← Back to list

tertahan hujan eksistensial

Adalah hal yang menggelikan saat kau menyadari betapa dirimu hanyalah beban semesta, tapi ketika kamu tiada, keberadaanmu dicari banyak…

Kangud · 2026-03-04 23:40 · 13 claps · 2.5 min read
#poetry #short-story #fiction #reflections
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

tertahan hujan eksistensial

Adalah hal yang menggelikan saat kau menyadari betapa dirimu hanyalah beban semesta, tapi ketika kamu tiada, keberadaanmu dicari banyak kalangan; sanak, rekan, famili dan lain-lain, sehingga kau dibuat terkejut betapa dirimu adalah hal yang bermakna bagi mereka.


Hujan menahanmu untuk tetap terkungkung dalam kamar sempitmu yang pengap, berantakan, dan rintik hujan menerobos masuk melalui jendela sehingga kau pun terpaksa untuk menutupnya dan bertambahlah pengap kamarmu akibat tiada angin yang membawa pulang-pergi suasana suram kamar itu.

Tiba-tiba listrik padam, dan kini kamar seluas 2x3 itu diliputi kegelapan karena jendela ditutup dan bukan hanya angin yang terhalang, melainkan juga cahaya dari langit yang meski kadang remang tapi biasa kau pergunakan untuk membaca buku yang kau suka untuk menghindari rasa sepi yang selalu datang menghampiri. Tetapi kini, sempitnya kamar membuat dadamu sesak, gelapnya menampar sadarmu bahwa kau kini serupa berada dalam kuburan karena kau hanya sendirian, tak ada siapa-siapa, penuh kegelapan, pengap, tak ada udara, tak tertembus cahaya, tak ada yang bisa kau baca, tak bisa kau menghubungi siapa-siapa.

Kamu pun merasa takut dengan kesendirian, kesepian, kesunyian, kegelapan, kesempitan, ketakutan, kepengapan, dan tanpa terasa hilanglah kesadaran. Semua terasa tenang ketika kau tak lagi sadar, ketika dirundung kealpaan, ketika berselimut kelupaan, kelalaian, kenyenyakan, karena itu berarti segala permasalahanmu selesai meski hanya sementara, karena ia tersimpan di lapisan bawah sadarmu yang tak pernah ingin kau tengok itu, yang selalu mengganggu ketenanganmu, yang terus merusak ritme detak jantungmu.

Dan seperti itulah dirimu, yang tak pernah berani berhadapan dengan masalahmu, kemudian melarikan diri dengan berlagak membaca buku, menonton film, maraton anime, menulis catatan ini, dan juga favoritmu sejak dulu — ketika kau belum mengenal semua itu — yaitu tidur, sembari berharap ketika terbangun, semua masalah akan usai dengan sendirinya, tanpa perlu bersusah-payah menanggung lelah, diliputi cemas dan gelisah, gemetar, takut dan pasrah.

Hari berubah gelap ketika kau terbangun akibat mimpi buruk itu, yang berulang meneror tidurmu, sehingga kau selalu ketakutan berhadapan dengan tidur, dan lebih memilih untuk tetap terjaga semampumu sampai tiba waktunya tanpa terasa hilang kesadaranmu — kau tertidur, seperti bayi yang kelelahan menangis berharap menetek pada puting ibunya yang hilang entah kemana.

Kau terbangun, mengucek matamu, dan gelagapan mencari barang pertama yang selalu kau cari ketika terbangun, yaitu ponselmu, untuk mengecek sudah berapa lama waktu terbuang, sudah berapa lama dirimu lari dari dunia dan segala tetek-bengek permasalahannya. Tetapi kau sial rupanya, karena matamu tanpa disengaja menatap segala notifikasi pesan yang masuk di layar ponselmu, dan kau langsung ingat pun tersadar bahwa akan ada banyak masalah yang akan langsung kau hadapi di depan.

Kau terbangun, dengan gugup kau tatap satu-persatu pesan itu tanpa berani membukanya. Kau memejamkan lagi matamu, berharap kau kembali tidur dan hilanglah segala masalahmu, tapi sayang, kau adalah pengidap insomnia akut dengan bakat tak terkalahkan, yang tak mungkin bisa tidur setelah terbangun dari tidur, yang tak mungkin akan tidur jika gelap masih menjadi warna utama langit, yang tak mungkin akan tertidur kecuali ayam sudah berkokok dan orang-orang sudah ramai mendatangi pasar untuk membeli juga menawarkan barang dagangannya.

Kau terbangun, menghitung satu, dua, tiga, lima, tujuh, sebelas, dan entah berapa panggilan tak terjawab yang masuk namun tak diangkat, ditambah beberapa pesan— entah berapa, karena kau berkeringat menatap itu semua, sehingga hampir tak ada nalar waras yang bekerja — dan kau tahu pesan itu datang dari teman-temanmu yang lumayan sering bergumul dengan dirimu, atau setidaknya boleh kau panggil sebagai teman dekatmu. Kau kebingungan bagaimana akan menjelaskan semuanya, sehingga kau hanya bisa mengucapkan kata maaf, dengan ditambah satu kalimat andalanmu, aman aja, santai, tak ada apa-apa.


Kau masih tak percaya bahwa ternyata banyak orang yang mengkhawatirkan dirimu ketika tiada kabar tentangmu, ketika kau tak bisa dihubungi oleh banyak kolegamu, ketika kau hilang dari peredaran kehidupan yang biasanya kamu lalui dengan ragam macam topeng yang terpasang di wajahmu, suaramu, tatapanmu, senyumanmu, ekspresimu, laku tubuhmu.

Dan begitulah dirimu yang penuh kepalsuan kembali dalam dunia yang terlampau luas dan sukar dipahami, yang masih coba kamu peluk dengan tangan mungilmu dan keterbatasan akal juga pengetahuanmu.

Yogyakarta, 5 Maret 2026


메타데이터
post_id
279a116a984c
slug
tertahan-hujan-eksistensial-279a116a984c
url
https://medium.com/@kangud42/tertahan-hujan-eksistensial-279a116a984c
canonical_url
https://medium.com/@kangud42/tertahan-hujan-eksistensial-279a116a984c
author_url
https://medium.com/@kangud42
status
ok
fetched_at
2026-06-22 05:41:33