← Back to list

Aeneias: Si Generasi Sandwich dari Masa Kuno

Aeneias dalam konteks modern Indonesia

Rosi Maos Sastra · 2025-02-09 12:23 · 0 claps · 4.7 min read
#aeneid #sandwich-generation #mythology #fiction #roman-empire
Open on Medium ↗
Wiki topics: HIS · History LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Aeneias: Si Generasi Sandwich dari Masa Kuno

Anak, bapak, harapan keluarga dan masyarakatnya, Aeneias merupakan arketip generasi sandwich yang terdokumentasikan pada karya besar Virgil

Énée portant Anchise par Charles André van Loo — Web Gallery of Art: Image Info about artwork, Domaine public, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=488935

Énée portant Anchise par Charles André van Loo — Web Gallery of Art: Image Info about artwork, Domaine public, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=488935

À qui abandonnes-tu le petit Iule et ton père, et moi, celle que tu nommais ta femme ?

From zero to hero adalah sebutan yang tepat untuk mendiskripsikan Aeneias, seorang pemuda religius yang tidak memiliki peran besar pada perang Troya seperti Hector atau Paris sepanjang puisi epik Illiad oleh Homeros. Namun, ketika para pahlawan Troya berjatuhan dan kota mereka hancur akibat serangan dari prajurit-prajurit Yunani, Aeneias menjadi seseorang yang penting dalam cerita paska Perang Troya. Ia menjadi juru kunci untuk memastikan garis keturunan masyarakat Troya tetap berlanjut. Bukan hanya secara biologis, namun juga dalam aspek memori dan kebudayaan. Berdasarkan mitos masyarakat Roma kuno, Aeneias kabur dari reruntuhan Troya untuk mencari suaka di wilayah yang didiami oleh keturunan Hector, pahlawan Troya. Di wilayah itu pula, keturunan Aeneias akan menjadi raja Roma pertama (Romulus), yang selanjutnya berkembang menjadi Kekaisaran Romawi.

Mais, l’enfant qui porte aujourd’hui le surnom d’Iule (Il s’appelait Ilus tant que la fortune d’Ilion fut debout et son royaume), Ascgane, remplira de son règne le long deroulement de mois durant trente années, et, de Lavinium, il transferera la royauté derrière les remparts d’une ville nouvelle, la puissante Albe la longue

Là, pendant trois siècles pleins, régnera la race d’Hector, jusqu’au jour où une prêtresse de la famille royale, Ilia, grosse des œuvres de Mars, enfantera des jumeaux. Romulus, gorgé de lait à l’ombre fauve de sa nourrice la louve, continuera la race d’Énée, fondera la ville de Mars et nommera les Romains de son nom.

Begitulah janji Jupiter terhadap Venus pada bagian pertama Aeneid, puisi epik karya Virgil, yang sudah menentukan arah hidup masyarakat Troya ketika pasukan Yunani menghancurkan kota-kota mereka. Jupiter menggiring Aeneias, tokoh utama dalam puisi ini, untuk meninggalkan tanah kelahirannya karena runtuhnya Troya di tangan prajurit-prajurit Yunani di bawah komando Ulysseus. Terdiri atas 12 bagian, puisi epik Virgil menceritakan perjuangan Aeneias kabur dari Troya untuk mencari suaka di wilayah yang sekarang kita kenal dengan Italia.

Kisah pengungsian Aeneias sangat tragis karena ia menjadi saksi mata hancurnya kota Troya. Keterpurukan melihat rumahnya hancur dan keputusasaan menyaksikan keluarga dan kerabatnya terbunuh satu persatu membuatnya pasrah terhadap takdir bahwa dia juga akan terbunuh oleh reruntuhan rumah-rumah yang dibakar oleh prajurit-prajurit Yunani. Dia berlarian di antara reruntuhan dengan membawa anaknya, Ascgane, dan istrinya, Créuse, ke rumah ayahnya.

Namun ayahnya, Ankhiseus, menolak untuk pergi dari rumah karena daya tahan tubuhnya sudah tidak memungkinkan dirinya untuk kabur. Ia memilih untuk tinggal di rumah dan menanti ajal. Aeneias tidak rela meninggalkan ayahnya meninggal di antara reruntuhan Troya sehingga ia memutuskan untuk membopong ayahnya di pundak diikuti oleh Ascagne yang masih kecil di belakang ayahnya. Mereka kabur meninggalkan Troya dengan membawa sekelompok orang yang masih sanggup dan rela untuk meninggalkan tanah kelahirannya.

Kisah ini terletak di bagian ke-3 Aeneid ketika Aeneias sudah berada di Cartage (salah satu wilayah yang kita kenal sekarang dengan Libya) dan bertemu dengan Ratu Didon. Kala itu Didon meminta pasukan Troya untuk beristirahat dan meminta Aeneias untuk menceritakan kemalangannya. Kisah Aeneias yang trenyuh menyentuh hati Didon dan membuatnya jatuh cinta terhadap keberanian, ketulusan, kegigihan, dan kereligiusan Aeneias.

Aeneias Tulang Punggung Keluarga

Takdir Aeneias sebagai penyelamat masyarakat Troya tidak lepas dari karakter istimewa yang dimilikinya. Ia merupakan titisan dari Dewi Afrodit, seorang Dewi kepercayaan masyarakat Roma pra-kristen yang merupakan perlambangan dari cinta dan prokreasi. Menjadi pemain kunci untuk meneruskan garis keturunan orang-orang Troya sudah menjadi takdir hidupnya walaupun ia baru memahami itu ketika Troya sudah hancur lebur di tangan musuh.

Deskrispi tentang Aeneias membopong ayahnya melambangkan sebuah simbol harapan dari generasi lawas ke generasi baru untuk mempertahankan kontinuitas silsilah keluarga. Figur ayah, Ankhiseus, berada di atas pundak Aeneias, melambangkan sebuah decandence, yaitu sebuah masa transisi ketika era lama yang sudah lewat masa kejayannya akan tergantikan oleh era baru. Era tersebut sudah tergerus oleh waktu dan zaman sehingga hanya meninggalkan memori dan artefak untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

Aeneias sendiri merupakan perlambangan masa kini. Ia berperan sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Di pundaknya, ia memikul harapan orang tua dan pahlawan Troya yang gugur sedangkan di kakinya ia harus menggandeng anaknya agar ada seseorang yang meneruskan silsilah keluarganya. Maka dari itu, sebagai seseorang yang menyambungkan dua generasi yang berbeda, Aeneias memiliki tanggung jawab yang luar biasa besar untuk menjaga warisan memori dan kebudayaan Troya serta memimpin rakyat Troya yang tersisa menuju Italia agar mereka dapat meneruskan hidup.

Ascagne yang masih balita menjadi simbol atas masa depan yang akan meneruskan warisan masyarakat Troya dari ayahnya. Ia menjadi seseorang yang akan memberikan wilayah terhadap pemimpin-pemimpin baru yang memiliki hubungan darah dengan nenek moyang mereka di Troya.

Deskripsi pengungsian Aeneias dari Troya dengan membopong ayah dan diikuti oleh anak menggaris bawahi sebuah kisah sejarah keluarga beserta memori yang ingin dijaga. Ada tradisi yang ingin dilestarikan dan diharapkan akan berkembang menjadi sebuah kebudayaan yang sangat berpengaruh secara historis, politik, sosial, dan kultural. Aeneias menjadi kunci dari upaya bertahan hidup masyarakat Troya beserta kebudayaan mereka.

Aeneias Modern

Pembacaan bagian pertama sampai ke-empat Aeneid dapat menjadi cermin untuk melihat kondisi Indonesia saat ini yang ternyata memiliki banyak Aeneias modern. Mereka adalah para pemuda produktif yang terjebak dalam generasi Sandwich. Mereka mengemban ekspektasi dari orang tua mereka untuk bisa mandiri dan di saat yang bersamaan membantu ekonomi orang tua mereka, bahkan keponakan dari saudara-saudara orang tua. Bagi para pemuda yang sudah berkeluarga, mereka juga mengayomi dan menafkahi keluarganya.

Seperti Aeneias, generasi-generasi sandwich di Indonesia memiliki peran untuk membopong orang tuanya dan membangun keluarganya sendiri di satu waktu. Orang tua yang sudah memasuki masa lansia seringkali terjebak dalam kesulitan ekonomi karena kurangnya literasi keuangan pra-nikah. Akibatnya, tidak sedikit orang tua yang membebankan sumber ekonomi di hari tua kepada anak-anak mereka.

Di sisi lain, para generasi sandwich ini harus membangun masa depannya sendiri. Jika mereka sudah berkeluarga maka mereka juga harus menghidupi keluarganya. Seperti Aeneias, takdir mereka adalah menjadi penopang kedua generasi : generasi masa lalu (orang tua) dan masa datang (anak).

Beban generasional yang banyak generasi sandwich di Indonesia alami menunjukkan bahwa masalah ini sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak zaman kuno seperti yang dialami oleh Aeneias. Akan tetapi, Aeneid memberi pesan positif bahwa Aeneias rela berkorban menanggung beban beratnya agar garis keluarganya tidak terputus. Secara sabar ia membopong ayahnya dan menggandeng anaknya pergi meninggalkan tanah kelahirannya untuk mencari suaka. Keberanian dan kewibawaan Aeneias menjadikannya sebagai simbol sebuah harapan, bahwa setiap generasi memiliki beban mereka masing-masing dan mereka memiliki tanggung jawab untuk memberikan jalan bahwa generasi yang akan datang bisa memiliki masa depan yang pasti.

Gian Lorenzo Bernini (1589–1680) Enea, Anchise e Ascanio, Galleria Borghese, Roma

Gian Lorenzo Bernini (1589–1680) Enea, Anchise e Ascanio, Galleria Borghese, Roma

Aeneid memang banyak dikenal sebagai karya epik yang menceritakan mitos asal-usul kerajaan Roma kuno pra-kristen. Akan tetapi, Aeneias juga merupakan sejarah keluarga yang berbicara tentang generasi dan tanggung jawab untuk menjaga garis keturunan, bukan saja secara biologis tetapi juga secara memori dan kultural.


메타데이터
post_id
2a3a2a7f7b3c
slug
aeneias-si-generasi-sandwich-dari-masa-kuno-2a3a2a7f7b3c
url
https://medium.com/@wedantayasa/aeneias-si-generasi-sandwich-dari-masa-kuno-2a3a2a7f7b3c
canonical_url
https://medium.com/@wedantayasa/aeneias-si-generasi-sandwich-dari-masa-kuno-2a3a2a7f7b3c
author_url
https://medium.com/@wedantayasa
status
ok
fetched_at
2026-07-21 01:24:38