Ilmu yang Bermanfaat, dan yang Belum
Kenapa ilmu yang kita kumpulkan terasa “menggantung”? Tentang salah jurusan dan lebih baik dari kemarin.
Ilmu yang Bermanfaat, dan yang Belum
Kenapa ilmu yang kita kumpulkan terasa “menggantung”? Tentang salah jurusan dan lebih baik dari kemarin.
Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan. Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.
Photo by Maciej Karoń on Unsplash
Doa ini saya dengar pertama kali di kajian Riyaadushshaalihiin Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri entah di suatu hari di tahun 2021. Doa ini berasal dari hadist riwayat Ibn Majah yang dianjurkan untuk kita resapi setiap pagi.
Sebelum itu, doa yang akrab di lisan saya untuk urusan ilmu adalah potongan QS Thaha ayat 114, berbunyi “Robbi zidnii ‘ilmaa warzuqnii fahman”, yang artinya “tambahkanlah ilmuku, dan berikanlah aku pemahaman.” Setelah direnungkan, keduanya ini ternyata bekerja pada tataran yang berbeda dan saling melengkapi.
Ketika doa yang kedua berfokus pada akusisi dan penerimaan ilmu itu sendiri, sedangkan doa yang pertama memperluas cakupan dari permohonan kita. Ia menyusun tiga hal sebagai satu kesatuan, yaitu ilmu, rezeki, dan amal. Permintaannya juga lebih spesifik daripada sekadar penambahan kuantitas. Ilmu yang dimohon adalah ilmu yang naafi’. Rezeki yang dimohon adalah rezeki yang thayyib. Amal yang dimohon adalah amal yang mutaqabbal.
Susunan ini menggeser sesuatu dalam cara kita (atau setidaknya diri ini) memahami posisi seorang penuntut ilmu. Pemahaman, sebagaimana yang dimohon dalam doa pertama, adalah syarat tetapi bukan jaminan. Pemahaman bisa berhenti di kepala. Pertanyaan di Akhirat menyangkut bagaimana amanah ilmu yang dititipkan akhirnya ditempatkan dan diaplikasikan, di luar soal berapa banyak yang dipahami.
Dengan kata lain, doa yang kedua memohon proses penerimaan dan pencernaan ilmu agar berjalan dengan baik. Doa yang pertama memohon agar ilmu yang sudah ada bisa sampai pada hasil yang diterima oleh Allah. Doa warzuqni fahman mengiringi langkah belajar, sedangkan doa ‘ilman naafi’a’n mengiringi pertanggungjawaban atas apa yang sudah dipelajari.
Esai ini adalah upaya membaca doa pertama dari posisi seorang yang membawa sejumlah ilmu yang belum sempat menjadi amal, dan yang menyadari bahwa bagaimana ilmu-ilmu yang ia kumpulkan selama puluhan tahun itu akan dipertanggungjawabkan di Akhirat kelak — sesuatu yang bukan berada dalam kuasanya secara total.
‘Ilman Naafi’an Sebagai Manfaat yang Belum Terlihat
Di awal tahun 2020, semester enam perkuliahan, sang kepala program dari beasiswa yang saya dapatkan saat itu, Teh Sinta Nurhia Dewi, bertanya tentang rencana pasca kelulusan. Jawaban saya waktu itu “ingin kuliah lagi,” mungkin di program pascasarjana berbau komputasi, kalau bisa FMIPA ITB lagi (baca: Magister Sains Komputasi) — di lingkungan yang familiar. Memang di saat itu sudah ada ketertarikan samar-samar pada pemrograman, sekaligus keraguan apakah track record S1 saya cukup sebagai bekal untuk mata kuliah matematika (jalur murni) di level magister. Berkaca balik, itu bukan jalan yang saya tempuh. Tapi substansinya tidak meleset-meleset amat.
Menariknya, mata kuliah matematika yang pernah dua kali saya ambil (kalkulus peubah banyak) dan yang awalnya tidak saya sukai (analisis data dan statistika) ternyata adalah bread and butter dari domain yang kini saya tekuni, yaitu pembelajaran mesin. Hubungan saya dengan cabang-cabang ilmu matematika ini akan cukup akurat dideskripsikan sebagai “benci jadi cinta.” Apa yang saat itu terasa berat atau membosankan, ternyata malah sangat terpakai di saat ini daripada apa yang saat itu jadi primadona di mata saya — teori graf.
Bersamaan dengan kuliah formal, sepanjang S1 ada serangkaian “studi paruh waktu” yang berjalan di malam hari atau akhir pekan, antara lain Sekolah Pemikiran Islam (SPI) mengenai serba-serbi ghazwul fikr, PIMPIN untuk pengantar mantiq dan sains Islam, kelas bahasa Arab, coaching workshop, kemudian sekolah pra-nikah. Tidak satu pun dari ini menghasilkan output yang bisa ditunjukkan secara langsung di masa itu. Dari SPI saya tidak menjadi pemikir Islam. Dari PIMPIN tidak menghasilkan seseorang yang siap melakukan islamisasi ilmu modern. Kelas bahasa Arab tidak menghasilkan penutur Arab. Coaching workshop tidak menghasilkan coach. SPN tidak menghasilkan seseorang yang siap menjadi istri.
Ilmu yang bermanfaat terkadang tidak dapat diverifikasi kebermanfaatannya secara langsung ketika ia diterima. Di samping proses belajarnya dan efek samping dari menghadiri lingkaran ilmunya itu sendiri, substansi ilmunya sendiri kerap tampak sia-sia, atau justru berguna untuk hal yang akhirnya tidak terjadi, atau berguna dalam bentuk yang sama sekali tidak diantisipasi. Bahasa Arab tidak menghasilkan kemampuan berbicara, tetapi meninggalkan kedekatan dengan al-Qur’an. Coaching workshop tidak menghasilkan profesi, tetapi melatih kapasitas mendengar dan berbicara.
Ada perbedaan antara ilmu sebagai
- lapisan pertama: sesuatu yang ditarik saat dibutuhkan, dan
- lapisan kedua: sesuatu yang membentuk cara seseorang menghadapi persoalan.
Pengalaman saya sejauh ini menonjolkan bahwa lapisan kedua lebih dominan dalam menentukan apa yang akhirnya menjadi amal. Ilmu meninggalkan disposisi, afinitas, kapasitas, cara melihat, yang kemudian diaktifkan oleh berbagai situasi dan kondisi hidup. Cara melihat yang ditinggalkan oleh ilmu yang dipelajari dengan sungguh-sungguh bersifat transferable; ia bisa berpindah dari satu domain ke domain yang sama sekali berbeda, membuat kognisi kita lebih luwes dan lebih siap menerima persoalan baru yang tidak pernah kita antisipasi sebelumnya. Lapisan ini yang membuat ilmu, sekalipun panggung amalnya belum dibukakan, menjadi tidak sia-sia.
Bagaimana kaitannya dengan doa tadi? Kiranya, meminta “ilmu” secara begitu saja terasa terlalu kasar sebagai permintaan. Permintaan yang lebih komprehensif adalah ilmu yang naafi’, dengan pengakuan bahwa di mana manfaatnya akan ditemukan adalah kuasa Allah SWT.
Rizqan Thayyiban Sebagai Kondisi yang Membuat Amal itu Bisa Terjadi
Bagian tengah dari doa ini paling sering luput dari perhatian, atau menjadi perhatian utama di doa-doa lain yang fokusnya memang rezeki material. Dalam susunan tiga klausa ini, rizqan thayyiban menempati posisi yang unik. Ia tidak sekedar permintaan tambahan di samping ilmu dan amal, melainkan jembatan di antara keduanya.
Mengapa rezeki yang baik disebut bersama ilmu yang bermanfaat dan amal yang diterima? Karena tanpa kondisi yang disediakan oleh rezeki, sebagian ilmu sulit punya tempat untuk menjadi amal. Ilmu mengajar/pedagogi tidak dapat diamalkan tanpa murid. Ilmu tentang haji tidak bisa diamalkan sebelum kita mendapatkan panggilan ke Baitullah. Ilmu kepemimpinan tidak dapat diamalkan tanpa amanah memimpin. Ilmu pengolahan sampah yang hi-tech tidak dapat diamalkan tanpa infrastruktur yang memadai. Rizq thayyib adalah ruang yang Allah bukakan, dan di situlah ilmu yang sudah ada dalam diri seseorang bisa diaplikasikan dan diuji.
Membaca hidup dengan kacamata ini menggeser banyak hal (lagi-lagi, setidaknya bagi saya). Apa yang biasa diceritakan sebagai prestasi atau hasil usaha lebih jujurnya merupakan bukaan. Persiapan diri sebagai ikhtiar tetap kewajiban, antara lain menulis surel itu, mengirim aplikasi itu, menjaga adab di setiap saat, dan lain-lain. Jalan yang lancar, pintu yang terbuka, termasuk kunci pintu yang tidak macet, sementara itu, untuk kebanyak kita, kadang tidak memikirkannya sama sekali — karena hakikatnya adalah pengaturan dari al-Latif.
Konsekuensinya, syukurnya seorang penuntut ilmu tidak hanya layak diarahkan pada hasil yang muncul di atas panggung, tetapi pada panggung itu sendiri. Bahwa ada murid yang datang, bahwa ada amanah yang diberikan, bahwa ada situasi yang memanggil ilmu kita keluar dari simpanan, semua itu adalah rezeki sebelum amal apa pun dilakukan di atasnya. Mengabaikan lapisan ini membuat kita mudah terjebak menilai diri dari akhirnya saja.
Di sisi lain dari struktur ini, ada ilmu yang sudah ada tetapi rezekinya belum dibukakan. Itu tidak menunjukkan kekurangan dalam ilmunya, dan tidak menunjukkan kekurangan dalam orang yang menerimanya. Itu adalah struktur dari hubungan ketiga bagian di dalam du’a ini, di mana ‘ilman naafi’an meminta ilmu yang akan bermanfaat, rizqan thayyiban meminta kondisi yang membuat manfaat itu mungkin terwujud, dan ‘amalan mutaqabbalan meminta agar terwujudnya itu diterima. Permintaan dan persiapan adalah wilayah yang ada di tangan kita. Penjadwalan kapan ilmu mana bertemu rezeki mana berada di luar wilayah itu.
Bagaimana dengan yang “Salah Jurusan”?
Argumen sejauh ini berbicara tentang ilmu yang sudah utuh sebagai ilmu, tetapi belum bertemu rezeki amalnya. Ada persoalan lain yang sering muncul, yaitu rasa “salah jurusan”, entah pada masa kuliah, masa kerja, atau pada masa kehidupan tertentu. Persoalan ini perlu didekati dengan hati-hati, karena ia menyentuh dua hal sekaligus yang sebaiknya tidak dicampuradukkan.
Hal pertama, apa yang awalnya kita pelajari dan bagaimana itu terterjemahkan menjadi pekerjaan atau profesi memang tidak selalu ideal. Ia bergantung pada kebutuhan masyarakat, kondisi ekonomi, lapangan kerja yang tersedia, dan keadaan diri. Banyak orang bekerja di bidang yang tidak mereka pilih dengan bebas, atau menempuh pendidikan yang tidak persis dengan minat awalnya. Ini tidak semata-mata disebut sebagai kegagalan dalam menuntut ilmu. Seperti itu adalah dinamika hidup yang sah, dan rezeki dalam pengertian yang luas tetap memuat kondisi seperti ini. Pekerjaan yang tampak “tidak sesuai” pada satu titik bisa menjadi jalan yang membentuk seseorang dengan cara yang tidak ia rancang sebelumnya.
Hal kedua, ada persoalan epistemis yang berbeda dari rasa salah jurusan, yaitu apakah pengetahuan yang dikumpulkan benar-benar menjadi ‘ilm dalam pengertian yang membentuk jiwa, ataukah hanya menumpuk sebagai ma’lumat; informasi yang tertata di kepala tanpa pernah turun menjadi pemahaman yang benar tentang diri, alam, dan Tuhan? Pembedaan ini, sebagaimana dijaga dengan ketat oleh Alm. Syed Muhammad Naquib al-Attas (semoga Allah merahmatinya) dalam tradisi pendidikan sebagai ta’dib, penting karena ia memberi kita alat untuk membedakan dua kondisi yang sering tertukar: ilmu yang sudah utuh tetapi belum bertemu panggung amalnya, dan ilmu yang sebenarnya belum pernah utuh sebagai ‘ilm sejak awal. Yang pertama menuntut sabar; yang kedua menuntut pengulangan dan pembenahan adab.
Tanda-tandanya tidak selalu jelas dari luar, dan bahkan dari dalam diri sendiri seringkali samar. Tetapi pertanyaan yang bisa diajukan adalah: apakah pengetahuan ini sudah mengubah cara saya melihat sesuatu yang ada di hadapan saya hari ini, atau ia hanya tersimpan sebagai arsip yang sewaktu-waktu bisa dikutip? Jika memang jawabannya yang kedua, persoalannya bukan menunggu rezeki amal, melainkan menyelesaikan dulu turunnya pengetahuan itu menjadi ‘ilm. Pembedaan itu sendiri selayaknya membutuhkan otoritas eksternal — guru, lingkungan ilmu, mungkin teks — dan menghidari sekadar introspeksi solo.
Seseorang dapat mempelajari bidang yang manapun, dan tetap menjadikannya ‘ilm yang sebenarnya, asalkan ia memperlakukan pengetahuannya dengan adab yang benar dan menempatkan dirinya di hadapan Allah dengan posisi yang benar pula. Sebaliknya, seseorang dapat mempelajari bidang yang dianggap paling “ideal” sekalipun, dan tetap berhenti di level ma’lumat kalau orientasi epistemisnya keliru.
Implikasinya, faktor yang menentukan adalah bagaimana kita menyikapi rezeki keilmuan dan pekerjaan yang sedang berada di tangan saat ini, di luar soal kesesuaian bidang dengan minat atau identitas seseorang. Pekerjaan yang tampak kurang ideal bisa diperlakukan sebagai amanah; pengetahuan yang diperoleh darinya bisa dijadikan jembatan ke pemahaman yang lebih dalam tentang realitas; adab dalam mempelajari dan mengamalkannya bisa terus dijaga. Wilayah ini sepenuhnya berada dalam tangan kita.
Apa yang dimaksud dari “Lebih Baik dari Kemarin”?
Ada ungkapan yang dikenal luas, sering disampaikan dari mimbar dan dipopulerkan dalam tradisi nasihat — bahwa hari ini seorang muslim semestinya lebih baik dari kemarin. Lafazhnya kerap disandarkan kepada Rasulullah ﷺ, meski para muhadditsin menilai jalur-jalurnya lemah, sebagian bahkan menggolongkannya sebagai bukan hadits. Substansinya sendiri ditopang oleh ayat-ayat seperti al-’Ashr dan al-Hasyr ayat 18 yang berbicara tentang kerugian waktu dan tuntutan introspeksi terhadap apa yang sudah dipersiapkan untuk akhirat. Pada level inilah prinsip ini dipakai sebagai pengantar muhasabah harian, yaitu menghisab diri secara berkala dengan membandingkan keadaan hari ini dengan keadaan kemarin di hadapan Allah. Muhasabah harian menjadi cara konkret untuk memastikan bahwa hidup tidak berjalan dalam autopilot, dan bahwa setiap hari ada gerakan menuju yang lebih baik.
Pemaknaan tentang “yang lebih baik” yang paling sering muncul menarik prinsip ini ke ranah amalan ibadah yang terlihat, misalnya jumlah rakaat sunnah yang ditambah, hafalan yang bertambah, atau sedekah yang lebih sering. Pemaknaan ini valid, dan untuk amalan yang panggungnya memang tersedia setiap hari, muhasabah terhadap output amal seperti ini berjalan dengan baik. Hari ini bisa langsung dibandingkan dengan kemarin, karena unit pembandingnya hadir setiap hari.
Argumen yang sudah dibangun di esai ini menyulitkan muhasabah model demikian untuk amalan yang panggungnya belum dibukakan. Seorang yang ilmu kepemimpinannya melebihi rezeki kepemimpinannya tidak bisa membuat amal kepemimpinannya hari ini lebih baik dari kemarin, sederhana karena panggungnya tidak ada. Apakah berarti ia luput dari prinsip muhasabah harian sama sekali?
Pembacaan yang lebih luas, sebagaimana yang saya dapatkan dalam suatu sesi kelas tematik yang diampu Dr. Ugi Suharto baru-baru ini, memungkinkan jawaban yang berbeda. Hari ini bisa lebih baik dari kemarin pada lapisan yang lebih dalam dari output amal, yaitu pada proses penuntutan ilmunya itu sendiri. Ilmu hari ini bisa lebih baik dari ilmu kemarin dalam beberapa cara; bisa bertambah kuantitasnya, bisa lebih dipahami, bisa lebih meresap ke dalam disposisi diri, bisa lebih beradab dalam cara memperolehnya dan memperlakukannya. Ilmu tidak dapat dipisahkan dari adab, sebagaimana sering ditegaskan oleh para ulama klasik. Maka adab kita hari ini juga semestinya lebih baik dari adab kita kemarin; adab terhadap guru, terhadap teks, terhadap proses, terhadap kesimpulan yang belum kita capai.
Pergeseran fokus ini tidak dimaksudkan menjadi kompromi atau jalan keluar mudah. Ia semestinya mengembalikan tanggung jawab ke wilayah yang memang berada dalam tangan kita. Panggung amal di luar wilayah itu, dan menunggunya sambil menahan diri sudah merupakan amal tersendiri. Tetapi proses penuntutan ilmu dan kualitas adab di dalamnya, sepenuhnya berada dalam wilayah yang kita tanggung sendiri. Di situlah muhasabah harian seorang penuntut ilmu pertama-tama diletakkan.
Sabar sebagai Adab Penuntut Ilmu
Adab penuntut ilmu yang paling sering ditekankan adalah sabr. Lapisan pertama dari sabar cukup jelas, antara lain sabar terhadap kesulitan belajar, teks yang berat, dan pemahaman yang lambat datang. Itu memang sabar. Membaca sabar lewat tiga bagian du’a tadi membawa kita para perenungan lain.
Sabarnya penuntut ilmu, pada lapisan ini, adalah kerendahan epistemik terhadap diri sendiri. Tidak ada akses VIP untuk menilai kebermanfaatan ilmu pada saat menerimanya. Tidak ada kontrol atas rezeki yang akan membukakan ruang amalnya. Tidak ada wewenang untuk memutuskan apakah amalnya diterima. Sabar di sini adalah menahan diri dari posisi menghakimi, tetap mengerjakan, tetap memohon, tetap memegang adab terhadap ilmu yang dibawa, sambil menahan kebiasaan menghitung-hitung dan memvonis diri sendiri.
Doa pembuka esai ini, ‘ilman naafi’an wa rizqan thayyiban wa ‘amalan mutaqabbalan, menyusun tiga hal yang sebagiannya berada di luar tangan kita. Panggung memang di tangan Allah, tetapi mempersiapkan diri agar siap saat panggung dibuka adalah tanggung jawab kita yang berlangsung tiap hari, dan kelalaian dalam persiapan itu tidak bisa disembunyikan di balik bahasa “menunggu rezeki.”
Doa lain yang sering dipakai para ulama untuk menutup majelis ilmu menyusun tiga hal yang seluruhnya bersifat permohonan terhadap apa yang sudah dan akan kita terima.
Allahummanfa’nii bimaa ‘allamtanii, wa ‘allimnii maa yanfa’unii, wa zidnii ‘ilmaa. Ya Allah, berilah manfaat atas apa yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarkanlah aku ilmu yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah ilmu kepadaku. (HR Ibnu Majah)
Waallahu a’lam.
메타데이터
- post_id
- 291cd4c86c33
- slug
- ilmu-yang-bermanfaat-dan-yang-belum-291cd4c86c33
- url
- https://medium.com/@fiddien/ilmu-yang-bermanfaat-dan-yang-belum-291cd4c86c33
- canonical_url
- https://medium.com/@fiddien/ilmu-yang-bermanfaat-dan-yang-belum-291cd4c86c33
- author_url
- https://medium.com/@fiddien
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-22 12:55:45