← Back to list

Kantor Katanya Nggak Ramah

Survei bilang karyawan jutek, bos besar menegaskan, dan saya datang kehujanan kayak cucian lupa diangkat.

Julian · 2026-06-21 05:43 · 0 claps · 4.5 min read
#work-life-balance #daily-life #faith-in-god #praise
Open on Medium ↗
Wiki topics: PHI · Philosophy ⏱️ · Productivity 🕊️ · Religion

Kantor Katanya Nggak Ramah

Survei bilang karyawan jutek, bos besar menegaskan, dan saya datang kehujanan kayak cucian lupa diangkat.

Pagi ini saya dapat “tamparan korporat” yang bentuknya bukan tangan, tapi survei. Katanya karyawan kantor saya pada nggak ramah. Terus dibahas lagi sama bos besar di briefing pagi yang penuh agenda. Bener-bener penuh ya, sampe saya curiga agenda utamanya adalah: menambah beban pikiran sebelum jam 8.

Dan lucunya, semesta kayak sengaja nyetel background yang pas. Hari ini saya berangkat kerja kehujanan. Bukan hujan “gerimis romantis ala drama Korea” ya. Ini hujan yang bikin Anda turun motor, terus baju nempel ke badan kayak stiker promo. Rambut lepek, celana basah, sepatu berbunyi “crot crot” tiap langkah. Pokoknya tampilan saya itu kalau di film, sudah masuk kategori: tokoh yang habis dikejar debt collector tapi tetap berangkat kerja.

Saya datang jam 6 lewat. Cukup pagi. Kantor masih sepi, aura ruangan masih “belum ada dosa”, AC masih dingin karena belum kebagian napas manusia. Saya duduk sambil mencoba mengeringkan jiwa, bukan cuma jaket. Dalam hati saya bilang:

“Ya Tuhan, ini hari kayaknya panjang. Tolong dipendekin… minimal jangan panjang-panjang amat.”

Belum sempat mood saya pulih, datanglah seorang user. Muka serius, langkah cepat, aura “saya dikejar waktu, dan waktu menang.”

Dia mau service, mau nitip kunci. Biasanya nitip ke OB.

Masalahnya… OB-nya belum datang.

Terus dia melirik saya, dan dengan penuh keyakinan seolah saya ini counter serba bisa, dia bilang,

“Mas, saya titip ke kamu aja ya. Saya buru-buru.”

Di situ saya langsung ngerasa ada tombol di kepala yang kepencet: tombol “Risiko Hilang = Saya Disalahin.”

Saya bilang, “Tunggu OB aja ya, Pak.” Dalam versi sopan. Dalam versi batin: “Saya ini manusia, bukan brankas berjalan.”

Dia agak ngotot, “Saya buru-buru soalnya.”

Nah ini nih, kalimat “saya buru-buru” itu sering dipakai orang buat melompati prosedur. Padahal kalau dipikir-pikir… kalau buru-buru, harusnya dia titip dari kemarin. Atau minimal bawa kuncinya sendiri sambil lari-lari kecil. Ini malah pengen nitip instan: cepat, aman, bebas tanggung jawab. Kayak beli gorengan tapi minta cashback.

Mood saya makin miring. Mungkin karena saya masih basah. Basah itu sensitif, ya. Payung aja kalau basah bisa langsung patah, apalagi hati manusia.

Akhirnya saya jawab seadanya. Bukan marah meledak-ledak, tapi dingin. Dingin yang bukan karena AC, tapi karena suasana batin. Saya ngomong,

“Taruh aja di meja.” Terus saya tambahin, “Fotoin aja ya.”

Dia nanya, “Mas sama siapa?” Saya nggak jawab.

Saya cuma menunjuk meja. Kayak satpam museum yang lagi capek: “Silakan taruh barang, jangan menyentuh lukisan.”

Dan setelah dia pergi, saya duduk… lalu kepikiran.

“Ini nih… ini mungkin contohnya kenapa survei bilang kita nggak ramah.”

Saya ketawa kecil, tapi ketawa yang pahit. Pahitnya bukan kopi, tapi realita. Soalnya kalau ditanya: saya jahat kah?

Nggak juga. Saya cuma nggak mau ketiban risiko. Saya nggak mau nanti ada drama: kunci hilang, kunci ketuker, kunci jadi kunci Inggris, terus ujung-ujungnya nama saya disebut-sebut dalam rapat.

“Ini siapa yang pegang?” Saya. “Kenapa kamu pegang?” Karena saya kasihan. “Nah jangan kasihan, lain kali ikuti prosedur.” Saya jadi salah. Lagi.

Jadi saya memilih: aman dulu. Tapi ya itu… aman kadang bikin kita keliatan jutek. Dari situ saya mulai mikir lebih jauh: kenapa sih di kantor ini orang-orang bisa terasa nggak ramah?

Apa karena budaya kantor?

Budaya “saling sikut” itu ada. Budaya “saling cepu” juga kadang kerasa. Yang satu nyenggol dikit, yang lain langsung bikin laporan, lengkap sama kronologis, saksi, dan bukti screenshot. Kadang saya heran, ini kantor apa grup WhatsApp komplek tapi versi Excel?

Orang berlomba-lomba “ada muka”. Biar dikenal. Biar dianggap. Biar kelihatan sibuk. Biar kelihatan penting.

Padahal, yang penting itu bukan kelihatan. Tapi beneran penting. Tapi ya namanya juga dunia kerja, seringnya yang naik panggung bukan yang paling kerja.. tapi yang paling pandai mengatur lighting.

Terus saya mikir lagi: kalau leader-nya aja belum bisa beresin gap, gimana bawahan mau dapet teladan?

Ini bukan nyinyir doang ya, ini lebih kayak… capek. Karena kadang kita tuh bukan nggak mau ramah, tapi energinya habis buat bertahan. Bertahan dari drama, dari miskom, dari “tiba-tiba disuruh”, dari keputusan mendadak yang besoknya berubah lagi.

Kita jadi irit senyum.

Senyum tuh jadi barang mahal. Kayak bensin. Dipakai seperlunya. Kalau bisa hemat, ya hemat. Nanti kalau habis, susah nyari SPBU yang jual “ketulusan” tanpa syarat.

Jadi ketika bos besar bilang “kita harus ramah ya,” saya pengen jawab pelan:

“Pak, kita mau ramah, tapi sistemnya kadang ngajarin kita buat waspada.”

Tapi ya saya nggak ngomong. Saya simpan. Saya masukin ke folder batin bernama: “Nanti aja pas sudah kuat.”

Saya juga sempat mikir: mungkin orang-orang nggak ramah bukan karena jahat, tapi karena capek. Capek jadi orang baik tapi disangka lemah. Capek nolong tapi akhirnya disuruh terus. Capek ramah tapi dibilang pencitraan. Capek diem tapi dibilang jutek.

Serba salah.

Dan pas pikiran saya lagi muter-muter kayak kipas angin rusak, saya baca 1 Yohanes 4:21:

“Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”

Nah ini ayat… halus tapi nyelekit. Kayak dicubit pake sarung tangan. Nggak luka, tapi nyeri. Saya langsung menghela napas panjang: “Huuuhuhu… sulit amat ya, Tuhan.”

Soalnya dalam bayangan saya, “mengasihi” itu kayak pelukan hangat, senyum manis, saling support. Tapi realitanya, mengasihi di kantor itu bisa berarti:

  • Tetap sopan ke orang yang bikin kesel,
  • Tetap sabar sama orang yang jawabnya “saya buru-buru” tiap hari,
  • Tetap profesional walau pengen jadi guling,
  • Tetap membantu walau Anda tahu ujungnya Anda yang repot.

Dan lucunya… ayatnya nggak bilang, “Kasihi saudaramu kalau mereka menyenangkan.” Nggak ada klausul “kecuali tim recok”. Nggak ada catatan kaki “tergantung mood dan cuaca”.

Dia cuma bilang: harus.

Ya ampun.

Saya sempat ngeyel dalam hati: “Tuhan… ini kantor, bukan retret.” Tapi ya.. mungkin justru tantangannya di situ. Mengasihi itu gampang kalau semua orang baik. Yang susah itu mengasihi waktu lagi lepek, lagi capek, lagi pengen diam, dan ada orang nitip kunci dengan alasan buru-buru.

Akhirnya saya ketawa sendiri. Ketawa pasrah. Karena saya sadar.. saya ini sering pengen jadi orang baik versi saya sendiri: baik yang aman, baik yang tidak merepotkan, baik yang tidak bikin saya disalahin.

Tapi Tuhan minta baik yang lebih luas: baik yang tetap waras, tetap tegas, tapi tetap manusia.

Jadi mungkin besok , kalau kejadian lagi, saya bisa jawab begini:

“Pak, OB belum datang. Biar aman, saya bantu catat ya: foto kunci, foto bapak, foto meja… tapi bapak juga tanda tangan di catatan. Biar kita sama-sama enak.”

Ramah? Ramah. Aman? Aman. Nggak drama? Semoga.

Karena ramah itu bukan berarti jadi tempat orang menitipkan semua beban hidupnya. Ramah itu bisa tetap tegas, tapi caranya manusia.

Refleksi

Kesimpulannya, survei itu mungkin bener: kadang kita nggak ramah. Tapi bukan karena kita jahat… mungkin karena kita sering jadi korban prosedur yang nggak jelas, jadi refleksnya “jangan dulu, jangan saya.”

Terus Tuhan datang lewat ayat, kayak notifikasi yang nggak bisa di-skip: “Kasihi juga saudaramu.”

Oke Tuhan. Saya akan coba. Pelan-pelan. Mulai dari yang kecil: senyum setipis struk Indomaret, tapi tulus. Kalau belum tulus, ya minimal tidak nyolot. Kalau masih pengen nyolot, ya tarik napas dulu, minum air, baru nyolot dalam hati aja.

Dan kalau besok hujan lagi… ya saya akan tetap berikan yang terbaik bagi nusa dan bangsa. Walau nusa dan bangsa kadang titip kunci tanpa OB.

Amin. Wkwkw………


메타데이터
post_id
284dd2df2e47
slug
kantor-katanya-nggak-ramah-284dd2df2e47
url
https://medium.com/@julianjourney/kantor-katanya-nggak-ramah-284dd2df2e47
canonical_url
https://medium.com/@julianjourney/kantor-katanya-nggak-ramah-284dd2df2e47
author_url
https://medium.com/@julianjourney
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13