Error
Hari ini aku berdiri ditengah ruangan yang dulu hanya hidup diobrolan kecil kami. Lampu-lampu kecil tergantung memancarkan cahaya remang…
Error

Hari ini aku berdiri ditengah ruangan yang dulu hanya hidup diobrolan kecil kami. Lampu-lampu kecil tergantung memancarkan cahaya remang yang terasa hangat, sama seperti caranya mencintaiku dulu. Bunga lily putih yang mekar dengan indahnya, senada dengan dekorasi ruangan yang serba putih ini. Katanya lily dan warna putih adalah lambang kemurnian dan kesucian, dan dia ingin memadukan keduanya di hari yang membahagiakan seperti ini.
Aku berjalan pelan kearah meja-meja yang tersusun rapi untuk para tamu menyantap hidangan. Bahkan, setiap detail persis seperti yang sering dia katakan tiap kali kami mengobrol ringan di telfon untuk menghabiskan hari. Dulu, setiap kali Minggu menceritakan tentang pernikahan impiannya aku hanya tertawa dan mengamini ucapannya. Sebab, semua yang dia rencanakan memang mengagumkan.
Minggu itu, tidak seperti kebanyakan laki-laki yang pernah kutemui. Dia senang merencanakan sesuatu dengan detail, dan ia menyukai hal-hal cantik seperti ini. Bisa dikatakan jika Minggu justru lebih rapi dan teliti daripada diriku sendiri. Aku tidak bisa memasak, sedangkan pria itu seperti koki di restoran bintang lima. Aku paling malas membereskan kekacauan dirumahku, dan Minggu akan menjadi orang nomor satu yang memarahiku sambil membereskan ulahku itu.
Aku menatap kearahnya yang tengah sibuk mengobrol dengan para tamu undangan, ia tengah tertawa lebar sebab Dika dan Sadam yang sibuk menggodanya, aku ikut tertawa. Diam-diam ku kagumi ciptaan Tuhan yang satu itu, lihat saja, ia terlihat sangat menawan dalam balutan tuxedo hitam yang kontras dengan tema dekorasi hari ini. Rambut yang di tata rapi serta kacamata yang bertengger di hidung mancungnya itu, membuatnya persis seperti patung-patung yunani yang pernah kami lihat ketika berlibur bersama di Italia. Kata Minggu hadiah perayaan yang ketiga.
Kenangan manis itu mana mungkin aku lupakan? Dia memang paling ahli dalam membuatku merasa menjadi wanita yang paling bahagia di dunia. Minggu paling tau bagaimana cara untuk membujukku saat marah, ah tidak, dia bahkan tau bagaimana agar aku tak perlu kata maaf darinya. Minggu memang paling tepat menyandang gelar suami, paling tidak itu menurutku.
”Biru!” Dika yang tak sengaja menoleh kearahku memangil dengan kencang, akupun menghampiri ketiganya sambil tersenyum lebar.
”mojok aja kenapa dah Ru?”
”cantik dekornya”
”Ah iya, selamat ya atas pernikahan kalian. Gue turut senang dan lega akhirnya kalian dapet happy ending!”
”makasih Biru” aku melepas jabatan tangan Minggu dan berganti menyalami gadis cantik yang baru saja datang di sampingnya, Mirah.
”Kak Mirah kalau Minggu macem-macem tolong spill di instagram ya! Gue dan 3 juta followers lo siap pasang badan” Mirah tersenyum manis sekali, dia pun hari ini terlihat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih berenda yang dipadukan dengan kalung safir yang bertengger indah di lehernya.
”jagain idola gue Ming, dan jangan kelamaan honeymoon nya. Gue nggak sabar dengerin lagu-lagu dengan vibes pengantin baru itu”
”aduh Biru kamu kenapa lucu banget sih?”
”cita-cita gue emang ngalahin komeng sih kak” Lagi-lagi Mirah tertawa dengan cara yang anggun, dia memang sangat sempurna berada disisi Minggu yang mengagumkan itu. Minggu dan Mirah seolah memang diciptakan untuk menyanding kesempurnaan satu sama lain, layaknya rembulan yang memancarkan sinar sang bintang, seperti itulah keduanya di mataku.
Kami sempat mengobrol sebentar hanya untuk basa basi, Minggu dan Mirah benar-benar terlihat saling mengasihi. Aku betulan terharu melihat keduanya bersanding di pelaminan, sebab aku tau betul bagaimana morat maritnya perjalanan kisah cinta mereka. Beberapa kali aku bisa merasakan tatapan kasihan yang Dika dan Sadam lemparkan kearahku, tapi aku mencoba tak peduli. Karena memang aku tak ingin di kasihani, tidak.
”gue pamit pulang duluan ya masih ada kerjaan nih. Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian, dan Minggu, tolong jagain kakak cantik gue itu ya!” aku membuat ekspresi menakutkan yang dibuat-buat, Minggu hanya mengangguk.
”makasih ya Biru, next time kita nongkrong lagi okay?” aku mengangguk semangat menanggapi ajakan Mirah, dan dibalas senyuman manisnya itu.
”mau gue anterin kah pulangnya, Ru?” Sadam tiba-tiba bersuara, aku menimang sebentar ajakannya, tapi sepertinya aku sedang butuh waktu sendiri.
”gue bawa mobil kok”
“ah oke”
Lalu aku berjalan keluar ruangan tempat pernikahan ini dilangsungkan, berjalan pelan menuruni setiap anak tangga menuju kearah parkiran sambil sesekali menarik nafas berat. Mungkin aku bisa tertawa lebar tadi, tapi tidak dapat kupungkiri jika rasa sesaknya masih ada.
Aku berdiam sebentar didalam mobil, menyetabilkan nafas yang sesenggukan akibat menangis. Kujalankan mobil ke sembarang arah, kemanapun asal tidak pulang kerumah, kemanapun ke tempat aku bisa melegakan hatiku, sebentar saja, sehari saja.
Lalu, disinilah aku sekarang, di dermaga tempat terakhir kali kami bertemu sebagai sepasang kekasih. Tempat dimana Minggu dan aku mengakhiri kami. Mungkin jika diibaratkan, aku seperti dermaga dan Minggu kapalnya. Aku terus disini, menunggunya untuk bersandar kembali, tapi sayangnya kini ia telah menemukan dermaga baru, yang tak perlu susah payah ia capai setelah melawan ombak besar ditengah lautan gelap. Dermaga yang lebih siap untuk Minggu jadikan tempat bersandar ketika ia pensiun sebab digantikan oleh kapal-kapal yang baru.
Alasan putus kami sederhana, tapi kami justru tak bisa apa-apa. Minggu yang mengenggam dan aku menadah, meski cara kami berdoa berbeda, tapi kami berdoa kepada Tuhan yang satu. Dengan pikiran seperti itulah dulu kami berpikir akan bisa merobohkan dinding yang tak terlihat tapi ternyata lebih kokoh dari mercusuar yang sering terhantam badai lautan.
7 tahun bersama, kami menghabiskan masa muda bersama. Tapi mungkin, takdir kami memang hanya untuk saling menemani, bukan memiliki. Aku tidak marah pun tidak kecewa, aku sudah menduga ini semua sejak awal. Aku tak pernah berani memikirkan dekorasi pernikahan karena aku tau, kalaupun terjadi, aku hanya akan berakhir menjadi tamu undangan seperti hari ini. Aku takut terlalu bergantung padanya karena takut aku akan limbung pun ambruk saat kami berpisah nanti, dan seperti burung yang sayapnya patah, aku limbung ditengah-tengah waktu terbang, jatuh terperosok kedalam jurang yang kudaki sendirian untuk selamat.
Lama memang, bahkan sampai sekarang aku masih mengasihinya sama besarnya seperti saat pertama. Hanya aku lebih tau dan mengerti, jika memang tidak semua cinta harus memiliki. Aku bahagia melihat Minggu menemukan gadis yang bisa ia bawa kedunianya, ia tak perlu lagi menyembunyikan rosarionya acap kali jalan bersama, dan tak perlu menahan diri dari makanan favoritnya hanya karena tidak bisa dimakan bersama.
”selamat ya” aku berucap lirih sambil memandang hampa lautan lepas di depanku, rasanya sesak dan aku kembali tak bisa menahan air mataku. Tapi sekali lagi, aku turut bahagia untuk mereka. Terimakasih Minggu atas waktu yang telah kau luangkan untukku, cinta kasih yang kau berikan padaku, aku bersyukur karna yang pertama untukku adalah kamu.
메타데이터
- post_id
- 2833bbd2c64f
- slug
- error-2833bbd2c64f
- url
- https://medium.com/@galaxyarsh02/error-2833bbd2c64f
- canonical_url
- https://medium.com/@galaxyarsh02/error-2833bbd2c64f
- author_url
- https://medium.com/@galaxyarsh02
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 12:15:08