← Back to list

Rembulan

Saat ini Aika tengah berada di balkon apartemen, memandangi rembulan yang terlihat terang tanpa tertutup banyak awan.

Veyaaa · 2021-12-28 13:50 · 1 claps · 5.4 min read
#maje #aika
Open on Medium ↗

Rembulan

Saat ini Aika tengah berada di balkon apartemen, memandangi rembulan yang terlihat terang tanpa tertutup banyak awan.

Aika menghirup udara malam itu dalam-dalam, menikmati setiap hembusan angin yang menerbangkan rambutnya. Cukup damai, dan Aika menyukainya. Sepertinya balkon akan menjadi tempat favoritnya di apartemen Maje.

Sebenarnya Aika hanya ingin mencari suasana tenang tanpa seorang pun yang tahu bahwa dirinya butuh menenangkan diri dari semua hal yang melelahkan di dunia ini. Kata-kata jahat Kala, urusan hatinya dengan Hardy, bentakan Maje, penolakan dari Kala, dan juga rasa rendah dirinya yang semakin lama semakin membuat kepercayaan dirinya habis.

Kata gue juga apa Ai, lo jangan berurusan lagi sama orang kaya. Gak pernah dengerin sih!

Udah tau ujungnya bakal gimana sama orang kaya, masih aja nekat buat maju.

Udah cukup lo direndahin mulu sama mereka selama SMA, tolong jangan ulangin lagi.

Jangan bikin Lopi, Cassie, Mila, sama Davka susah lagi, mereka udah kesusahan ngadepin tingkah lo, jangan bawa mereka ke dalam masalah lo lagi.

Gue tau walaupun lo gak ngarepin apa-apa dari Maje dan pernikahan ini, tapi lo pasti sakit hati Ai. Lo harus berkaca, lihat diri lo. Lo siapa dia siapa Ai.

Kalian gak sebanding!!

Jadi please stop di sini, jangan lebih jauh lagi!

Kata-kata itu silih berganti memenuhi kepala Aika, membuatnya mengibas-ngibaskan tangannya di sekitar kepala. Berharap seluruh suara-suara aneh itu pergi.

“Enyah!!” Aika menggeram.

Kemudian menenggelamkan kepala ke lututnya. Punggungnya bergetar pelan, tidak ada suara. Dirinya menangis dalam diam.

Aika tahu, Aika tahu semua itu. Tapi tolong jangan diperjelas lagi.

Aika lelah.

Aika hanya ingin menjalani hidup ini dengan bahagia, Aika bahkan tidak pernah meminta hal yang muluk kepada Tuhan. Tapi kenapa? Kenapa dirinya selalu berurusan dengan hal seperti ini.

Aika tahu.

Aika tahu jelas posisinya, dia sadar diri tidak pantas untuk Hardy maupun Maje, dia hanya orang biasa. Berbeda dengan Hardy dan Maje yang punya segalanya.

Dia hanya perempuan biasa yang seharusnya tidak ada di sini.

Posisi ini, seharusnya bukan miliknya.

Dia telah mengambil ini dari perempuan lain.

Aika kemudian mengangkat kepalanya, mengusap air mata di pipinya. Mengusap-usap pelan kepalanya sambil berulang kali mengatakan gak papa Aika, gak papa. Nanti juga lewat.

Setelah merasa cukup tenang, Aika mengambil ponselnya. Memotret bulan yang terlihat bulat sempurna malam ini.

Setelah itu, dia mengunggahnya di instagram story.

Tidak berapa lama, ada satu pesan masuk dari Hardy. Terlihat dari pop up pesan tersebut sepertinya Hardy sudah melihat foto yang diunggahnya di instagram story.

[hardyanoo]

Lo lagi sedih ya Ai?

Jangan nangis sendiri Ai

Lo selalu punya gue sebagai tempat lo berkeluh kesah

Gue akan selalu siap sedia buat dengerin setiap cerita lo

Jangan sedih Ai

Bulan malam ini gak secantik diri lo

Aika membalikkan ponselnya, tidak berniat membalas pesan Hardy. Dirinya sedang tidak ingin diganggu siapa-siapa malam ini.

Setelah puas memandangi langit, Aika berpikir kembali. Bagus Kala mengatakan itu di depannya. Jadi dia tahu bahwa musuh yang harus dihadapinya saat ini adalah Kala.

Dia harus kuat demi melawan Kala. Kancil kecil nakal itu sekarang telah berubah menjadi iblis kecil.

Baik, jika Kala sudah mengibarkan bendera perang, maka Aika sudah harus siap mengasah pedangnya. Dia tidak bisa bersantai-santai, atau dia akan mati terbunuh tanpa perlawanan.

Gue gak takut sama lo ya kancil kecil!!

Gue punya kaktus-kaktus gue, ya gak kaktus? Aika berucap dalam hati sambil menunjuk jejeran kaktus-kaktus kecil yang dibelinya tempo hari.

“Ya gak kaktus?” Aika bertanya kembali, namun bedanya kali ini dia menyuarakannya.

Tidak ada jawaban dari kaktus-kaktus itu, hanya ada hembusan angina yang semakin malam semakin kencang.

Aika sudah emosi dan berniat menyentil salah satu kaktus yang ada di hadapannya. Namun, sebelum tangannya menyentuh salah satu kaktusnya, tangan seseorang menahannya.

Membuat Aika menolehkan kepalanya ke atas.

Ada Maje di sana, tepat di belakangnya. Tangan lelaki itu menahan miliknya.

“Dia gak mungkin bisa ngomong.” Ucap Maje pelan. Lalu melepaskan tangannya. Meletakkan selimut di pangkuan Aika, menutupi kakinya yang hanya memakai dress pendek selutut.

Maje duduk di sebelahnya, ikut memandangi rembulan malam itu.

“Sejak kapan lo di sini?” Tanya Aika langsung, membuat atensi Maje teralih ke arahnya.

Lelaki itu mengerjapkan matanya pelan, sedikit tersentak ketika melihat bekas air mata di pipi Aika.

Meskipun pencahayaan di balkon ini tidak begitu terang, namun dia masih bisa melihat semuanya.

Bekas air mata itu membuat perasaanya menjadi tidak enak. “Baru aja kok.”

Aika membuang mukanya ke arah lain. Tidak ingin lama-lama menatap mata Maje. Takut Maje mengetahui bahwa dirinya menangis dalam diam di sini.

Sorry ya Ai atas perkataan Kala tadi. Lo pasti sakit hati, tapi gue tau Kala gak berniat begitu. Dia masih kecil, jadi wajar aja kalo emosinya masih meledak-ledak dan belum stabil.” Jelas Maje.

Aika berdecih pelan. “Tapi dia udah cukup besar buat bedain mana yang baik dan mana yang buruk Maje. Dia seharusnya udah tau mana kata yang pantas dan tidak pantas buat diucapin ke orang lain. Lo harusnya ngasih tau dia kalo itu gak baik, jangan malah mewajarkan hal seperti ini!!” Aika menjelaskan dengan menggebu-gebu. Dadanya naik turun karena terlalu emosi.

Maje meraih tangannya, lalu mengusapnya perlahan. Berharap dapat meredakan setiap emosi dalam diri Aika.

“Iya, iya maaf. Tadi udah gue kasih tau kok.”

“Bagus kalo gitu.”

Setelah itu hening panjang menerpa mereka berdua. Hanya terdengar suara hembusan angin dan kendaraan bermotor yang lalu lalang di bawah sana.

“Kala mungkin hanya cemburu sosial Ai, karena kakak satu-satunya yang dia punya sudah menikah dan memiliki istri. Mungkin dia berpikir bahwa kasih sayang gue buat dia akan berkurang. Maklum aja, selama sembilan belas tahun ini, hidup dia banyak bergantung sama gue.” jelas Maje pelan. Pikirannya menerawang jauh di sana.

Aika mengangguk mafhum. Dirinya hanyalah orang baru, jadi harus memahami semua keadaan ini.

Maje beralih ke arah Aika, kemudian menyentil pelan pelipisnya. “Jangan suka mikir aneh-aneh. Gue bilangin ini bukan buat ngasih lo red flag ya. Gue cuma mau lo tau, kalo niat Kala gak gitu ke lo. Dia sebenernya baik, kalian setipe. Cuma belum nemu momen yang cocok aja.”

Aika mengusap pelipisnya kemudian mendengus keras, bodo amat deh kalo Maje denger, emang itu rencana dia. Biar Maje denger kalo Aika jengah dengan kata-kata Kala gak niat gitu kok!

Halah setan, tetep aja mulutnya kayak petasan banting!!

Maje mengacak rambut Aika ketika melihat perempuan itu jengah dengan ucapannya. Membuat Aika mencak-mencak tak terima karena poni paripurna miliknya jadi berantakan oleh Maje.

Aika bangun dari duduknya kemudian memukul bahu Maje berulang kali dan membuat Maje tertawa keras.

Maje menangkap tangan kanan Aika, membuat keseimbangan perempuan itu goyah. Tangan Maje yang lain meraih pinggangnya mendekat seolah-olah Maje sedang memeluknya.

Mereka berdua beradu tatap, posisi Aika yang lebih tinggi dari Maje membuat lelaki itu mendongakkan kepalanya.

Aika menatap mata jernih Maje, mata yang seolah dipenuhi oleh bintang-bintang itu begitu indah. Tanpa sadar Aika mengusap mata itu, membuat Maje memejamkan matanya. Menikmati setiap usapan tangan perempuan itu di kelopak matanya.

Aika berhenti mengusap, yang serta-merta membuat Maje membuka matanya. Tepat di depan matanya, tersuguh paras ayu Aika.

Tangan kanan Maje beralih mengusap pipi Aika yang terasa dingin. Tangan besarnya itu mengalirkan kehangatan pada pipi kiri Aika, membuat Aika merasa nyaman dan memejamkan matanya.

Maje yang terbawa suasana memajukan wajahnya berniat mengecup bibir merah Aika yang sedikit terbuka.

Namun, tepat dua senti sebelum bibir mereka menyatu, Maje menghentikannya.

Bagai tertampar tangan tak kasat mata, Maje tersadar. Dia kemudian berbisik pelan. “Tidur Ai, udah malem.”

Aika yang mendengar pun tersadar dan membuka matanya lebar-lebar. Lalu terburu-buru melepaskan diri dari dekapan Maje. Menyelipkan rambut ke belakang telinganya.

“I-iya.” Ucapnya terbata.

Setelah itu dia bangun dan bergegas memasuki apartemen, saking gugupnya Aika, kakinya tidak sengaja menabrak kaki meja yang membuatnya mengaduh keras.

Maje berniat membantu, namun dengan segara Aika mengatakan tidak apa-apa, sambil berlagak bahwa kakinya baik-baik saja.

Setelah cukup meyakinkan, Aika dengan cepat melewati sliding door kaca, yang malah membuat bahunya tertabrak pintu tersebut.

Melihat kelakuan aneh istrinya itu membuat Maje tertawa keras di tempatnya.

Lucu banget sih!

Wajah paniknya lucu banget.

Maje terlihat sangat bahagia, namun tidak dengan seseorang di seberang sana. Hatinya terasa tercabik-cabik memperhatikan setiap adegan demi adegan yang tersuguh di depan matanya. Terutama saat Maje hampir berciuman dengan Aika.

Seseorang itu meraba dadanya. Sakit sekali menyaksikan semua ini secara langsung.

28-Des-2021

Veya


메타데이터
post_id
26d00973df5
slug
rembulan-26d00973df5
url
https://medium.com/@veryanaza/rembulan-26d00973df5
canonical_url
https://medium.com/@veryanaza/rembulan-26d00973df5
author_url
https://medium.com/@veryanaza
status
ok
fetched_at
2026-07-27 16:47:00