← Back to list

Aroma Cendana

bagaimana bila aku memaafkanmu dengan terpaksa?

Maulidya, D A · 2026-05-30 15:11 · 0 claps · 0.7 min read
#kehilangan #puisi #berduka #sastra #pamit
Open on Medium ↗

Aroma Cendana

kau sudah dingin ketika aku menciummu. dahiku menyentuh dahimu yang pucat pasi.

cendana menempel pada saraf olfaktori, tumpang tindih dalam girus otakku.

wangi itulah yang kau pakai untuk meninggalkan aku.

ada malam-malam yang kita biarkan keras. ada kata-kata yang tidak sempat. ada pintumu.

aku ingin mengetuknya sekarang; keras-keras.

sampai tanganku sakit. sampai aku kehabisan tenaga.

bagaimana bila aku memaafkanmu dengan terpaksa? aku masih ingin marah. masih ingin bertikai. masih ingin bercanda. masih ingin memasak favoritmu. aku masih ingin.

kenapa kau tidak bertahan lebih lama? sebentar saja… sampai aku belajar cara mencintaimu tanpa terluka.

untuk sekali lagi.

Puisi ini ditulis untuk Bapak, yang memori-memori baik tentangnya akan terus aku rawat dalam ingatan.

Dari anakmu yang masih berduka sejak 9 Mei 2026.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ


메타데이터
post_id
27441307dd3d
slug
aroma-cendana-27441307dd3d
url
https://medium.com/@agustidara/aroma-cendana-27441307dd3d
canonical_url
https://medium.com/@agustidara/aroma-cendana-27441307dd3d
author_url
https://medium.com/@agustidara
status
ok
fetched_at
2026-07-29 14:54:16