perayaan kita yang katanya tak ke surga
mereka begitu yakin siapa yang diterima surga. padahal mereka saja tidak tahu cerita di balik jendela sampingnya.
perayaan kita yang katanya tak ke surga

Padahal Juni baru beberapa hari, tapi dunia sudah sibuk berdebat tentang hal yang sama seperti Juni sebelumnya.
“Wah, traktiran apa nih? Menang slot ya?” “Lebih besar.”
Orang gila, di usia dua puluh sekian, apa yang bisa lebih besar dari menang uang secara cuma-cuma?
Dua jiwa gila di kota penuh mahasiswa yang terburu-buru mengejar kelas, pesanan kopi yang datang terlambat, dan kemacetan yang seolah menjadi penghuni tetap Soekarno-Hatta.
Sebagian datang membawa mimpi yang lebih besar dari kamar kos mereka. Sebagian ingin menjadi guru. Sebagian hanya ingin lulus tepat waktu. Kami bagian dari sebagian yang lain.
Satu memulai minggunya dengan misa pagi. Yang satunya memulai hari dengan tidur sampai matahari terlalu tinggi untuk disebut pagi. Yang satu hafal doa-doa. Si bodoh satunya bahkan sering lupa sekarang hari apa.
Aneh ya. Kami bisa menghabiskan berjam-jam membicarakan apa saja, kecuali You-Know-What, He-Who-Must-Not-Be-Named.
Kamu tau aturannya? Kami tidak membicarakan masa depan dengan keras. Tidak bertanya bagaimana hidup berjalan sepuluh tahun dari sekarang. Tidak membahas skenario yang kata dunia sederhana. Lebih mudah memelihara naga dibanding membicarakannya.
Lagipula lebih mudah membicarakan film yang sedang tayang, dosen yang menyebalkan, atau kucing kampus yang tiba-tiba mencuri makan siang. Apa saja kecuali kami topiknya. Apa saja kecuali pertanyaan di belakang kepala setiap kali kami terlalu lama bersama.
Dunia sudah cukup sering meyakinkan kalau beberapa bentuk jiwa seharusnya tidak ada.
Malam ini kami pergi ke tempat yang lebih tinggi dari biasanya.
Angin Batu yang dingin menembus jaket tipis yang kupakai. Aroma tanah dan dedaunan basah ikut terbawa bersamanya. Dari sini, Malang terlihat berbeda, menyala dalam ribuan titik cahaya. Lampu rumah, lampu jalan, lampu 1001 gerai ayam yang tak pernah tutup.
Dari sini semuanya terlihat indah. Tidak ada yang bisa menebak cerita macam apa yang sedang berlangsung di balik setiap jendelanya.
Dibanding kopi, aku memilih pertanyaan bodoh menjadi penghangat bibirku yang hampir membeku.
“Segitu banyak lampu, tempat kita di mana ya?”
Segitu banyak lampu, tidak ada yang menjawab.
Mungkin karena tidak tahu, atau mungkin takut tahu. Lucu juga, orang-orang begitu yakin siapa yang diterima surga. Padahal mereka bahkan tidak tahu cerita yang berlangsung di balik jendela-jendela di sampingnya.
메타데이터
- post_id
- 2a1d0cfc2ed2
- slug
- perayaan-kita-yang-katanya-tak-ke-surga-2a1d0cfc2ed2
- url
- https://medium.com/@sserenity/perayaan-kita-yang-katanya-tak-ke-surga-2a1d0cfc2ed2
- canonical_url
- https://medium.com/@sserenity/perayaan-kita-yang-katanya-tak-ke-surga-2a1d0cfc2ed2
- author_url
- https://medium.com/@sserenity
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 14:26:31