← Back to list

Ringan Bebanku Teringat Beban Nenekku

Jejak ke-99, Kartiniku dari pelosok desa kaki pegunungan kapur.

Ihda Soduwuh in Perspektif Perempuan · 2025-04-28 08:23 · 181 claps · 4.4 min read
#perspektif-perempuan #bahasa-indonesia #parenting #pola-asuh-anak #kartini
Open on Medium ↗
Wiki topics: 👨‍👩‍👧 · Family & Parenting

Ringan Bebanku Teringat Beban Nenekku

Jejak ke-99, Kartiniku dari pelosok desa kaki pegunungan kapur.

Photo by Piret Ilver on Unsplash

Photo by Piret Ilver on Unsplash

Saya melihat Kartini dari nenek sendiri. Mungkin begitu juga pada nenek-nenek yang lain. Berjuang begitu keras untuk menjaga tumbuh kembang anak.

Terlebih ketika kematian anak-anak lelakinya ketika beranjak remaja. Runtutan kejadian yang membuat nenek sangat menjaga ayah saya, satu-satunya laki-laki dari lima bersaudara.

Drama “When Life Gives You Tangerines” mengingatkan saya pada luka nenek. Kehilangan anak begitu membekas hingga terbawa usia senja. Rasa sesal ditinggal pergi terlebih dahulu oleh generasi penerus menghantui sampai napas terakhir. Hal yang mungkin tidak dipahami sebelum seseorang mengalaminya.

Mungkin itu yang membuat nenek begitu tangguh di mata tetangga. Beliau akan dengan mudah menghardik orang lain ketika keliru. Terkenal galak seperti induk ayam ketika anak-anaknya diganggu.

Beliau mengasuh lima anak seorang diri, dengan kakek yang terpisah jarak berjam-jam perjalanan darat kala itu. Butuh jalan kaki berjam-jam dari jalan makadam kala itu.

Photo by Melissa De Yoe on Unsplash

Photo by Melissa De Yoe on Unsplash

Kakek memilih berjualan di tengah hutan Wonosobo. Di sebuah desa puncak gigir pegunungan di mana waduk tertinggi di Indonesia dan kedua di Asia Tenggara tengah dibangun. Saya rutin ke sana tiap tahun ketika momentum Idul Fitri datang. Sowan kepada bude, kakak pertama ayah.

Nenek mengasuh anak-anaknya dengan sangat disiplin. Mental sekeras baja tentu beliau miliki, dan saya berempati dengan tiga anak yang saya miliki. Setiap hari berjalan kaki ke pasar berjarak setengah jam jalan kaki beliau tempuh.

Uang kiriman dari kakek di pasar tradisional tengah hutan datang di momentum tertentu saja. Dari berjualan hasil bumi dari sawah, pekarangan, dan hutan, nenek menghidupi anak-anaknya. Saya ingat, sepulang dari pasar selalu dibelikan jajan oleh nenek.

Kartini saya ini mengajari anak-anaknya mengaji dengan telaten. Semuanya bisa membaca Quran dengan lancar dan lantang. Rutinitas baca Quran itu beliau lakukan tiap hari hingga hari-hari terakhir.

Nenek juga punya kebiasaan menyapu halaman masjid yang seluas lapangan bola. Lantaran memang tepat berada di rumah masa kecil beliau, sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Photo by Rod Long on Unsplash

Photo by Rod Long on Unsplash

Adik bungsu saya merupakan cucu paling dekat dengan nenek. Tiap hari ia selalu mampir ke rumah nenek untuk mengantarkan makanan masakan ibu.

Tentu modus lain untuk mendapatkan uang saku tambahan karena nenek suka memberi tanpa hitungan. Pelarian bagi cucu-cucunya ketika tengah ingin uang lebih.

Kartini saya itu sangat galak ketika saya kecil belum pulang dari main untuk makan. Bersama nenek pengasuh, mereka berdua akan menyisir dari pekarangan ke pekarangan.

Mencari saya yang memang senang memanjat pohon, menyeser ikan di kali, serta berburu jangkrik di sawah. Kabur dari rumah ketika jam tidur siang adalah misi paling berbahaya sekaligus menantang.

Kebiasaan anak-anak sekolah dasar saat itu adalah “repek”, mencari ranting kayu di hutan. Berjarak puluhan meter dari pegunungan, saya termasuk yang dilarang ikut kebiasaan anak-anak sekitar rumah ini.

Berkilah bahwa ibu sudah pakai kompor minyak tanah, saya diharamkan menyentuh tanah hutan tanpa disertai ayah. Trauma saya pernah hilang di masa kanak-kanak mungkin masih ada di benak ibu.

Photo by T. Selin Erkan on Unsplash

Photo by T. Selin Erkan on Unsplash

Trik selanjutnya adalah menggunakan dalih mencari kayu bakar untuk nenek. Kebetulan pawon nenek memang membutuhkan banyak pasokan kayu, meski lagi-lagi, dari pekarangan saja sudah menumpuk banyak bahan bakar. Namanya anak kecil, alasan ini saya pakai tiap pulang dari menjadi Bolang sejenak.

Nenek tidak akan pernah marah meski puncak-puncak pegunungan saya jelajahi bersama kakak-kakak sepermainan. Beda dengan ibu yang akan marah-marah lantaran telah melanggar aturan main.

Terlebih ketika saya menemukan batang kayu seperti tongkat berjalan. Kemudian hari, tongkat ini betul-betul dipakai kakek ketika beliau pensiun dari berjualan di hutan.

Kartini saya ini memang orang desa yang sangat sederhana. Berpakaian tradisional Jawa setiap hari, dengan jarit dan kemben serta kebaya, nenek tampil elegan.

Memang mode berkemben lumrah di antara nenek-nenek di desa, bahkan saya pun baru sadar ketika menuliskan tentang ini. Ketika pengajian atau ke masjid pun nenek tetap mengenakan busana ini.

Photo by En. ji on Unsplash

Photo by En. ji on Unsplash

Semangat nenek untuk dakwah sangatlah tinggi. Tiap acara pengajian selalu hadir, meski jauh sekalipun. Apalagi acara ngaji kitab di masjid yang diasuh Mbah Kiai, beliau jarang absen.

Semangat yang lumrah di kalangan kakek-nenek pedesaan tapi langka di kota, setidaknya di lingkungan saya tinggal saat ini.

Semangat belajar sampai usia senja itu yang saya teladani. Meski lagi-lagi rasanya sulit membandingkan. Semangat saya belum bisa membuat sekonsisten nenek.

Di tengah rutinitas seabrek yang dimiliki, nenek bisa menyeimbangkan semua. Entah bagaimana caranya, mungkin latihan dari ketika beliau belia.

Saya teringat, drama nenek dan ibu seperti dalam drakor “When Life Gives You Tangerine” hampir sama. Awalnya kurang diterima lantaran perbedaan latar belakang keluarga.

Keluarga besar ibu yang sangat priyayi bertemu keluarga petani desa dari ayah, luntur seiring waktu. Ibu menjadi pembaharu di desa, sama seperti nenek ketika muda.

Photo by En. ji on Unsplash

Photo by En. ji on Unsplash

Nenek yang fotonya entah ada di mana, masih saya ingat sekilas raut mukanya. Senyum dan kata-katanya terkenang di momentum tertentu. Saat mengirimkan Yaasin untuk nenek misalnya, ketika hidup terasa sangat berat, saya bisa terisak rindu pada beliau. Kartini yang mengantar saya ke TPQ di masjid dan menunggu saya sampai selesai mengaji.

Kesulitan saya mendidik anak, akan terasa luntur ketika teringat nenek dan kisah perjuangannya. Bak “single parent”, mengawal tumbuh kembang anak-anaknya hingga dewasa.

Kehilangan anak karena keterbatasan yang dimiliki saat itu, entah jauh dari fasilitas kesehatan atau faktor lain, tentu membekas seumur hidup. Membahagiakan nenek di alam sana tentu wajar menjadi cita-cita seorang cucu.

Begitulah salah satu Kartini yang berpengaruh besar di hidup saya. Nenek yang selalu meninggalkan jejak di hati dan kenangan para cucu. Tidak terlupakan kasih sayang tulus dengan teguran lembutnya.

Terima kasih. Tepukan dan komentar pembaca sangat berarti bagi penulis untuk memberi semangat.


메타데이터
post_id
27dd184bcfbe
slug
ringan-bebanku-teringat-beban-nenekku-27dd184bcfbe
url
https://medium.com/perspektif-perempuan/ringan-bebanku-teringat-beban-nenekku-27dd184bcfbe
canonical_url
https://medium.com/perspektif-perempuan/ringan-bebanku-teringat-beban-nenekku-27dd184bcfbe
author_url
https://medium.com/@ihdasoduwuh
status
ok
fetched_at
2026-07-14 09:14:07