Laci Nostalgia — Perjalanan Menilik Masa Lalu
Seolah aku bersahabat dengan semesta. Ia selalu mempertemukanku dengan resonansi dunia, keselarasan energi antara aku dengan portal-portal…
Laci Nostalgia — Perjalanan Menilik Masa Lalu
Seolah aku bersahabat dengan semesta. Ia selalu mempertemukanku dengan resonansi dunia, keselarasan energi antara aku dengan portal-portal dambaanku begitu terang pijarnya.
Tak memohon, hanya bergeming berkabut khayal memasuki portal Biru duniaku — dulu.
Sekejap, portal Biru di hadapanku, tanpa berjalan menuju ke arahnya. Semesta mengantarku di ambang bawah sadarku. Sampai aku mencoba membukanya — yang sebetulnya pernah kucoba dahulu sekali — dan ia selalu menolak akses untuk dimasuki.
Inilah waktunya?
Aku berdiri di ambangnya,
ragu tuk melangkah enggan tuk mundur perlahan,
Portal itu kini mengenaliku,
tak lagi melakukan penolakan yang kerap dilakukannya dahulu,
jauh sebelum aku mengenalinya kembali.
Debu-debu di dalamnya menyapaku kini,
Aroma rumah yang lama tak disinggahi.
Dalam sekejap aku menembus portal penuh kunci yang tak bisa ditembus sejak dulu.
Terdiam kaku, keheningan langsung menyergapku. Aku tak menyangka bisa kembali ke masa lalu, dengan Portal Biru itu.
Memoriku seketika bersayap mengepak ke udara,
memasuki dimensi masa lalu yang kian melingkupiku.
Bayang-bayang biru segelap samudra,
merah seterang api membara,
kuning kemilau membuat setiap tatap merasakan sakit mata.
Warna-warni yang harusnya terasa begitu bahagia,
kini rasanya seperti bercak noda cat di kain sang perupa.
Aku tak mau manusia masa kini melihat bercak warna-warni di portal yang tak bisa kumasuki lagi.
Sejak kunci itu hilang dicuri, rasanya aku tak memiliki harapan lagi untuk kembali.
Bayang-bayang noda warna-warni begitu mengganggu duniaku, kadang kuning membuatku bergidik jijik, kadang merah membuatku tersulut api kemarahan, dan kadang ia datang berwujud biru tua yang seketika membuatku kalut penuh cemas, atau warna favoritku yang paling intens datangnya, merah muda dengan segala cintanya.
Sungguh, bagaimana cara melenyapkannya?
Entah kabar burung dari mana, aku tak mengingat pastinya
Terdengar kabar, manusia sakti pemegang kunci portal-portal yang hilang.
Dan rasanya aku ingin segera bertemu dengannya.
kabar yang kerap kali hinggap di teras rumahku, menawarkan kunci portal itu.
Ia tak bisa mengembalikan seutuhnya, hanya bisa membantuku melenyapkannya.
Selama ini kupikir keajaiban bentuknya seperti mantra sulap, “simsalabim” dan seketika terjadi.
Namun, semesta tak semudah itu dalam mewujudkan perannya. Ia selalu membuat segalanya seperti “kebetulan biasa” yang kerap terjadi di dalam kehidupan ini. Tak ada keajaiban, tak ada keanehan, pun hidup bukanlah dunia fantasi yang ada dalam imajinasi setiap kepala manusia, begitu abstrak bentuknya.
Aku menyebutnya sinkronitas, atau mungkin memang dinamai sinkronitas oleh kalangan spiritualis yang mempeloporinya.
Aku bermimpi memasuki portal masa lalu untuk mengulik dinamika kehidupanku hingga membentukku hari ini. Semesta seketika terkoneksi sinyalnya. Dengan “kebetulan yang begitu tiba-tiba” portal itu seketika terbuka kuncinya.
Hampir sewindu ini aku tak pernah kembali mencoba mengulik Portal lamaku itu. Sampai pada satu rasa yang hadir kembali, aku terkoneksi dengan portal ilusi itu.
Klik, Dengan mudah, aku kembali membukanya, dan melihat betapa luka-luka berserakan di sana. Aku suka dengan diriku di portal itu, merah menyala warnanya.
Sejenak aku berkaca, kini, merah itu kian pudar, berganti warna menjadi — entahlah, aku belum menemukan definisi warna apa untukku kini.
Dan petualangan dalam portal itu membawaku pada warna-warna lain yang menemaninya.
Portal Ilusiku membuka pintu yang telah lama tertutup. Dan aku selalu rindu pada pintu itu.
Pintu warna biru secerah langit, sejernih air, sebijaksana kehidupan yang menempa.
Warna biru membawaku pada suasana yang sungguh berbeda, ketika di halaman utama aku merasakan jiwa yang merah membara, entah kenapa pintu warna biru menunjukkan suasana berwarna merah muda, dengan pita panjang di kanan-kiri kepalanya.
Rambut kuncir dua, senyum tulus seperti tak menyimpan merah tua.
Rok balok kesukaannya masih melekat pada tubuhnya, imut sekali.
Harusnya ketika aku melihatnya penuh binar tawa canda, karena memang begitu bahagia di sana.
Namun, mengapa ketika aku melihatnya, warna biru turut menyelimuti hatiku, kelabu menyertainya, dan tetesan hujan perlahan membasahi diriku.
Aku tak pernah tahu kalau membuka pintu yang telah lama tak tersentuh itu akan menyertakan kelabu di dalamnya. Padahal, aku hanya ingin melihat gadis itu tertawa dengan rok balon merah mudanya.
Dia tak pernah tahu kalau di portal masa depan, belum menemukan warna favoritnya. Ia tak tahu lagi caranya senyum lepas tanpa berat di bahunya.
Aku tak sanggup menatapnya, aku tutup dan membuka pintu lainnya.
Pintu berwarna coklat dengan bercak menghiasinya–mengotorinya.
Entah mengapa, pintu itu begitu manis meskipun berwarna coklat gelap dan memiliki bercak yang tak begitu terlihat kalau tak melihatnya lamat-lamat.
Warna kuning selalu melingkupi tubuhnya sejak dulu, bahkan aku tak pernah melihat warna lain sebelumnya. Namun, entah mengapa kini pintu itu berwarna coklat tua dengan bercak di seluruh tubuhnya.
Warna kuning yang dulu ia pancarkan, kali ini berwarna coklat gelap dengan narasi yang sama.
Mengapa dulu aku tak memahaminya? Mengapa dulu aku tak bisa melihat kalau tubuhnya berwarna coklat gelap dipenuhi bercak?
Kini, portal itu kosong tak berpenghuni, ia — entahlah, aku bahkan tak berani menyapanya kembali, kalau-kalau, ketidaksadaranku perihal warna coklatnya sejak dulu, membuatnya tidak bisa menerima kehadiranku, kedua kalinya.
Portal biru laut itu membuka diri lebih banyak,
Seakan, ia ingin menceritakan perihal seluas dan sedalam apa samudra yang pernah aku selami, menguji diriku apakah masih bisa menyelami dan menyusuri setiap bagiannya, atau kah tidak.
Membuka lapisan demi lapisan kedalaman yang ia miliki. Ia membuka kembali alasan-alasan “masa depan” mengapa bisa terjadi.
Aku tak pernah tahu kalau portal itu selalu aktif bahkan ketika aku tak bisa memasukinya.
Aku seperti hidup di dua waktu, masa lalu dan masa depan.
Aku tak pernah mengerti mengapa beberapa orang tampak berubah perangainya padaku, padahal aku tak pernah tahu sebabnya, secara tiba-tiba, ia menunjukan warna merah kehitaman tiap kali bertegur sapa denganku, ah tidak hanya aku, karena bahkan ia tak sudi memandangku kala berpapasan di bumi masa depan.
Dan, satu per satu, perlahan, portal masa lalu itu mengungkap setiap hal yang tak pernah kutahu perihal mengapa bisa terjadi.
Bagaimana bisa dua portal bersisian saling tertaut kehidupan? Bagaimana bisa sebab-sebab masa lalu menjadi tolak ukur warna masa depan, yang padahal aku tak pernah tahu sebab-sebab itu sebelumnya.
Namun, portal itu hanya tempat berpijak bagi entitas kehidupan. Ia tak bisa bicara, menjelaskan, bahkan menolong, ia hanya bisa memperlihatkan yang tampak dengan sejujur-jujurnya.
Dan bersama kejujuran itu, hatiku meluruh. Ramuan mantra melenyapkan Portal yang dulu sempat ku inginkan dengan sangat. Melalui manusia sakti, mencoba dengan berbagai kunci, rasanya setelah kembali menyusuri, aku ingin kembali, bukan — bukan untuk kembali hidup di portal itu, namun, aku ingin menyimpannya rapat-rapat, kembali kesana sesekali saat merindu, pada merah membara, coklat yang penuh bercak, hingga warna warni lainnya yang begitu elok kala menatapnya, iya, kini aku tak lagi bergidik dan menghakimi warna-warni itu. Mereka juga warna cantik yang perlu disayangi dengan ketidaksempurnaannya.
Kini, aku keluar, menguncinya, dan menyimpannya di laci nostalgia yang paling berharga. Siapapun tak memiliki aksesnya, hanya menjadi ruang rahasia untukku sesekali berkaca.
Pintu benar-benar tertutup rapat, warna merahku yang dulu pudar, kini telah melebur dengan biru samudra yang baru saja kuselami. Pigmen baru telah kulahirkan dengan nama Ungu.
Di depannya, aku terdiam sejenak bersama bayang-bayang asa yang kubawa, meletakan telapak tangan pada pintu yang pernah kubenci warnanya. Padahal, ia tak pernah melakukan kesalahan apapun atas warna yang tertoreh di sana. . Diam, tak menuntut apa-apa. ini hanya perjalanan saja, wajar akan perubahan-perubahan nyata.
aku tak patut membencinya, ia juga bagian diriku, yang ikut tumbuh bersama waktu.
Aku menerimanya.
Perjalanan ini belum selesai.
Ini adalah Iterasi, petualangan baru yang akan kuselami setelah ini.

메타데이터
- post_id
- 29db5dbe340a
- slug
- laci-nostalgia-perjalanan-menilik-masa-lalu-29db5dbe340a
- url
- https://medium.com/@kainitsuga/laci-nostalgia-perjalanan-menilik-masa-lalu-29db5dbe340a
- canonical_url
- https://medium.com/@kainitsuga/laci-nostalgia-perjalanan-menilik-masa-lalu-29db5dbe340a
- author_url
- https://medium.com/@kainitsuga
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-25 11:00:36