35
Hai, Gilga.
35
Hai, Gilga.
Bagaimana hidupmu di sana?
Apakah kau hidup dengan baik?
Surat ini kutulis lima belas hari sebelum ulang tahunku yang ke dua puluh lima. Orang-orang bilang usia dua puluh lima adalah persimpangan yang penting. Namun, seharusnya usiamu sekarang , jauh lebih krusial dari itu.
Maka aku menulis, seolah-olah waktu bisa dilipat, seolah-olah kau dapat membaca suaraku dari sepuluh tahun yang lalu.
Apakah kau masih bersamanya?
Lelaki tinggi yang kau temui di tempat kerja itu.
Yang menangis saat melihatmu menangis.
Yang tak pernah benar-benar melepaskan tanganmu ketika kalian berjalan keluar bersama.
Yang berubah seperti anak nakal ketika hanya kalian berdua.
Yang mencium keningmu saat kau tertidur.
Yang gemar memakan pipimu dengan gemas.
Yang menerima segala kurangmu, segala burukmu, tanpa banyak tanya.
Apakah dia benar menikahimu di usia dua puluh enam?
Atau di 25, seperti yang dulu sering ia katakan, bahwa ia ingin memulai kehidupan bersamamu saat kau menginjak 25?
Apakah kalian memiliki tiga anak, seperti yang kalian bicarakan diam-diam di usiamu yang masih dua puluh empat?
Dan.. Apakah ia masih mencintaimu?
Ayolah… jawab aku.
Aku sangat penasaran.
Bagaimana rupamu sekarang?
Apakah menjadi ibu membuatmu lupa merawat diri?
Atau justru membuatmu lebih lembut, lebih sabar, lebih bercahaya dari yang pernah kubayangkan?
Kau masih bekerja di perusahaan yang dulu kau perjuangkan mati-matian itu, bukan?
Atau hidup membawamu ke tempat lain — ke jalan yang tak pernah kau rencanakan, namun diam-diam kau syukuri?
Apakah kedua adikmu masih berkabar denganmu?
Oh — apakah akhirnya adik keduamu kembali, berbalik kepada Yesus Sang Juruselamat seperti yang selalu kau doakan dalam diam?
Jangan membuatku semakin penasaran.
Jawablah, walau hanya dalam angin. Jawablah, walau hanya dalam mimpi.
… Tapi mengapa kau tidak menjawab?
Apakah karena kau terlalu sibuk hidup?
Atau karena… kau sudah tidak ada lagi di dunia ini?
Apakah semua orang datang ke pemakamanmu?
Apakah mereka menangis?
Apakah namamu disebut dengan lembut di antara doa-doa?
Dan… apakah kau bertemu Papa dan Mama?
Jika iya,
Aku tidak tahu harus merasa sedih atau iri.
메타데이터
- post_id
- 27e6d84d12ee
- slug
- 35-27e6d84d12ee
- url
- https://medium.com/@bernyawa/35-27e6d84d12ee
- canonical_url
- https://medium.com/@bernyawa/35-27e6d84d12ee
- author_url
- https://medium.com/@bernyawa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01