Salah Turun, Salah Dunia: Ketika Gue Mengikuti Orang Asal-asalan
Karena kadang, musuh terbesar dalam hidup bukan sistem… tapi bapak-bapak di kursi depan yang keliatannya tahu jalan.
Salah Turun, Salah Dunia: Ketika Gue Mengikuti Orang Asal-asalan

Salah Turun, Salah Dunia: Ketika Gue Mengikuti Orang Asal-asalan Oleh: Manusia yang Percaya Orang Asing Lebih dari Kompas
Kalau lo pikir kisah angkot gue udah cukup memalukan, tunggu sampai lo denger edisi “turun salah halte karena ngikutin orang depan yang gaya jalannya penuh keyakinan.”
Hari itu gue naik Trans—karena katanya hidup harus naik level dari angkot. Katanya sih lebih modern, ada AC, dan berhenti di halte yang jelas. Tapi nggak ada yang bilang kalau jelas itu relatif, terutama kalau lo terlalu malas baca petunjuk.
Episode 1: Masuk Trans, Keluar Ilusi
Hari itu gue punya misi suci: ikut seminar motivasi. Entah kenapa gue daftar, padahal motivasi hidup gue biasanya baru muncul kalau tanggal tua dan mie instan mulai habis.
Tapi berhubung tiket udah dibayar (karena promo Shopee), gue pikir: yaudahlah, ini saatnya membenahi hidup. Jadi gue naik Trans, duduk, dan membuka YouTube: video motivasi “5 Hal yang Menghambat Kesuksesan”.
Gue belum nyadar kalau hal pertama yang menghambat kesuksesan adalah… turun terlalu cepat.
Episode 2: Bapak Itu Kelihatan Tahu Arah Hidupnya
Sekitar 20 menit di bus, gue mulai bosan. Lalu ada bapak-bapak di kursi depan berdiri dengan penuh kharisma. Langkahnya mantap. Napasnya stabil. Dia pegang tas seperti orang yang punya agenda penting.
Gue langsung berpikir: "INI DIA. ORANG YANG JUGA MAU KE SEMINAR."
Tanpa pikir panjang, gue ikut turun di halte yang sama. Masuk ke jalanan dengan percaya diri level CEO, dan mulai berjalan. 5 menit. 10 menit. Panas. Debu. Tapi gue tetap yakin: bapak itu pasti tahu.
Sampai akhirnya dia masuk ke… warung padang.
Episode 3: Gue, Sinyal, dan 2 KM Ke Belakang
Di situ gue sadar: hidup ini penuh tipu daya. Kadang orang yang lo kira tahu jalan, ternyata cuma lapar.
Gue buka maps. Ternyata lokasi seminar masih dua halte lagi. Dan terletak di arah berlawanan. Ya, jadi dari semangat hidup yang udah menurun karena kurang sarapan, sekarang ditambah dengan kaki pegal dan harga diri yang anjlok.
Gue mau naik Trans lagi? Bisa. Tapi gengsi. Masa naik lagi, turun lagi? Nanti dikira orang baru bebas.
Akhirnya gue jalan kaki. Dalam cuaca 34°C. Dengan baju yang awalnya rapi dan sekarang udah kayak jemuran yang lupa diangkat pas hujan.
Episode 4: Seminar yang Menguji Iman
Gue sampai di tempat seminar dalam keadaan kayak habis digaruk kehidupan. Duduk di barisan paling belakang, mencoba menyerap kata-kata motivator yang bilang: “Kita harus tahu tujuan kita, jangan ikut-ikutan orang.”
Gue menatap langit-langit. Tertawa kecil dalam hati. Karena kata-kata itu datang dua halte terlalu terlambat.
Epilog: Sebuah Tanda Tanya
Gue pulang dengan tiga pelajaran:
-
Jangan asal ngikutin orang, walaupun gayanya meyakinkan.
-
Warung padang bisa jadi tempat tujuan yang jauh lebih penting dari seminar kehidupan.
-
Motivator paling jujur kadang bukan yang di panggung, tapi pengalaman pahit lo sendiri.
Penutup: Jangan Percaya Gaya Jalan Orang
Jadi, kalau lo lagi di transportasi umum dan liat orang berdiri penuh wibawa, jangan langsung mikir mereka tahu jalan. Bisa jadi mereka cuma haus. Atau kebelet. Atau mau ke Indomaret.
Percaya sama diri sendiri. Atau setidaknya… percaya sama Google Maps.
Salam dari gue, Alumni Universitas Salah Turun
메타데이터
- post_id
- 28a58ca7db0d
- slug
- salah-turun-salah-dunia-ketika-gue-mengikuti-orang-asal-asalan-28a58ca7db0d
- url
- https://medium.com/@chaesario_/salah-turun-salah-dunia-ketika-gue-mengikuti-orang-asal-asalan-28a58ca7db0d
- canonical_url
- https://medium.com/@chaesario_/salah-turun-salah-dunia-ketika-gue-mengikuti-orang-asal-asalan-28a58ca7db0d
- author_url
- https://medium.com/@chaesario_
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 02:17:25