitab 1 Samuel 8:19–20)

Tuhan berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka.” (Kitab 1 Samuel 8:22)

Tuhan lalu mewahyukan Samuel bahwa Saul, dari suku Benyamin, akan menjadi raja atas Israel (Kitab 1 Samuel 9:15–16). Samuel kemudian bertemu Saul yang sedang mencari keledai ayahnya yang hilang.

Samuel pun memberi tahu Saul agar tidak mengkhawatirkan keledainya yang hilang, dan mengalihkan fokusnya ke masalah yang lebih penting, yaitu tugas sebagai raja Israel. (Kitab 1 Samuel 9:20)

Samuel lalu memanggil bangsa Israel ke Mizpa untuk memperkenalkan Saul sebagai orang yang akan menjadi raja bagi bangsa Israel. (Kitab 1 Samuel 10:17)

Lokasi Mizpa dan Rama di sebelah utara Laut Mati (freebibleimages)

Lokasi Mizpa dan Rama di sebelah utara Laut Mati (freebibleimages)

Saul adalah Thalut

Di dalam Al Qur’an, Saul disebut Thalut (طَالُوتَ). Nama طَالُوتَ berasal dari kata طَوِيْل yang dalam Kamus Online Almaany berarti “panjang, tinggi, jangkung.”

Di dalam Alkitab disebutkan bahwa Saul memiliki tubuh yang lebih tinggi daripada rata-rata orang Israel.

“Ketika ia berdiri di tengah-tengah orang-orang sebangsanya, ternyata ia dari bahu ke atas lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya.” (Kitab 1 Samuel 10:23)

Oleh karena itu, Thalut adalah julukan bagi Saul yang memiliki tubuh jangkung atau lebih tinggi dari rata-rata orang Israel.

Dalam QS. Al Baqarah 2: 247, diceritakan bahwa Nabi Samuel mengumumkan Thalut sebagai raja bagi Bani Israel. Namun, para pemuka Bani Israel mencela raja yang baru diangkat tersebut.

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.”

Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?”

Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.”

Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah 2: 247)

Para pemuka Bani Israel menganggap diri mereka sendiri, atau salah satu dari mereka, yang lebih berhak untuk menjadi raja karena mereka memiliki kekayaan yang besar.

Padahal, jika salah satu dari mereka yang diangkat menjadi raja, mereka tetap akan saling mencela dan memperebutkan jabatan tersebut.

Di dalam Alkitab, Saul (Thalut) pun sudah menyampaikan kekurangan status sosialnya.

Tetapi jawab Saul: “Bukankah aku seorang suku Benyamin, suku yang terkecil di Israel? Dan bukankah kaumku yang paling hina dari segala kaum suku Benyamin?” (Kitab 1 Samuel 9:21)

Namun, Nabi Samuel dalam QS. Al Baqarah 2: 247 menyampaikan bahwa Thalut menjadi raja karena ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa. Jadi, kekayaan dan status sosial bukanlah syarat untuk menjadi raja.

Kitab 1 Samuel 10:27 juga menyebutkan ada sekelompok orang yang menghina dan mempertanyakan kemampuan Thalut untuk menyelamatkan mereka. Namun, Thalut pura-pura tidak mendengar.

Nabi Samuel dalam QS. Al Baqarah 2: 248 kemudian menyampaikan bahwa tanda Thalut akan menjadi raja adalah kembalinya Tabut Perjanjian.

Sebelumnya telah disebutkan bahwa Tabut Perjanjian dirampas oleh orang Filistin pasca Bani Israel mengalami kekalahan di masa Eli.

Tabut itu lalu dibawa ke beberapa kota milik orang Filistin, seperti Asdod dan Gat. Namun, kehadiran Tabut di antara mereka malah membawa bencana dan wabah.

Lokasi Asdod dan Gat di pesisir barat Tanah Kanaan (wikipedia)

Lokasi Asdod dan Gat di pesisir barat Tanah Kanaan (wikipedia)

Orang Filistin mengambil tabut Allah itu, dibawanya masuk ke kuil Dagon dan diletakkannya di sisi Dagon. (Kitab 1 Samuel 5:2)

Dagon adalah dewa yang disembah di Suriah kuno, dan dianggap sebagai bapak para dewa (seperti dewa Enlil di Mesopotamia), dewa kemakmuran, penguasa tanah, dan sumber legitimasi kerajaan.

Tetapi ketika keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut Tuhan, tetapi kepala Dagon dan kedua belah tangannya terpenggal dan terpelanting ke ambang pintu, hanya badan Dagon itu yang masih tinggal. (Kitab 1 Samuel 5:4)

Tangan Tuhan menekan orang-orang Asdod itu dengan berat dan Ia membingungkan mereka: Ia menghajar mereka dengan borok-borok, baik Asdod maupun daerahnya. (Kitab 1 Samuel 5:6)

Orang-orang Asdod lalu memindahkan Tabut Perjanjian ke kota Gat. (Kitab 1 Samuel 5:8)

Maka tangan Tuhan mendatangkan kegemparan yang sangat besar atas kota itu; Ia menghajar orang-orang kota itu, anak-anak dan orang dewasa, sehingga timbul borok-borok pada mereka. (Kitab 1 Samuel 5:9)

Kemudian berkumpul semua raja kota orang Filistin itu dan berkata: “Antarkanlah tabut Allah Israel itu; biarlah itu kembali ke tempatnya, supaya jangan dimatikannya kita dan bangsa kita.” (Kitab 1 Samuel 5:11)

Mereka lalu meletakkan Tabut Perjanjian di atas kereta yang ditarik oleh dua ekor sapi, dan membiarkan sapi-sapi tersebut membawa kereta itu pergi. (Kitab 1 Samuel 6:7–9)

Ibnu Katsir dalam Kisah Para Nabi menyebutkan pendapat bahwa malaikat menggiring sapi-sapi ini hingga sampai di tengah-tengah Bani Israel.[1]

Perbedaan dalam Al Qur’an dan Alkitab

Terdapat perbedaan antara Al Qur’an dan Alkitab dalam kisah Saul (Thalut). Di antaranya adalah Alkitab menyebutkan bahwa Tabut Perjanjian telah dikembalikan jauh sebelum Thalut diangkat menjadi raja.

Perbedaan lainnya adalah kisah Thalut yang meminta pasukannya tidak meminum air sungai lebih dari seciduk tangan, di mana hanya sebagian kecil pasukan menaati perintah tersebut (QS. Al Baqarah 2: 249).

Baik Al Qur’an maupun Alkitab sama-sama menyebutkan bahwa pelajaran dari kisah ini adalah kemenangan tidak datang dari kekuatan dan jumlah manusia, melainkan dari Tuhan.

Namun, di dalam Alkitab, tokoh utama kisah ini adalah Gideon yang menjadi Hakim Besar Bani Israel saat mereka ditindas oleh orang Midian. (Kitab Hakim-hakim 7)

Sebelumnya, dalam tulisan Kisah Sapi Betina dalam Al Quran dan Alkitab, telah dijelaskan bahwa Al Qur’an adalah penentu kebenaran kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya (QS. Al Maa’idah: 48).

Sehingga, jika ayat dalam kitab sebelumnya sama dengan Al Qur’an maka ayat tersebut benar. Namun, jika ayat dalam kitab sebelumnya berbeda dengan Al Qur’an maka ayat tersebut salah.

Oleh karena itu, terkait adanya perbedaan antara Al Qur’an dan Alkitab dalam kisah Saul (Thalut), maka kisah yang benar adalah versi yang diceritakan dalam Al Qur’an.

Dalam versi Alkitab pun, kisah Thalut menunjukkan adanya anakronisme atau kesalahan penempatan objek ke dalam konteks waktu atau kronologi sejarah.

Thalut hidup pada abad ke-11 SM. Namun, Kitab 1 Samuel 9:8 menyebutkan bahwa Thalut menggunakan mata uang seperempat syikal perak. Padahal, mata uang ini baru digunakan pada abad ke-4 SM.[2]

Koin syikal perak yang dicetak di Yerusalem pada abad ke-1 M (wikipedia)

Koin syikal perak yang dicetak di Yerusalem pada abad ke-1 M (wikipedia)

Dalam tulisan Kisah Nabi Ayub dalam Al Quran dan Alkitab, juga telah dijelaskan bahwa banyak bagian Alkitab Perjanjian Lama yang disusun berdasarkan informasi pada periode Helenistik (abad ke-4 SM hingga ke-1 SM).

Penyusunan Septuaginta sebagai kanon Alkitab Ibrani pada periode Helenistik dilakukan dengan menambahkan penafsiran-penafsiran yang malah mengubah kandungan kitab suci.

Hal inilah yang menyebabkan banyak terdapat perbedaan antara Al Qur’an dan Alkitab, termasuk dalam kisah Thalut.

Wallahu A’lam

[1] Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, (Jakarta: Ummul Qura, 2015), hlm. 735.

[2] The Shekel, Coin World, diakses pada 8 Oktober 2025.


메타데이터
post_id
2672cd2fc55c
slug
kisah-nabi-samuel-dalam-al-quran-dan-alkitab-2672cd2fc55c
url
https://islampedia.id/kisah-nabi-samuel-dalam-al-quran-dan-alkitab-2672cd2fc55c
canonical_url
https://islampedia.id/kisah-nabi-samuel-dalam-al-quran-dan-alkitab-2672cd2fc55c
author_url
https://medium.com/@wiji-aljawi
status
ok
fetched_at
2026-06-24 11:06:28