Berkah dan Ilmu yang Berkah
Menuntut ilmu seyogiyanya tidak hanya mencari ijazah atau gelar saja, islam telah mengenal konsep berkah, yaitu di mana hal yang kita…
Berkah dan Ilmu yang Berkah
Menuntut ilmu seyogiyanya tidak hanya mencari ijazah atau gelar saja, islam telah mengenal konsep berkah, yaitu di mana hal yang kita lakukan akan melipatkan kebaikan di dalamnya baik dalam situasi apapun. Konsep ini memiliki satu syarat, yaitu iman.
Konsep berkah disebut juga barakah atau mabruk. Kata ini berasal dari kata kerja merujuk pada peristiwa di masa lalu (fi’il madhi), baraka. Imam An Nawawi berpendapat baraka adalah tumbuh, berkembang, bertambah dan kebaikan yang berkesinambungan. Al Ghazali mengatakan barakah adalah ziyadatulkhair ala kulli syai’ maknanya bertambahnya kebaikan atas segala sesuatu. Sementara dalam bahasa, berkah adalah karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Pendapat lain dari ArRaghib Al Asfahaniy mengartikan kata berkah dengan ast-stubut (ketetapan atau keberadaan) dan tsubut alkhayr alilahy (adanya kebaikan Tuhan). Buku Durus al’Am karya Syaikh Abdul Malik Al Qasimi mengartikan berkah/barakah sebagai adanya kebaikan yang berasal dari Allah pada suatu hal. Sesuatu yang sedikit jika mendapat berkah maka akan terasa banyak, sementara sesuatu yang banyak jika berkah maka akan terasa sangat besar manfaatnya.
Misal pada umur yang berkah, apabila pada usia yang pendek namun kebermanfaatannya dapat terasa lama. Harta yang sedikit juga dapat membawa berkah jika dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan. Sama dengan ilmu dapat menjadi berkah walau sedikit namun dapat diamalkan dengan baik.
Bagaimana ciri ilmu yang bermanfaat? Tujuan dari menuntut ilmu adalah amal (puncak ilmu). Esensi dari pengetahuan itu diamalkan. Manfaat mengamalkan ilmu itu menunjukkan manfaat umur dari seseorang yang hidup. Cara tahu apakah usia kita bermanfaat atau tidak, salah satunya dari sekian ilmu yang kita pelajari berapa banyak ilmu yang kita amalkan. Kalau dari setiap kita belajar kita amalkan, maka ilmu tersebut adalah berkah dan bermanfaat (Syeikh Hasyim).
Duduk dengan orang berilmu (berhadap-hadapan) sepertinya membaca satu perpustakaan. Apabila bertemu guru maka berhadap-hadapan, biar dapat barokahnya ilmu.
Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan ditanamkan pada hati yang berisi berbuat maksiat. Kalau ada orang berbuat maksiat, maka tertanam di hatinya akan tertanam noda hitam, nanti kalau terus-terusan akan menutup cawan hati. Maka ilmu yang masuk hanya akan jadi hafalan bukan amalan, hafalan hanya akan membuat orang pandai berdebat sementara amalan akan memudahkan individu dalam mencari hikmah untuk mencari kebenaran bukan hanya pembenaran. Apabila hati tertutup maka cahaya Allah tidak akan sampai kepada orang-orang yang bermaksiat. Sehingga disimpulkan ada dua macam ilmu, ilmu yang berkah dan yang tidak berkah. Ilmu yang berkah adalah cahaya, dan Allah adalah nuurun alannuur, Allah adalah pemberi sinar semua kebaikan, apabila hatinya bersih dan baik maka segala ilmu akan turun ke dalam hatinya.
Sumber: Kajian ustadz Adi Hidayat dan Abdul Somad
메타데이터
- post_id
- 26c18539e98f
- slug
- berkah-dan-ilmu-yang-berkah-26c18539e98f
- url
- https://medium.com/@itsdibah/berkah-dan-ilmu-yang-berkah-26c18539e98f
- canonical_url
- https://medium.com/@itsdibah/berkah-dan-ilmu-yang-berkah-26c18539e98f
- author_url
- https://medium.com/@itsdibah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 06:43:54