Perihal Rasa Suka
Definisi waktu yang terlambat atau memang dia bukan orang yang tepat ?
Perihal Rasa Suka

source: pinterest.com
Pernah gak sih , ketika kamu sedang suka atau having a crush pada seseorang, kamu begitu berharap bisa berinteraksi atau minimal berpapasan dengannya? Aku rasa semua orang pernah mengalami ini. Termasuk juga aku.
Selama aku menyukai seseorang, nggak jarang aku membayangkan momen-momen kecil yang mungkin terjadi antara kami. Saat menuju kantin, misalnya, aku berkhayal akan melewati meja di mana dia dan teman-temannya biasa duduk menikmati makan siang. Mungkin pandangan kami akan bertemu, mungkin akan ada senyum kecil, atau bahkan sapaan sederhana. Ketika aku mendaftar untuk ikut kepanitiaan atau organisasi di kampus, dalam pikiranku, ada sedikit harapan bahwa dia mungkin akan memilih divisi yang sama, sehingga peluang untuk bertemu dan berinteraksi semakin besar. Bahkan, hal sesederhana berpapasan di depan lift pun sudah cukup untuk membuat hati terasa hangat.
Namun, kenyataannya sering kali nggak sesuai harapan. Saat aku ke kantin, aku nggak pernah bertegur sapa atau sekedar melihatnya. Divisi kepanitiaan yang aku ikuti ternyata nggak ada namanya di situ — dia bahkan nggak mendaftar sama sekali. Begitu juga saat di depan lift, di gerbang kampus, atau sepanjang jalan pulang; pertemuan-pertemuan yang kuharapkan terasa begitu jarang terjadi.
Saat itu, jujur saja, rasanya cukup menyakitkan. Di fase “suka banget” ini, aku ingin sekali memberi makan perasaan itu dengan interaksi kecil, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Momen-momen kecil yang kuimpi-impikan tidak pernah terwujud.
Namun, seperti yang sering terjadi, perasaan itu pelan-pelan mereda.
Rasa suka yang dimulai dari dasar. Lalu, seiring waktu, interaksi kecil atau hal menarik dari dirinya yang tertangkap radarku membuat perasaan itu meningkat. Semakin tinggi, semakin intens sampai mencapai puncaknya. Tentu saja, ekspektasi akan interaksi atau kebetulan bertemu juga ikut meningkat. Namun, di sinilah kenyataan mulai bermain. Entah interaksinya yang berkurang atau ekspektasiku yang terlalu berlebihan, momen-momen itu tidak pernah terjadi seperti yang aku bayangkan.
Perlahan-lahan, perasaan itu menurun. Ketika perasaan itu tidak lagi diberi “makanan” berupa interaksi, tidak ada asupan yang membuatnya tetap di atas, maka perasaan itu akhirnya turun, turun, dan kembali ke dasar.
Lucunya, ketika aku pikir semuanya sudah selesai, setelah perasaanku mulai hilang, aku semakin sering berinteraksi dengannya. Kami justru mulai sering berinteraksi. Dia menyapaku ketika kami bertemu sepulang kuliah, mengucapkan selamat hari Minggu duluan setelah keluar dari gereja, bahkan kami akhirnya berada dalam satu kepanitiaan, dan ya, satu divisi yang sama! Pertemuan-pertemuan tak sengaja pun mulai terjadi lebih sering. Dan aku hanya bisa tertawa dalam hati, membayangkan betapa berbedanya reaksiku jika semua ini terjadi saat rasa sukaku masih di puncak. Kenapa baru sekarang, setelah perasaan sukaku sudah hilang? Dulu, saat aku masih berharap bisa sekadar menyapa, tidak pernah terjadi apa-apa. Kini, setelah semuanya berakhir, pertemuan yang kuimpikan malah datang bertubi-tubi.
Definisi waktu yang terlambat atau memang dia bukan orang yang tepat ?
Setelah merenungkannya, mungkin jawabannya adalah yang kedua. Tuhan punya cara-Nya sendiri untuk mengatur waktu yang tepat dalam hidupku dan aku percaya bahwa setiap interaksi yang terjadi antara kami juga bagian dari rencana-Nya. Tuhan tau akan bagaimana bahagianya aku saat itu ketika mengalami itu semua dan Tuhan juga tahu bagaimana sedih dan patah hati aku setelahnya ketika seiring berjalan waktu aku menyadari bahwa perasaan itu tidak pernah terbalas.
Tuhan tahu apa yang terbaik. Dia tepat menghentikan perasaan suka ini sebelum semakin tinggi, sebelum jatuhnya terlalu menyakitkan. Dia membuatku belajar bahwa bukan tentang apakah orang itu tepat atau tidak, tapi lebih kepada bagaimana aku memahami prosesnya — menyukai, merelakan, dan berdamai dengan kenyataan.
Sekarang aku belajar mengerti, mungkin perasaan yang tak terbalas ini hadir bukan untuk dimiliki, tapi untuk membentuk diriku sendiri. Dari situ, aku belajar bahwa kadang cinta tak selalu soal memiliki. Kadang, ia datang untuk membuatku tumbuh, untuk menunjukkan padaku bagaimana cara memahami waktu, cinta, dan diri sendiri.
Dan mungkin itulah yang sebenarnya paling penting.
메타데이터
- post_id
- 268990ea8d8d
- slug
- perihal-rasa-suka-268990ea8d8d
- url
- https://medium.com/@berrynumberry/perihal-rasa-suka-268990ea8d8d
- canonical_url
- https://medium.com/@berrynumberry/perihal-rasa-suka-268990ea8d8d
- author_url
- https://medium.com/@berrynumberry
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 07:40:21