← Back to list

teologi; antropologi

TEOLOGI; ANTROPOLOGI

Tyo Mokoagow · 2025-02-20 15:05 · 1 claps · 2.0 min read
#filsafat #agama #islam #hanafi #teologi
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

teologi; antropologi

Teologi bagi Hanafi bukan lagi “ilmu tentang Tuhan”, itu hanya definisi etimologis. Teologi adalah ilmu tentang perkataan Tuhan, yang artinya ilmu kalam. Mereka yang menyoal teologi sebenarnya lagi membahas kata-kata Tuhan terhadap manusia (wahyu). Sehingga teologi sesungguhnya lebih banyak membicarakan tentang manusia.

Lewat rangkaian silogisme yang gegar ini, teologi tak ubahnya antropologi. Membicarakan Tuhan artinya membicarakan manusia, dan vice versa. Artinya, bertuhan linier dengan berkemanusiaan. Mereka yang tidak berperikemanusiaan berarti tidak berperiketuhanan.

Rekonstruksi itu tidak berhenti di situ. Hanafi pun meredefinisi Islam yang secara umum dimaknai sebagai penghambaan, ketundukan, ketaklukan, dan kepasrahan. Definisi tersebut berkonotasi pasif. Ia pun menguraikan akar kata Islam yang berasal dari “aslamah” yang sebenarnya mengandung dualisme makna. Ia bisa berarti “tunduk pada Tuhan” dan “tidak tunduk pada apa pun selain Tuhan”. Hanafi mengambil arti yang kedua, bahwa Islam berarti “protes pada apa pun selain Tuhan”. Maka Islam bagi Hanafi adalah “protes” atau “oposisi”.

Dalam penafsiran Hanafi, kalimat syahadat kemudian menjadi kalimat protes. Ia diawali dengan negasi, nafi, atau protes terhadap apa pun selain Tuhan (tiada Tuhan) — protes terhadap tuhan fantasi. Di sini Islam pun menjadi kata kerja yang aktif, tidak sekadar pasif sebagaimana kepasrahan semata. Sebelum menganut Islam yang pasrah kepada Tuhan, kita mesti berislam secara aktif, dan itu hanya bisa melalui protes.

Sampai sini, masyarakat muslim modern adalah masyarakat yang merekonstruksi Tuhan yang berpusat di langit agar bisa dibumikan. Bahwa bertuhan adalah berkemanusiaan. Tidak bertuhan seseorang bila ia tidak melakukan protes terhadap kedzaliman yang ada di muka bumi.

Konsekuensi logis dari teologi sebagai antropologi ini menggeser wacana sentral dalam agama. Bila awalnya langit adalah wacana hegemonial, ia digeser berorientasi ke bumi. Doa yang dilangitkan harus dieksekusi di tatanan sosial maupun ekologis.

Begitupun wacana jiwa yang sentral dalam agama-agama digeser, dengan menempatkan tubuh di tengah-tengah fokus beragama. Ini seperti membalik istilah latin yang terkenal itu: mens sana in corporate sano, di balik tubuh yang sehat ada jiwa yang kuat. Dengan Hanafi, kita bisa menggugatnya, bahwa buat apa punya jiwa yang kuat kalau tubuh sakit-sakitan? Buat apa punya jiwa yang kuat kalau tubuh kelaparan? Bentuk protes sebagai berislam, dan bertuhan sebagai berkemanusiaan, mesti mengejewantahkan diri dalam laku memberantas penyakit dan kelaparan dan kemiskinan. Berislam artinya berjuang untuk kepentingan institusi kesehatan dan pendidikan dan ekonomi.

Wacana teoritis mengenai agama kemudian diganti dengan praktik. Tuhan tidak lagi objek teoritis, pendekatan terhadap Tuhan kini diupayakan lewat laku. Kesadaran akan Tuhan harusnya terekspresikan dalam tindakan-tindakan kemanusiaan. Hanafi merekonstruksi jargon Cartesian dari cogito ergo sum ke poeiea ergo sum, dari aku yang “berpikir” menjadi aku yang “bertindak”, dari alam pikiran ke alam tindakan.

Sedangkan konsep eskatologi tidak lagi sekadar memuat perkara surga-neraka, alam kubur, dan berkumpul dengan siapa kiranya kita di padang mahsyar kelak. Eskatologi sebagai teologi harapan tidak lagi berisi harapan mengenai hidup sesudah mati, tapi juga hidup sebelum mati. Eskatologi menjelma menjadi futurologi, Islam harus memikirkan masa depan dunia bukan melulu masa depan akhirat. Toh buat apa kita ibadah 24/7 tapi kematian kita hanya mewariskan hal-hal yang tidak baik pada masyarakat dan sejarah? Teologi harapan tidak hanya memikirkan apakah kita masuk surga atau tidak, tapi juga memikirkan bagaimana kemaslahatan sosial dan ekologis tetap berlangsung meskipun kita sudah tidak lagi hidup di muka bumi.

hari20

30harimenulisburuk


메타데이터
post_id
29afada7443f
slug
teologi-antropologi-29afada7443f
url
https://medium.com/@tyologi/teologi-antropologi-29afada7443f
canonical_url
https://medium.com/@tyologi/teologi-antropologi-29afada7443f
author_url
https://medium.com/@tyologi
status
ok
fetched_at
2026-07-20 22:19:23