← Back to list

Interlude

"Pagi ke pagi ku terjebak di dalam ambisi. Seperti orang orang berdasi yang gila materi"

Terry Arie in Ruang Kontemplasi · 2026-03-10 21:07 · 169 claps · 3.3 min read
#bahasa-indonesia #ruang-kontemplasi #kontemplasi #gamer #simulator
Open on Medium ↗

Interlude

"Pagi ke pagi ku terjebak di dalam ambisi. Seperti orang orang berdasi yang gila materi"

Penggalan dari lagu Zona Nyaman itu tiba-tiba menghantam saya beberapa waktu lalu. Ia muncul ketika saya sedang menjalani hari yang terasa sama persis dengan hari-hari sebelumnya. Rutinitas yang berulang dan jujur saja ini semua terasa melelahkan.

Ada masanya hidup ini terasa seperti lorong panjang tanpa belokan. Kita berjalan di dalamnya setiap hari, dari bangun, bekerja, pulang, rebahan. Berulang-ulang secara otomatis. Alam bawah sadar saya sampai tidak perlu memikirkan apa pun lagi. Yang mana tubuh saya tetap hidup, tapi rasanya seperti sebagian diri saya tertinggal di belakang.

Kelelahan fisik datang duluan dan kelelahan emosional menyusul belakangan seperti bayangan.

Akhir-akhir ini saya menyadari sesuatu, saya sudah jarang sekali merasakan apa pun. Bahkan untuk hal-hal yang dulu membuat saya hidup seperti bersepeda, menulis dan membaca.

Saya berhenti melakukan hal-hal itu bukan karena saya tidak suka lagi, tapi karena saya merasa tidak benar-benar hadir.

Dan ironisnya, justru dari sesuatu yang paling tidak saya duga, saya menemukan kembali sesuatu yang hilang dari hidup saya.

Saya tidak sengaja menemukan ketenangan itu. Ia muncul dari sebuah tempat yang bahkan tidak sungguhan: kabin truk di dalam gim American Truck Simulator. Gim ini, entah bagaimana, memberi saya ruang untuk bernapas lagi.

Cover gim ATS

Cover gim ATS

Bukan karena ia seru, bukan karena grafiknya memesona. Tapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya merasakan kembali sebuah hal kecil yang sangat manusiawi, kendali.

Saya bisa memilih truk dan trayek mana yang saya ambil. Saya diberi kebebasan kapan berhenti dan kapan melaju. Hal-hal yang dunia nyata jarang memberi kesempatan untuk saya belakangan ini.

Ada ketenangan ketika saya menyetir di jalan virtual antarkota pada malam hari. Lampu-lampu kota semakin redup, radio mengalun pelan dan saya memegang kemudi sendirian. Jalanan lengang sepanjang ratusan kilometer, tapi justru di situlah saya merasakan bentuk ketenangan yang selama ini hilang.

Setiap saya berhasil mengantar barang tanpa kerusakan, ada rasa bangga kecil yang muncul. Progres exp saya terasa nyata. Bahwa saya semakin lama, semakin baik.

Di dunia nyata saya bekerja keras, tapi hasilnya sering kali tidak terlihat. Sedangkan di dunia maya, setiap langkah yang saya ambil seperti punya makna yang langsung terasa.

Dari perjalanan-perjalanan kecill membawa muatan dari Des Moines ke St Louis kemudian lanjut ke Dallas, saya mulai menyadari sesuatu yang terjadi selama berminggu-minggu, saya bukan sedang menjalani hidup saya. Saya sedang menyewa kursi penumpang di dalam hidup saya sendiri.

Rutinitas yang begitu rapi yang katanya zona nyaman justru berubah menjadi ruang yang menihilkan saya. Saya bergerak, tapi tidak diberi kebebasan untuk memilih. Saya hidup, tapi tidak betul-betul ada.

Ternyata kita bisa kelelahan bukan hanya karena banyak hal yang dilakukan, tapi karena terlalu banyak hal yang dilakukan tanpa kehadiran diri kita di dalamnya.

Dan simulator itu, seaneh kedengarannya, menjadi semacam alarm, bahwa saya merindukan sesuatu yang sederhana, yaitu kebebasan untuk menentukan arah.

Di salah satu perjalanan virtual itu, di tengah padang gurun Nevada, di bawah langit senja kemerahan yang tidak sungguhan itu saya berjanji pada diri sendiri, “saya ingin kembali menulis.”

Saya ingin menulis karena hanya lewat tulisan, saya bisa kembali menjadi pengemudi dari hidup saya sendiri. Menulis memaksa saya untuk berhenti, melihat, mengamati dan merasakan. Menulis menurut saya adalah bentuk paling sederhana dari memilih arah.

Dan ternyata, gairah itu memang tidak hilang. Ia hanya tertutup oleh debu rutinitas yang terlalu lama saya biarkan menumpuk.

Perjalanan mengendarai truk yang cuma ada di layar komputer, mengajari saya bahwa langkah kecil pun tetaplah langkah. Satu paragraf, satu ide, bahkan hanya satu catatan kecil saja, semuanya adalah bentuk keberanian untuk kembali hadir.

Kita selalu mengira dunia virtual adalah pelarian. Sekarang saya tahu ia bisa menjadi cermin.

Ia memaksa saya melihat bahwa saya sedang berjalan terlalu jauh dari diri saya sendiri. Saya butuh ruang untuk diam, bukan untuk berhenti tapi untuk pulang.

Saya rindu memegang kemudi hidup saya sendiri sembari mengingatkan diri sendiri bahwa saya bukan robot yang tunduk pada jadwal.

Saya masih manusia. Iya, manusia yang lelah. Tapi paling tidak untuk saat ini, saya adalah manusia yang masih ingin hidup.

Dan dunia virtual itu dengan segala kesemuannya justru membimbing saya pulang.

Lirik “Zona Nyaman” tidak pernah mengajak kita berani untuk lompat dari tebing. Dan iya juga ukan tentang meninggalkan semuanya atau memaksa kita untu berubah secara drastis. Ia bicara tentang bergerak dengan hati, meski belum tahu ke mana.

Ah, saya ingin kembali merasakan hidup. Saya ingin kembali menulis dan berkeliling bersama sepeda saya di akhir pekan seperti selama ini. Seperti perjalanan di jalan raya virtual itu, saya akan menempuh hidup ini dengan ritme saya sendiri.

Ritme yang pelan-pelan saja.


메타데이터
post_id
26f80e8ee69b
slug
interlude-26f80e8ee69b
url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/interlude-26f80e8ee69b
canonical_url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/interlude-26f80e8ee69b
author_url
https://medium.com/@cipthami
status
ok
fetched_at
2026-06-17 18:52:58