← Back to list

Berani Menulis (11)

Prinsip 9: Kedisiplinan dan Ketepatan Waktu

Muhammad Fakhri Fadhlillah · 2026-07-04 13:01 · 0 claps · 3.1 min read
#berani #menulis #disiplin #tepat-waktu
Open on Medium ↗

Berani Menulis (11)

Prinsip 9: Kedisiplinan dan Ketepatan Waktu

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, kita kembali dipertemukan. Kembali lagi dengan saya Muhammad Fakhri Fadhlillah yang masih belajar, masih berproses, dan masih berusaha mengambil pelajaran dari setiap ayat Al-Qur’an agar tidak hanya berhenti sebagai bacaan, tetapi benar-benar menjadi petunjuk dalam menjalani kehidupan.

Pada tulisan sebelumnya kita telah belajar tentang pentingnya membangun pola pikir positif terhadap setiap ketentuan Alloh. Kini, kita melanjutkan perjalanan pada prinsip kesembilan dalam buku 30 Prinsip Hidup dari Al-Qur’an karya Nor Kandir, yaitu kedisiplinan dan ketepatan waktu.

Di zaman sekarang, hampir semua orang mengaku sibuk. Kalender penuh, daftar tugas bertambah, notifikasi datang tanpa henti, dan waktu seakan selalu kurang. Ironisnya, bukan karena kita tidak memiliki waktu, melainkan karena sering kali kita belum mampu mengelolanya dengan baik. Kita mudah menunda pekerjaan, terlambat memenuhi janji, bahkan terkadang lalai terhadap kewajiban yang telah ditetapkan oleh Alloh.

Padahal Islam sejak awal telah mendidik umatnya menjadi pribadi yang disiplin. Bahkan sebelum mengenal manajemen waktu modern, seorang Muslim telah diajarkan untuk hidup mengikuti ritme waktu melalui ibadah yang paling utama, yaitu sholat.

Alloh Swt. berfirman:

“Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)

Ayat ini tampak sederhana, tetapi mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Alloh tidak hanya memerintahkan shalat, tetapi juga menentukan waktunya secara jelas. Ada waktu untuk shalat Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, dan Isya. Tidak bisa dipercepat sesuka hati, tidak pula ditunda tanpa alasan yang dibenarkan.

Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, waktu bukan sekadar angka yang terus bergerak pada jam, melainkan amanah yang harus dijaga.

Menariknya, ayat ini turun setelah pembahasan mengenai sholat khauf, yaitu sholat yang dilaksanakan ketika berada di medan perang. Artinya, bahkan dalam kondisi genting sekalipun, ketika nyawa menjadi taruhannya, sholat tetap memiliki aturan waktu yang harus dijaga.

Jika di tengah peperangan saja seorang Muslim tetap dituntut disiplin terhadap waktu, lalu bagaimana dengan kita yang hidup dalam keadaan jauh lebih aman?

Sering kali kita merasa terlambat bangun karena begadang tanpa tujuan. Menunda pekerjaan hingga mendekati tenggat waktu. Mengulur-ulur amanah dengan alasan “masih ada waktu.” Padahal yang sebenarnya terjadi bukan kekurangan waktu, melainkan kurangnya kedisiplinan dalam menggunakannya.

Padahal setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali.

Kedisiplinan bukan hanya tentang datang tepat waktu dalam sebuah pertemuan atau menyelesaikan tugas sebelum tenggat. Lebih dari itu, kedisiplinan adalah bentuk penghormatan terhadap amanah yang diberikan Alloh kepada kita.

Orang yang disiplin menunjukkan bahwa ia menghargai dirinya sendiri, menghargai orang lain, dan menghargai nikmat waktu yang telah Allah titipkan.

Sebaliknya, kebiasaan menunda sering kali lahir dari rasa nyaman yang berlebihan. Kita berpikir masih ada besok, masih ada kesempatan lain, padahal tidak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui apakah esok masih menjadi bagian dari hidupnya.

Rasulullah Saw. pernah bersabda bahwa ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang. Hadis ini terasa semakin relevan di era sekarang. Betapa mudahnya kita menghabiskan berjam-jam menggulir media sosial, menonton video tanpa tujuan, atau larut dalam hiburan, sementara target belajar, membaca Al-Qur’an, menyelesaikan pekerjaan, bahkan bercengkerama dengan keluarga justru tertunda.

Waktu yang kita sia-siakan hari ini akan menjadi penyesalan yang tidak bisa diulang esok hari.

Saya pun menyadari bahwa menjadi disiplin bukanlah perkara mudah. Ada hari-hari ketika rasa malas datang, ada saat-saat ketika semangat menurun, ada waktu ketika target yang dibuat justru dilanggar oleh diri sendiri. Namun, bukankah kedisiplinan memang dibangun dari latihan kecil yang dilakukan secara terus-menerus?

Mungkin dimulai dari bangun lebih pagi.

Menepati janji.

Datang sebelum waktu yang ditentukan.

Tidak menunda tugas yang sebenarnya bisa dikerjakan hari ini.

Menjadikan sholat tepat waktu sebagai prioritas utama.

Karena sesungguhnya, orang yang mampu mengatur waktunya sedang belajar mengatur hidupnya.

Dan orang yang mampu menjaga waktunya, sedang menjaga masa depannya.

Yang menarik, Islam tidak mengajarkan kita untuk sekadar sibuk. Islam mengajarkan kita agar setiap waktu bernilai ibadah. Setelah satu urusan selesai, kita diarahkan untuk segera beralih kepada urusan lain yang lebih bermanfaat. Hidup seorang Muslim bukanlah kehidupan yang dipenuhi kemalasan, tetapi kehidupan yang produktif, teratur, dan penuh makna.

Kepribadian unggul bukan dibentuk oleh satu pencapaian besar, melainkan oleh kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Dan salah satu kebiasaan terbesar itu adalah menghargai waktu.

Hikmah yang dapat kita renungkan dari prinsip ini adalah bahwa waktu merupakan amanah yang tidak bisa dibeli, dipinjam, ataupun diulang. Kedisiplinan bukan sekadar kemampuan mengatur jadwal, melainkan bukti kesungguhan seseorang dalam menjalankan amanah yang Allah berikan. Semakin kita mampu menjaga waktu, semakin kita sedang membangun karakter yang bertanggung jawab, produktif, dan siap mempertanggungjawabkan setiap detik kehidupan di hadapan-Nya.

Semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, menyegerakan setiap kebaikan, menjaga setiap amanah, serta menjadikan kedisiplinan sebagai bagian dari akhlak seorang Muslim.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.

Sampai jumpa pada pembahasan prinsip berikutnya, insyaAllah. Semoga setiap langkah kecil yang kita usahakan menjadi jalan menuju pribadi yang lebih baik di sisi Alloh Swt.


메타데이터
post_id
28b33ff3716b
slug
berani-menulis-11-28b33ff3716b
url
https://medium.com/@muhammadfakhrifadhlillah/berani-menulis-11-28b33ff3716b
canonical_url
https://medium.com/@muhammadfakhrifadhlillah/berani-menulis-11-28b33ff3716b
author_url
https://medium.com/@muhammadfakhrifadhlillah
status
ok
fetched_at
2026-07-09 01:30:37