“Gadis Minimarket” dan Kritik terhadap Standar Sosial
“Bagiku diam adalah cara terbaik, seni hidup yang paling rasional untuk menjalani hidup.”
“Gadis Minimarket” dan Kritik terhadap Standar Sosial
“Bagiku diam adalah cara terbaik, seni hidup yang paling rasional untuk menjalani hidup.”
Saat-saat menjelang UAS kemaren, hati rasanya plong banget. Betapa tidak, beban yang dipikul selama satu semester sudah mulai berkurang dan akan segera berakhir, walaupun masih harus mempersiapkan diri menghadapi UAS. Pekan-pekan UAS memang saat yang lengang, karena waktu ini biasanya dipakai untuk mempersiapkan diri menghadapi UAS.

Source: gramedia.com
Kulirik kembali tumpukan TBR (to be read)-ku yang tak terjamah beberapa waktu ini, dan kuputuskan untuk membaca buku karya Sayaka Murata “Gadis Minimarket”. Buku tersebut tipis, hanya sekitar 160-an halaman dengan cover kuning makjreng yang menarik.
Sekilas aku menerka buku ini akan membahas tentang kehidupan yang penuh tekanan, tuntutan, dan kebosanan dari seorang gadis yang berkerja di minimarket, terlebih yang bekerja di negara super disiplin dan mementingkan karir seperti di Negeri Sakura. Setelah ku baca, ternyata isinya lebih dari itu. Buku ini mengisahkan perjuangan orang yang kerap dipinggirkan, diasingkan, bahkan dibuang hanya karena mereka “berbeda”.
Buku ini berkisah tentang seorang gadis berusia 36 tahun, Keiko namanya, yang bekerja di salah satu minimarket. Kehidupannya berkutat pada menyusun atau menambah produk yang akan dijual ke dalam rak, melayani pelanggan, mengupdate stok, hingga mencatat daftar barang yang akan dibeli. Semua itu berjalan seolah tiada henti, sampai-sampai dia dapat ingat setiap bunyi di minimarket tersebut termasuk gaya berbicara orang-orang di dalamnya.
Awalnya gada yang aneh dari karakter tersebut. Ia bekerja seperti kebanyakan orang dan amat mencintai pekerjaannya. Namun, ternyata dia mempunyai sesuatu yang membuatnya dianggap aneh oleh lingkungannya bahkan sejak ia kecil. Ia tak dapat merasa seperti kebanyakan orang.
Diceritakan bahwa pada saat masih kanak-kanak ia diajak ibunya ke sebuah taman. Di taman tersebut, ia melihat anak-anak seumuran dengannya sedang berkumpul dan menangis melihat ada seekor burung yang mati. Alih-alih menangis, Keiko merebut burung tersebut dan membawanya ke hadapan ibunya dan berkata “ayo kita makan dia”. Selain itu, saat masih di sekolah dasar ia melihat dua temannya berkelahi, alih-alih memanggil guru untuk menghentikan perkelahian tersebut ia justru mengambil sekop yang berada di dekatnya lalu menghantamkannya kepada salah satu temannya yang berkelahi tersebut. Sontak hantaman tersebut membuat temannya jatuh tersungkur dan membuat perkelahian tersebut berakhir. Kejadian itu juga berhasil membuat orang tuanya dipanggil untuk datang ke sekolah.
Kejadian-kejadian tersebut membuat Keiko memutuskan untuk tidak berbicara dan bertindak sesuai keinginannya dan lebih memilih untuk meniru atau mengikuti instruksi orang lain. Hal tersebut membuatnya menjadi sosok pendiam, bahkan hingga ia duduk di bangku kuliah dan hal itu yang membuatnya berpikir bahwa ia harus sembuh.
“Dunia normal adalah dunia yang tegas dan diam-diam selalu mengeliminasi objek yang dianggap asing. Mereka yang tak layak akan dibuang.”
Pada tahun pertama kuliah, ia memutuskan untuk bekerja paruh waktu di salah satu minimarket di dekat stasiun. Ia sangat senang karena di sini ia dilatih untuk berbicara dan melayani pelanggan, sesuatu yang membuatnya bisa berinteraksi dengan orang dan dunia luar. Minimarket sejenak membuatnya dan orang tuanya dapat bernapas lega karena mengira bahwa Ia sudah sembuh.
Kehidupannya sebagai pegawai minimarket terus mengalir hingga belasan tahun lamanya dan Ia dapat mengingat semua hal tentang minimarket. Minimarket juga yang membentuk pribadinya, mulai dari cara ia berbicara, berekspresi, hingga cara berpakaian yang mengikuti teman-teman kerjanya. Di usia yang sudah menginjak 30-an dan masih menjadi pegawai paruh waktu membuatnya dicecar berbagai pertanyaan, mulai dari pertanyaan kapan nikah hingga kenapa masih bekerja paruh waktu. Semua itu mendesaknya dan membuat ia berpikir sekali lagi bahwa ia harus segera berubah.
Di minimarket juga ia bertemu dengan seorang lelaki seusianya yang juga sempat menjadi teman kerjanya. Lelaki tersebut hampir sama nasibnya dengan Keiko, tak mempunyai pasangan dan bahkan tak memiliki pekerjaan tetap. Berbeda dengan Keiko yang terus berusaha ingin berubah dan bekerja keras, lelaki itu justru hanya bermalas-malasan dan terus menyalahkan orang dan lingkungannya yang menekannya. Menurutnya dunia modern tak ada bedanya dari sejak zaman jomon bahwa mereka yang lemah dan berbeda akan tereliminasi. Sampai pada suatu ketika ia dipecat dari minimarket tersebut karena tidak serius dalam bekerja.
Hal “gong” dari cerita ini adalah bahwa Keiko dan Shiraha, nama lelaki tersebut, memutuskan untuk tinggal bareng tanpa status demi terlihat normal oleh lingkungan yang menuntut mereka dan Keiko sendirilah yang membiayai kehidupan lelaki tersebut. Jir!!. Shiraha berdalih bahwa dengan tinggalnya ia dengan Keiko sudah merupakan wujud simbiosis mutualisme. Keiko dapat dianggap “normal” oleh lingkungannya, karena dapat berhubungan dengan seorang pria, dan Shihara dapat terus bersembunyi dari suara-suara orang yang terus menuntutnya. Dengan begitu, dunia yang penuh standar sosial ini akan mendeteksi mereka sebagai bagian darinya dan tak akan dianggap aneh atau berbeda lagi.
Cerita ini berakhir dengan Keiko yang memutuskan resign dari minimarket dan mencoba mencari pekerjaan baru demi memenuhi kehidupannya lebih jauh lagi bersama Shiraha. Namun hal itu mustahil baginya, di tengah mencari pekerjaan ia justru kembali menumukan jati dirinya di dalam minimarket. Ia menganggap hidupnya adalah untuk terus menjadi pegawai minimarket. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk terus menjadi pegawai minimarket seperti kehendak dan nalurinya, yaitu sebagai pegawai minimatket. Menurutnya, Ia tak lebih dari sekadar binatang. Yap! ia adalah binatang minimarket.
Impresiku
Buku ini bener-bener membuatku merasa agak kesal dikit, jujur sih ini. Mulai dari Ia yang harus terus mengikuti cara bicara orang lain, ekspresi orang lain, hingga cara berpakaian orang lain hanya agar terlihat normal di mata orang lain. Hidupnya hanya untuk menuruti kata orang lain dan ia seperti tak punya jadi diri. Tak hanya itu, kata binatang juga sering aku jumpai. Binatang menurutnya dapat berwujud seperti bayi, orang, bahkan dirinya sendiri ia anggap sebagai binatang. Binatang minimarket. Sungguh aneh cara ia memandang.
Pelajaran yang dapat diambil
“Meskipun masyarakat modern bicara soal individualisme, mereka yang berbeda harus bersiap untuk dicampuri urusannya, ditekan, dan akhirnya diasingkan dari desa.”
Buku ini memberi pandangan bahwa dalam hidup ternyata banyak orang yang sering kita anggap aneh atau berbeda justru sedang berjuang untuk dapat sembuh sesuai definisi normalnya kebanyakan orang. Kadang dunia semacam punya standarnya sendiri akan hidup orang-orang di dalamnya, mulai dari pasangan, pekerjaan, jabatan, dan sebagainya. Hal tersebut seolah menjadi standar tak tertulis yang apabila ada seorang saja yang tak memenuhi standar itu, maka ia akan dianggap aneh atau berbeda. Keanehan atau perbedaan itu justru pada akhirnya dapat membuat meraka merasa terasingkan dan bahkan tereliminasi dari lingkungannya.
Perbedaan adalah suatu keniscayaan. Setiap dari kita tak pernah tau atau mungkin mau hidup seperti kondisi saat ini karena semua mengandung unsur keberuntungan. Oleh karena itu, mulailah untuk menghargai setiap perbedaan yang ada disekeliling kita karena kita tidak pernah tau bagaimana orang tersebut sedang berjuang untuk keluar dari situasi tersebut.
Apakah Bukunya Rekomen?
Yap! Kalo ada yang nanya “bukunya rekomen untuk dibaca atau gak?” maka aku akan bilang “cukup rekomen”. Bukunya tipis jadi ga perlu waktu lama untuk menghabiskannya. Isinya juga ringan dan gaya bahasanya juga bagus. Walaupun mungkin isinya agak nyebelin dikit “hehe..”
Segitu aja ulasannya, maaf kalo agak kureng dari cara penulisannya soalnya baru belajar. Semoga bermanfaat!
메타데이터
- post_id
- 27ec89c0febd
- slug
- gadis-minimarket-dan-kritik-terhadap-standar-sosial-27ec89c0febd
- url
- https://medium.com/@dimdim_/gadis-minimarket-dan-kritik-terhadap-standar-sosial-27ec89c0febd
- canonical_url
- https://medium.com/@dimdim_/gadis-minimarket-dan-kritik-terhadap-standar-sosial-27ec89c0febd
- author_url
- https://medium.com/@dimdim_
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-07 15:26:23