← Back to list

Bertaruh pada langit Jingga

Jika awal kehidupan itu ada di timur, maka akhirnya akan ke barat, bukan?

Khamilasya_ · 2026-05-03 15:51 · 0 claps · 2.8 min read
#cerpen-indonesia #cerpen #senja
Open on Medium ↗

Adakah tuhan menjawab doaku?

Kubenahi diriku yang semakin lama kian menjauh dari kata ideal. Manusia pada dasarnya memiliki tujuan, mencari cinta, cita-cita, kebijaksanaan, surga, duniawi maupun akhirat. Dari tujuan itu terbentuk sumbu tak terlihat — terbakar sedikit demi sedikit — dan BOM! meledak ditengah keproduktifitas’an remahan diri tertiup angin ke barat.

Jika awal kehidupan itu ada di timur, maka akhirnya akan ke barat, bukan?

Tujuan itu nampak dan tak nampak.

Bagiku dengan adanya tujuan, mungkin saja hidupku tidak akan semembosankan ini di jenjang menuju 21. Semester 6 seakan mengejekku, seorang penulis tolol yang hanya tau membuang ludah di udara bebas penerpa langit jingga. Mengatupkan dua tangan — menentang sebuah tradisi dalam doa tenang.

Inginnya doa itu sekarang tersampaikan.

Terkabulkan secara instan.

Sesak hanya membawakan keputusasaan. Padahal sekelilingku merasakan hal yang lebih parah, namun entah karena lemah seperti kata adikku atau memang jiwa ini sudah hancur.

Sejak lama banyak sekali sinyal SOS kukirimkan pada semua orang. Sebagian menangkapnya dan diriku menjadikannya obsesi, lalu sebagiannya mengabaikan karena sudah melihat dampak apa yang akan mereka dapatkan setelah menerima sinyal tersebut. Lalu masih pantaskah ku hidup di dunia ini?

Itu sebabnya kubenahi hidupku.

Hari ini lagi-lagi ku berhenti ditempat yang sama. Membuang semua energi buruk yang tersisa, membentuk gumpalan hitam tak menyenangkan.

Tidak kutemui tujuan hidupku.

Maka ku bertanya kepada tuhan, “Haruskah kuteruskan, atau kematian bisa menjemputku saat ini?”

Atas diamnya duni,

Saat itu kutekadkan diriku untuk mati.

Mendirikan sebuah kerajaan kecil didalam kepala tempatku berpulang. Berwarna merah jingga seperti langit sore itu, istana berisi orang-orang tersayangku yang telah berpulang lebih awal — terlebih si bungsu kandungku. ingin sekali kupeluk dalam rengkuhanku, dunia tidak selayak itu ditinggali malaikatku, mungkin itu sebabnya ia menolak untuk lahir. Tapi jika aku pergi, bagaimana kabarnya adikku di dunia ini? Yang telah memilih untuk lahir dan menghadapi kerasnya dunia bersamaku?

Apakah semunya akan selesai jika aku tiada?

Saat itu langit benar-benar berwarna jingga cerah.

Ada degup yang mengganggu seluruh indraku, menangkap radar sialan pada sanubari tercekit pada dada. Akankah tuhan menjawab doaku?

“Ayo pulang.”

Adikku tidak merespon ajakanku.

Padahal sudah waktunya kami pulang kerumah, tapi dia mengatakan untuk mendinginkan laptop terlebih dahulu sekitar sepuluh menit.

“Tidakkah kamu lupa bahwa kamu juga sedang mengisi daya handphone? Bagaimana jika lowbat di jalan saat ada sesuatu?” Ucapnya membuatku mengerutkan kening. Kami dirumah orang lain, jalanan saat malam begitu rawan, apakah dia ingin kami kenapa-napa dijalan?!

Aku benar-benar kesal.

Satu menit.

Dua.

Tiga.

Kesabaranku habis. Kupaksa ia untuk memasukkan laptopnya sekarang lalu pulang.

Duniaku sudah lelah. aku membutuhkan istirahat selama perasaanku menonaktifkan logika.

Ada sekitar dua menit dirinya menyimpan seluruh barang-barangnya kedalam tas. Selama itu kugertakkan gigiku menghela untuk memaksanya cepat.

Tuhan, haruskah kupukul si sialan ini?

Anak ini, bahkan tidak bisa disebut anak lagi pada umur 20. Bahkan saat menyalakan mesin motor tua itu sangatlah lambat, sebenarnya ada apa dengan slow motionnya tiba-tiba? Jalanan disini cukup rawan, kami harus bergegas ke kota.

Itu pikirku yang buyar ketika jalanan di sepuluh menit kedepan penuh oleh pengendara yang seharusnya tak ada. Jalur ini tidak mungkin macet tanpa alasan sebagaimana jalan dibukit pada umumnya. Orang-orang berkumpul — mengarahkan kami untuk jalan perlahan melewati truk yang berhenti dipertengahan.

Jantungku rasanya berhenti.

Tepat tujuh belas menit sebelumnya, terjadi kecelakaan yang menewaskan dua orang pria yang berboncengan. Keluar jalur dan menabrak pengendara bermotor lain — beruntun hingga membentur truk.

Sekujur tubuhku gemetar disertai keringat dingin pada pelipis.

Waktunya sangat mepet. Menghitung menit-menit kebelakang saat diri ini terburu-buru hingga emosi, di menit itu juga kemungkinan bukan pria itu yang mati. Tapi kami.

Darah yang memenuhi jalan raya saat ini bisa jadi bukan darah orang itu, tapi kami.

Rasanya mual.

Kututupi wajahku yang pasi, adikku yang tadi kukatai sialan tadi hanya mendoakan yang terbaik tanpa tau kakaknya merinding ditengah doa tersebut.

Telah kubenahi diriku.

Telah kuinginkan kematianku.

Tapi nampaknya memikirkan diri ini tergeletak dipenuhi darah sembari menjadi tontonan rasa sayang terdapat kontradiksi besar didalam pikiran. Itu menyakitkan, mengerikan.

Akankah tuhan menjawab doa instanku?

Memperlihatkan bagaimana kematian yang mungkin saja kudapatkan dalam hasil memaksakan kehendak?

Apapun itu, setidaknya langit jingga sama cerahnya di doaku keesokan hari.


메타데이터
post_id
271bca61bb13
slug
bertaruh-pada-langit-jingga-271bca61bb13
url
https://medium.com/@Lasya_/bertaruh-pada-langit-jingga-271bca61bb13
canonical_url
https://medium.com/@Lasya_/bertaruh-pada-langit-jingga-271bca61bb13
author_url
https://medium.com/@Lasya_
status
ok
fetched_at
2026-06-24 04:09:36