← Back to list

Kereta Terakhir dari Kepanjen

Malam itu, Kepanjen lebih bising dari biasanya. Hiruk pikuk lampu jalan, klakson, dan suara riuh rendah orang-orang yang bergegas mengejar…

alifmdafa · 2025-01-08 12:57 · 0 claps · 1.7 min read
#rekah
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment

Kereta Terakhir dari Kepanjen

[embed]

Malam itu, Kepanjen lebih bising dari biasanya. Hiruk pikuk lampu jalan, klakson, dan suara riuh rendah orang-orang yang bergegas mengejar kereta terakhir seperti cerita lama yang tak pernah usai. Aku berdiri di peron, tas menggantung di bahu, dan telinga mendengarkan lagu Rekah: Kereta Terakhir dari Palmerah.

Setelah sempat dirundung skeptisisme usai merilis Panduan Penunda Kiamat dan dua lagu berikutnya yang, menurutku, terasa seperti tumpukan sampah, Rekah mengejutkan dengan Kereta Terakhir dari Palmerah. Dibandingkan karya-karya sebelumnya, Kereta Terakhir dari Palmerah memang lebih lembut, bahkan terasa jazzy. Lagu ini terasa seperti soundtrack hidupku. “Kapan aku bisa pulang?” tanya lirik itu, dan aku bertanya hal yang sama.

Aku tahu aku tak sendiri. Di sekitar, wajah-wajah letih berbaris, menunggu kereta yang sama. Ada yang menguap, ada yang sibuk dengan ponsel, dan ada yang hanya menatap kosong ke arah rel, seolah berharap kereta yang datang bisa membawa mereka pergi lebih jauh dari sekadar rumah.

Kereta yang Membawa Mimpi, Bukan Orang

Kereta datang, tapi rasanya tak membawa siapa pun pulang. Setiap perjalanan terasa sama saja. Semua orang naik dengan mimpi, tapi turun dengan beban yang sama beratnya. Di dalam gerbong, orang-orang tampak seperti patung — diam, bergerak tanpa jiwa. Mereka berbicara dalam diam, lewat wajah-wajah yang lelah: kerja sampai larut, revisi tak pernah selesai, dan mimpi-mimpi yang perlahan memudar seperti lampu kota yang kita lewati.

Saat kereta melaju, aku menatap jendela. Kota ini terlalu terang, tapi entah kenapa selalu terasa gelap. Lalu lirik itu datang lagi, menghantamku: “Andai Mahdi cepat datang, atau Dajjal barangkali .. Tolong bawa aku pulang.” Kegelisahan ini mencapai absurditas. Harapan pada penyelamat ilahi, atau bahkan kehancuran besar, terasa lebih logis daripada terus berjuang di roda hamster ini. Aku tahu aku tidak sendirian. Aku tahu banyak orang diam-diam berdoa untuk sesuatu — apa saja — yang bisa mengakhiri siklus ini.

Mimpi Itu Mahal, Harganya Adalah Kita

Kereta berhenti di stasiun akhir. Aku turun, melangkah keluar ke udara malam yang dingin, dan menatap langit yang pekat. Kepanjen sudah sunyi, tapi keputusasaan tetap mengalun di kepala. “Kereta terakhir menjerit memanggil, bawa aku pergi jauh.” Tapi pergi ke mana? Bahkan rumah pun bukan lagi tempat pulang. Rumah hanyalah tempat tubuh ini merebah, menunggu alarm pagi mengantarku kembali ke siklus yang sama.

Dan di malam itu, aku sadar satu hal: aku bukan sekadar pekerja. Aku adalah tahanan. Dan seperti lirik terakhir dari Rekah, aku hanya ingin satu hal: “Bawa aku pergi jauh”


메타데이터
post_id
28de2d0e00bd
slug
kereta-terakhir-dari-kepanjen-28de2d0e00bd
url
https://medium.com/@alifdafamd/kereta-terakhir-dari-kepanjen-28de2d0e00bd
canonical_url
https://medium.com/@alifdafamd/kereta-terakhir-dari-kepanjen-28de2d0e00bd
author_url
https://medium.com/@alifdafamd
status
ok
fetched_at
2026-07-21 09:33:07