← Back to list

Lelaki Bingung

kita dan sunset kala itu

Lintang Maharani · 2026-07-15 15:41 · 0 claps · 3.0 min read
#relationships #confused
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Yang Tumbuh Tanpa Kepastian

kita dan sunset kala itu

kita dan sunset kala itu

"beberapa orang datang bukan untuk memberi kepastian. mereka datang hanya untuk membuat kita belajar bahwa perasaan pun bisa tumbuh di tengah kebingungan."

senja selalu punya cara yang aneh untuk membuatku berpikir lebih lama.

mungkin karena langit tidak pernah terburu-buru menjadi gelap. ia perlahan melepaskan cahayanya, seolah memberi waktu bagi siapa pun yang masih ingin menetap.

hari itu aku memandang laut lebih lama dari biasanya. ombaknya datang dan pergi dengan ritme yang sama, sementara pikiranku sibuk mengulang percakapan yang sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai.

aku mengenal seorang lelaki.

atau mungkin…

aku hanya mengenal sebagian kecil dari dirinya.

ia bukan lelaki yang pandai mengumbar kata-kata. bukan juga seseorang yang selalu hadir setiap waktu. tetapi entah kenapa, diamnya sering kali lebih berisik daripada ucapan banyak orang.

kadang ia membuatku merasa dipilih. kadang ia membuatku merasa hanya sedang menebak-nebak. aku mulai bertanya-tanya… apakah memang ia yang membingungkan? atau sebenarnya aku yang terlalu banyak berharap pada hal-hal yang belum pernah ia janjikan?

aku tidak menemukan jawabannya. yang kutemukan hanyalah senja yang terus berganti warna.

mungkin memang begitu rasanya menyukai seseorang.tidak selalu tentang memiliki. kadang hanya tentang belajar menerima bahwa tidak semua perasaan datang bersama kepastian.

dan mungkin…

lelaki itu tidak sedang bermain-main. ia hanya sedang mencari arah. sama sepertiku.

matahari akhirnya tenggelam. meninggalkan langit yang perlahan berubah menjadi gelap, seperti seseorang yang diam-diam belajar menerima kenyataan.

aku masih berdiri di tempat yang sama. tidak menunggu siapa-siapa. hanya belum tahu bagaimana caranya pergi. anehnya, perasaan itu tidak datang dengan gaduh. ia tumbuh perlahan.

sesederhana menunggu pesan darimu. sesederhana berharap namamu muncul di layar ponsel. sesederhana tersenyum karena hal-hal kecil yang mungkin bahkan tidak pernah kau sadari.

barangkali begitulah cinta bekerja. ia tidak meminta izin sebelum menetap. ia hanya datang, lalu diam-diam mengubah banyak hal.

aku mulai mengingat hal-hal yang seharusnya mudah dilupakan. cara kamu tertawa. cara kamu diam. cara kamu mendengarkan. bahkan jeda di antara kalimatmu pun masih kuingat.

padahal, mungkin…

bagimu semua itu hanyalah hari biasa. sedangkan bagiku, hari-hari itu berubah menjadi tempat yang sering ingin kukunjungi kembali.

ada kalanya aku ingin bertanya. “apa sebenarnya yang sedang kita jalani?” tetapi aku takut. bukan takut mendengar jawaban yang salah. aku hanya takut, ternyata tidak pernah ada pertanyaan yang perlu dijawab.

mungkin sejak awal, aku adalah satu-satunya orang yang sibuk memberi arti pada setiap kebetulan.

aku pernah berpikir,mungkin jika aku lebih berani,cerita ini akan berbeda. tetapi kemudian aku sadar. tidak semua kisah gagal karena kurang diperjuangkan. beberapa kisah memang diciptakan untuk mengajarkan kita bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti memilikinya.

kadang, kita hanya dipertemukan agar belajar melepaskan. yang lucu adalah, aku tidak pernah marah kepadamu. bagaimana mungkin aku marah, jika bahkan kamu tidak pernah berjanji akan tinggal? aku hanya kecewa pada diriku sendiri. karena terlalu pandai membangun rumah, di atas tanah yang bahkan belum tentu menjadi milikku.

orang-orang bilang, waktu akan menyembuhkan. tetapi mereka lupa, waktu juga membuat seseorang semakin pandai menyembunyikan luka.

suatu hari nanti, mungkin aku akan benar-benar melupakanmu. bukan karena aku berhenti mencintai. melainkan karena aku akhirnya lelah menunggu seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa sedang kutunggu.

lalu aku memandang laut sekali lagi. ombak tetap datang. tetap pergi. tidak pernah memaksa pantai untuk menahannya, mungkin cinta memang seharusnya seperti itu. hadir dengan tulus dan bila memang harus pergi, pergi tanpa meninggalkan kebencian.

“ada orang yang kita perjuangkan untuk menjadi tujuan. ada pula orang yang ternyata hanya dititipkan semesta untuk mengajarkan arti kehilangan.”

aku pernah percaya bahwa semua orang yang datang membawa ketenangan akan menetap lebih lama. ternyata aku lupa, senja pun selalu berhasil membuat langit terasa indah, padahal sejak awal ia datang hanya untuk berpamitan. mungkin itulah alasan mengapa beberapa pertemuan terasa begitu hangat, agar kita cukup kuat menyimpannya sebagai kenangan ketika akhirnya dipisahkan oleh waktu. tidak semua yang membuat hati tenang ditakdirkan menjadi rumah; sebagian hanya singgah, meninggalkan jejak yang begitu dalam hingga bertahun-tahun kemudian, kita masih mampu mengingatnya hanya dari aroma hujan, warna langit, atau lagu yang tiba-tiba diputar di sebuah kafe.

barangkali, cinta yang paling dewasa bukan tentang siapa yang berhasil kita miliki, melainkan tentang siapa yang tetap kita doakan diam-diam, meski kita tahu namanya tidak lagi tertulis di masa depan yang sedang kita bangun.

“yang paling menyakitkan bukan ketika seseorang memilih pergi, melainkan ketika kita sadar bahwa seluruh rencana tentang masa depan ternyata hanya pernah hidup di kepala kita sendiri.”

— untuk seseorang yang tidak pernah benar-benar kumiliki, tetapi selalu berhasil kutemukan ketika aku menulis tentang kehilangan


메타데이터
post_id
293bc4c7e48b
slug
lelaki-bingung-293bc4c7e48b
url
https://medium.com/@santilestari0282/lelaki-bingung-293bc4c7e48b
canonical_url
https://medium.com/@santilestari0282/lelaki-bingung-293bc4c7e48b
author_url
https://medium.com/@santilestari0282
status
ok
fetched_at
2026-07-19 15:06:05