← Back to list

05 | KOTAK MILIK BAPAK.

Mas Nuga, 2018

ranulys · 2026-06-13 22:53 · 0 claps · 2.6 min read
#keluarga #kakak #kehangatan #arsitektur
Open on Medium ↗

05 | KOTAK MILIK BAPAK.

Mas Nuga, 2018

“Pasti habis menjelajahi kedai martabak,” tebak Mas Nuga sesaat setelah ia melepas helmnya.

Kebetulan Mas Nuga baru saja sampai tak lama setelah Bapak memarkirkan motornya di garasi rumah adiknya.

“Iya dong. Lagian Mas sibuk banget, jadi nggak bisa ikut aku sama Bapak deh,” jawabku yang kini sedang berdiri di depan pintu kayu berwarna coklat alami, ciri khas arsitektur Bali yang biasa di sebut dengan angkul-angkul.

Kami kini berjalan bersama melewati angkul-angkul tersebut. Satu demi satu lempengan batu kami pijaki dengan perasaan yang jauh lebih tenang karena dimanjakan dengan pemandangan hijau di sekitarnya. Mas Nuga yang seorang arsitek, sengaja membuat rumah yang benar-benar terasa nyaman bagi keluarga barunya. Membawa arsitektur tradisional Bali dengan sentuhan modern merupakan keinginan dari Mas Nuga, anak bungsu Eyang itu sangat menyukai hunian khas villa Bali.

Angin sore menemani langkah kami saat melewati jembatan kayu dengan sungai buatan di kanan kirinya, sebelum akhirnya sampai di depan dua massa bangunan yang dari depan sudah nampak terlihat dihubungkan dengan jembatan kayu pada area lantai dua.

Gemericik air terdengar jatuh ke kolam renang di depan bangunan rumah sebelah kanan. Suara itu membawaku kembali pada pagi di Jogja — hujan yang turun pelan, udara dingin yang menyusup melalui celah jendela, dan aroma teh rempah resep Uti yang biasa kami nikmati saat hari baru dimulai. Di sini, kenangan itu hadir kembali di sore hari. Ibuku selalu menyeduhkan teh yang sama menjelang senja, seolah memindahkan Jogja ke waktu dan tempat yang berbeda.

Angin tipis menggerakkan daun kamboja, untuk sesaat — segalanya terasa seimbang — seperti rumah itu sedang bernapas bersama kami.

“Kenapa malah diam di situ? Cepet loh sini masuk, hujan itu!” ucap Ibuk menyaksikan kami kompak menikmati gemericik hujan.

“Aduh Ibuk, kami ini sedang menikmati pemberian Tuhan,” jawabku yang kini sengaja mengarahkan wajahnya ke langit, alhasil tetes hujan langsung turun mengenai wajah.

“Yasudah… kalau sudah selesai langsung masuk. Ini handuknya Ibuk simpan di atas lemari samping pintu.”

Kami kembali kompak mengangguk paham. Tak lama kami memutuskan untuk berjalan memasuki pintu utama dengan ukiran rumit, menapaki lantai kayu, lalu disambut dengan cangkir berisi teh rempah yang sudah diletakkan oleh Janina di atas meja kayu ruang keluarga.

Janina — Wanita cantik asal Polandia yang sudah enam bulan resmi menjadi istri dari Mas Nuga. Sungguh ceritanya sangat lucu ketika pertama kali Mas Nuga membawa Janina untuk dikenalkan pada kami, terutama kepada Eyang dan Uti. Kapan-kapan akan aku ceritakan.

Aku dan Janina terpaut usia 10 tahun, namun seperti kebanyakan orang bule lainnya, Janina memintaku untuk memanggil dirinya dengan nama saja. Tanpa basa-basi aku langsung menyetujui permintaannya. Aku sangat menyukai Janina — Mas Nuga memang juaranya memikat hati Wanita!

Eyang dan Uti memiliki dua orang anak — Bapak si sulung dan Mas Nuga si bungsu. Dari kecil, Bapak dan Mas Nuga begitu dekat. Kata Uti, bisa dihitung dengan jari, berapa kali Bapak dan Mas Nuga tidak saling akur hingga di usia sekarang.

Mengingat hal tersebut, aku lagi-lagi dibuat bingung kenapa Bapak dan Mbak Yu begitu sering berbenturan.

Mas Nuga adalah si bungsu yang manja, tentu bukan dalam artian buruk. Mas Nuga sangat pekerja keras, sisi manjanya akan keluar ketika ia sedang di rumah. Mas Nuga tidak segan untuk meminta dekapan kepada kami keluarganya — khususnya kepada Uti. Aku selalu menahan tawa tiap kali melihat Mas Nuga yang tiba-tiba bersandar pada Bapak saat kami sedang menonton film bersama. Bapak yang notabennya memperlihatkan perhatian lewat tindakan, harus berhadapan dengan adiknya yang suka menempel. Kedekatan Bapak dan Mas Nuga sangat terlihat jelas, semakin jelas lagi ketika Mas Nuga memilih tempat tinggal dirinya dan Jenina yang hanya berjarak lima menit dari rumah Bapak dan Ibuk.

Aku begitu dekat dengan Mas Nuga, bahkan jika dibandingkan dengan kedekatanku dengan Bapak. Air mataku bahkan banjir ketika hari pernikahan Mas Nuga. Membayangkan hari-hariku setelahnya tidak akan ada lagi Mas Nuga yang menggangguku saat di rumah Eyang. Tidak ada lagi pelukan sebelum tidur.

Kata Mbak Yu, tangki cintaku sejak kecil sudah penuh, sehingga aku tumbuh menjadi perempuan yang tidak membutuhkan kasih sayang dari lelaki lain di luar sana. Bapak cinta pertamaku, lalu ada Eyang dan Mas Nuga — mereka tiga lelaki yang memberikan banyak cinta kepada duniaku.


메타데이터
post_id
29e07a3beeb5
slug
05-kotak-milik-bapak-29e07a3beeb5
url
https://medium.com/@ranunculus.lys/05-kotak-milik-bapak-29e07a3beeb5
canonical_url
https://medium.com/@ranunculus.lys/05-kotak-milik-bapak-29e07a3beeb5
author_url
https://medium.com/@ranunculus.lys
status
ok
fetched_at
2026-06-24 16:30:55