Yang mengkhawatirkan masa depan, dan menangisi masa lalu
lingkaran kepedihan yang tak pernah berujung
Yang mengkhawatirkan masa depan, menangisi masa lalu
lingkaran kepedihan yang tak pernah berujung

Sejujurnya aku tak pernah tahu apa, bagaimana, dan mengapa hal ini bisa tumbuh begitu kuat di dalam jiwaku. Seolah aku memang lahir dari lingkaran ini, lingkaran kesedihan yang tak akan pernah aku temui ujungnya. Atau setidaknya begitu, aku harap tidak.
Tak pernah bermula, tak pernah berakhir, tak pernah ada tanda-tanda akan menghilang. Rasa ini terlarut di dalam darah yang mengalir ke seluruh tubuhku, mengkristal dalam tulangku, menjadi daging dari ujung kepala hingga ujung kakiku.
Aku ingat betul dahulu kala ketika aku masihlah seorang ‘anak kecil’, aku mencemaskan masa depan yang nantinya akan datang. Aku mencemaskan segala sesuatu yang tidak pasti, karena aku takut sekali, sangat takut menghadapi sesuatu yang begitu berat.
Aku selalu merasa harus mempersiapkan segalanya, aku selalu berpikir “Ah, biarlah aku bersusah diri sekarang, nanti hanya perlu bersantai” sebagai bentuk pertahanan atas rasa itu
Tapi, pada akhirnya tak semua hal yang aku khawatirkan benar-benar terjadi. Malah aku tak pernah sampai pada titik masalah yang selama ini aku khawatirkan begitu dalam.
Namun di masa kini pun aku tak berubah banyak. Aku menjadi begitu emosional dikala mengenang masa lalu, ketika aku memikirkan betapa banyaknya keputusan-keputusan yang aku sesali, ketika aku lupa membalas pesan temanku, atau ketika aku berbicara dengan ‘salah’.
Aku bebankan semua penyesalan itu baik-baik di dalam benakku sendiri, pundakku terasa begitu berat karena tanggung jawab lama yang kuanggap tak aku jalani dengan baik.
Semuanya hanya berdasarkan perspektif ku seorang, oleh sebab itu aku mencari validasi dari orang yang aku temui.
Aku selalu bertanya kepada mereka, seperti apakah pendapat mereka tentang aku, apakah nada bicaraku terlalu tinggi? Apakah pakaian yang aku kenakan sudah cukup sopan? Apakah aku menyusahkan mereka?
Karena aku takut, aku takut melakukan sesuatu yang “salah”. Aku ingin memperkecil kemungkinan aku menyesali sesuatu yang aku jalani pada detik ini. Aku anggap itu sebagai bentuk pertahanan, lagi. Tapi pada akhirnya aku hanya mempersiapkan hal yang tak seharusnya aku pikirkan sedalam itu.
Ya, mungkin aku memang tidak bisa terlepas dari belenggu perasaan ini. Mungkin suatu hari nanti, tapi kurasa tidak dalam waktu dekat
Kalau kalian tidak mengerti, tidak apa-apa. Aku pun tak mengerti apa yang sedang aku ketik
메타데이터
- post_id
- 290b034a1730
- slug
- aku-yang-sekarang-menangisi-masa-lalu-kemudian-aku-di-masa-depan-menangisi-masa-sekarang-290b034a1730
- url
- https://medium.com/@vtxxqsmp/aku-yang-sekarang-menangisi-masa-lalu-kemudian-aku-di-masa-depan-menangisi-masa-sekarang-290b034a1730
- canonical_url
- https://medium.com/@vtxxqsmp/aku-yang-sekarang-menangisi-masa-lalu-kemudian-aku-di-masa-depan-menangisi-masa-sekarang-290b034a1730
- author_url
- https://medium.com/@vtxxqsmp
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30