Eksistensi Desain dalam kepribadian yang Absurd — Tentang bagaimana desain merespon pluralitas hidup
Ada suatu saat dalam keseharian kita, dimana hal-hal yang tak terduga seringkali muncul sebagai realita, kita seringkali memikirkan seberapa jauh makna yang dapat diambil, seberapa besar energi yang habis dalam satu waktu, serta bagaimana cara kita merespon kejadian tersebut.
Eksistensi Desain dalam kepribadian yang Absurd — Tentang bagaimana sebuah Desain merespon Pluralitas hidup.

Ada suatu saat dalam keseharian kita, dimana hal-hal yang tak terduga seringkali muncul sebagai realita, beragam warna, beragam bentuk, dan beragam kejadian tak direncanakan kerapkali berdiri tegak dengan sangat jujur dihadapan kita. Terkadang kita mengerti, namun banyak bingungnya. Kita seringkali memikirkan seberapa jauh makna yang dapat kita ambil dari suatu hal atau fenomena, seberapa besar energi yang habis dalam satu waktu, serta bagaimana cara kita merespon kejadian tersebut.
Namun beberapa saat — dalam satu malam yang dingin, mungkin kita terdiam dalam keheningan, bertanya dengan nyaring dalam diri, seberapa mampu kita memahami sekaligus menerka-nerka tentang ini semua? apa yang baru saja terjadi? mengapa seakan-akan semua ini tidak masuk akal?
“The absurd is born of this confrontation between the human need and the unreasonable silence of the world.” / “Yang absurd lahir dari pertemuan antara kebutuhan manusia akan makna dan keheningan dunia yang tidak masuk akal.” -Alber Camus, The Myth of Sisyphus-

Albert Camus
Suatu ketika dalam Berbagai keresahan dan kegelisahan yang terus menerus bergejolak, kita melihat diri kita dalam cermin. Berdiri seorang yang sepi nan tragis, membawa luka berat di masa lalu, membawa trauma kejam yang bahkan sedikitnya tak bisa disampaikan lewat kata-kata. Kita bersedih, kita menangis, atau cukup hanya diam dan sedikit tersenyum — melihat betapa runtuhnya kehidupan ini. Semuanya seakan-akan tidak adil, mengapa harus aku? mengapa tidak orang lain? apakah aku sendiri?
Segala hal yang menimpa kita seakan akan mendorong kita jatuh ke lubang yang lebih dalam, lubang kehampaan, yang terisolasi — serta semakin dingin. Dalam fase ini, fase dimana kita seakan-akan tak ada seorangpun yang peduli, atau mungkin sebagian terlihat peduli, namun tak benar-benar tahu apa yang kita rasakan. Kita mendambakan sebuah keterikatan yang murni, yang tak membutuhkan balasan, yang mampu sama-sama merasakan.
“The reproduction of social life is governed by the imperative of mutual recognition.” / “Keberlangsungan kehidupan sosial ditentukan oleh tuntutan akan pengakuan yang saling timbal balik.” -Axel Honneth, The Struggle for Recognition-
Kehilangan sesosok peran dalam kehidupan, atau kehilangan apa yang merupakan hak kita, memang terasa begitu Tragis. Bahkan lebih parahnya, ada di titik kita tak bisa merasakan senang atau bangga melihat orang lain mendapatkan haknya. Kita termenung, apa yang salah pada diri kita?
Dunia ini dingin dan kejam, bahkan ketika manusia menemukan apa yang dinamakan api di iklim yang dingin, mereka rela mati demi meraih kenyamanan, kehangatan. Seperti layaknya seekor landak yang berada di tempat yang dingin, mereka rela berdekatan, rela saling tindih menindih, meskipun terasa menyakitkan, tapi ini semua demi menemukan kehangatan dalam kebersamaan. Begitu juga manusia, terkadang absurditas hidup dapat terasa lebih masuk akal bukan karena kita menemukan sebuah solusi yang konkret, namun cukup ada yang berdiri disamping kita, dan mengatakan dengan lantang layaknya seorang orator yang handal —
“Masalahmu adalah masalah kami, apa yang kita rasakan akan berdengung sebagai sebuah gerakan ataupun perkumpulan. Dia ada, dan benar-benar ada! maka kami akan tetap teguh berdiri bersama untuk menjalani bersama.”
Dalam keinginan manusia terhadap sosok yang benar-benar eksis pada kehidupan kita, terciptalah sebuah kelompok kolektif yang memiliki keinginan bersama untuk melawan, menerima, atau cukup bertahan. Terciptalah berbagai istilah filosofis, berbagai ideologi, berbagai prinsip yang dianut oleh setiap penganutnya yang mengatakan bahwa itu semua masuk akal. Dalam setiap keyakinan yang kita peluk, mewujudkan kebersamaan sehingga menjalankannya terasa lebih wajar. Sebagai bentuk kebersamaan yang komunal, sebuah keyakinan memerlukan sebuah simbol dalam menyebarkannya, sebagian untuk dapat lebih dikenal, sebagian lagi merupakan bentuk penyamaran yang diam-diam berjalan dalam tanah.
Dalam suatu pernyataan sikap kolektif, simbol seringkali tercipta dalam ketidaksengajaan atau tidak benar- benar direncanakan. Mereka tercipta melalui ide bersama dan gagasan bersama dengan cara yang sangat organik. Dalam hal ini, simbol pada gerakan kolektif didasarkan pada ketidakmampuan bahasa dalam menyampaikan informasi dengan cukup efisien. Simbol merupakan bentuk respon dari keterbatasan bahasa untuk mengungkapkan sesuatu.
Kenapa manusia takut sendirian dalam penderitaan?
Kalau kita lihat dari kacamata evolusi, manusia dibentuk dari golongan-golongan komunal, mereka berburu mamoth bersama, mereka menjelajah benua bersama, bahkan perang antar kelompok bersama. Dengan ini, manusia yang dikucilkan akan sangat rentan untuk tidak bisa bertahan hidup cukup lama, sehingga — ketakutan itu seringkali muncul sampai saat ini. Manusia takut untuk merasa sendiri.
Alber Camus pernah menulis bahwa yang absurd lahir dari pertemuan antara kebutuhan manusia akan makna dan keheningan dunia. Keheningan itu menjadi semakin berat ketika penderitaan tidak menemukan saksi.
Beban penderitaan yang kita rasakan sendiri itu terasa lebih berat ketika tidak ada pengakuan orang lain didalamnya. Bahkan terkadang, kehadiran orang lain dalam bentuk apapun itu terasa lebih berharga daripada solusi itu sendiri.
Lalu, Kenapa Desain Simbol yang sederhana dapat terkesan lebih merespon dibanding pidato yang panjang?
Sebuah nasehat pidato panjang memerlukan waktu untuk dapat dipahami, sedangkan simbol bekerja hampir seketika. Kesederhanaan simbol dalam suatu kelompok, memotong waktu lebih besar dalam mengambil pernyataan sikap. Simbol adalah bentuk gerakan paling efisien. Seseorang seringkali dapat menjadi bagian dari simbol hanya karena ia memakai simbol tersebut, yang sebelumnya pengakuan terhadap kelompok komunal, menjadi pengakuan juga terhadap diri sendiri, bahwa pada dasarnya kita tidak sendiri.
Cliffords Geertz menggambarkan manusia sebagai makhluk yang hidup dalam jaringan makna yang mereka ciptakan sendiri. Simbol menjadi simpul-simpul dalam jaringan itu — titik kecil yang menghubungkan banyak pengalaman sekaligus.

Simbol Semicolon
SEMICOLON
Dalam dunia digital yang serba cepat, ekspektasi kita terhadap sesuatu cenderung akan lebih tinggi, standar dopamin yang kian semakin tinggi, juga membuat orang menjadi lebih gampang cemas dan takut, ditambah lagi beban masalah hidup yang seakan tak ada jalan keluar. Dalam posisi seperti ini, seseorang menjadi lebih terisolasi dari dunia luar, sehingga lebih mudah untuk berpikir yang tak rasional seperti menyakiti diri sendiri atau bahkan menghabisi diri sendiri.
Simbol titik koma, atau yang lebih akrabnya disebut Semicolon mencoba untuk menghadirkan sedikit ketenangan untuk kita yang sedang menghadapai fase keterpurukan dalam hidup. Dalam psikologi, simbol ini diartikan sebagai simbol perjuangan terhadap penyakit mental yang sedang di derita pasien. Mengapa semicolon ini dipilih sebagai simbol dalam Kesehatan mental? karena, sebuah titik koma digunakan ketika seorang penulis bisa memilih untuk mengakhiri kalimat, tapi mereka memilih untuk tidak mengakhirinya. Penulis yang dimaksud itu adalah kita dan kalimat tersebut adalah hidup kita.
Simbol ini merupakan bentuk perjuangan sekaligus penerimaan terhadap diri sendiri. Mungkin, sang penderita tak akan langsung menemukan solusi, tapi mereka, akan tetap berdiri pada kehidupannya. Dengan simbol ini, mereka tak lagi merasakan isolasi sosial, bahwa banyak dari kita juga memiliki ketragisan hidup yang tak jauh beda. Kita kehilangan, kita disakiti, kita tertinggal. Banyak dari mereka, melekatkan simbol ini pada diri mereka, entah dicap sebagai tato, atau hanya sekedar photo profile dalam sosial media mereka. Dengan adanya suatu kelompok yang merasa memiliki nasib yang sama, mungkin masalahnya tidak langsung terselesainkan, namun optimisme dalam dirinya perlahan mulai tumbuh.
Sebagai Mahasiswa Desain, memaknai simbol ini — dapat lebih besar dari sekedar sesuatu yang mudah diingat, simbol ini merupakan bentuk kesatuan dari keterasingan banyak orang, bentuk perjuangan dalam kamar yang dingin, inspirasi dalam gelap. Simbol ini juga memiliki bentuk yang efisien, dapat familiar bagi banyak orang, dan memiliki makna yang kurang lebih sempurna.
BRAVE PINK, HERO GREEN
Dalam porak-porandanya Politik di suatu negeri, munculnya keresahan masa seringkali tak terbendung dalam mengungkapkan ekspresinya. Kita hadir, kita menyaksikan, dan kita sadar — bahwa pada dasarnya akar dari permasalahan dalam kehidupan seringkali terjadi dengan struktural. kita menyaksikan bagaimana orang-orang hidup dipinggir sungai dengan beralaskan kayu rapuh, dengan sungai yang mulai semakin keruh, dengan penyakit yang semakin kronis. Kita menyaksikan ketika seorang pelajar kehilangan moral etikanya dihadapan masyarakat, dengan pakaian yang semakin mengikuti standar barat, dengan tindakan yang tak lagi terdengar manusiawi.
Segalanya seakan meminta jawaban. Bagaimana negara yang terkenal memiliki kekayaan yang melimpah dapat jatuh ke lubang kesengsaraan? bagaimana hak berbicara dapat dibatasi di negara demokrasi? bagaimana sebuah institusi yang terkenal mengayomi rakyat berubah menjadi institusi keriminal?
Kita sadar betul tentang bagaimana cara mereka bersikap, dalam semua bahasa emansipasi yang mereka dengungkan, mereka seakan melegitimasi kekuasaan dan kekerasan yang mereka lakukan. Mereka bertindak represif dengan dalih mengamankan,mereka membunuh dengan dalih menegakkan keadilan, mereka membatasi hak berbicara dengan dalih agar tidak ada yang memecah belah. Segala bentuk respon kita terhadap kedzaliman, diperlakukan seakan kita yang berdosa.
Pada saat yang seperti ini, banyak bahasa yang muncul sebagai respon dari pembatasan hak bersuara di ruang publik. Visual yang terjemahkan dari keresahan sehari-hari juga tak selalu berbentuk sebuah ikon, banyak cara yang lebih fleksibel dalam bersuara. Salah satunya dengan menggunakan perpaduan warna.

Uniknya, kejadian 2025 kemarin, sebuah gerakan keresahan datang dengan cara yang sangat organik dan tak terencanakan, ia datang dari berbagai lapisan masyarakat dalam menyampaikan bentuk keresahan yang mereka hadapi. Mereka muak dengan ketidakadilan, mereka muak dengan pembatasan hak, mereka muak dengan segala yang ada disana. Lahirlah perpaduan warna yang secara tidak sengaja yang menjadi simbol perlawanan. Brave Pink and Hero Green.
Brave Pink mengartikan keberanian yang diambil dari referensi seorang ibu-ibu sipil berjilbab pink yang mengikuti masa aksi. Hal ini sangatlah unik jika kita kaji dalam semiotika warna. Pada awalnya, warna pink seringkali diasosiasikan dengan hal-hal yang berbau feminis, yang baik, lembut, dan penurut. Dengan berkembangnya zaman serta nilai norma primodialis setempat, makna seringkali berubah-ubah. Seperti pada saat ini, warna pink tidak lagi dipandang sebatas feminisme yang halus dan penuh kasih sayang, tepapi juga resisten dan politis.
Begitu juga dengan Hero Green. Warna Hijau dalam folklor jawa seringkali dikaitkan dengan kesuburan, kekuatan, dan spiritual. Hal ini dilandaskan pada cerita-cerita Jawa pada kepercayaan soal kekuatan alam, Nyi Roro Kidul adalah salah satunya. Dengan seiring waktu, warna hijau saat ini juga disimbolkan dengan heroisme, dan penyelamatan. Warna ini tidak semata-mata muncul begitu saja, Kejadian pelindasan tukang ojek online oleh sebuah mobil taktis polisi telah menjadi referensi diambilnya warna hijau pada simbol pink dan hijau.
Simbol ini hingga saat ini masih seringkali dipadukan dan dijadikan oleh sekumpulan orang untuk memperlihatkan keberpihakan mereka kepada keadilan dan kebebasan berpendapat sekaligus bentuk protes mereka kepada tindakan represif, penyalahgunaan wewenang, dan berbagai pelanggaran aturan yang ada.
Watermelon
Jika kita berbicara soal keterbatasan kita dalam menyuarakan suatu hal, kita tak hanya dapat dibatasi dalam dunia nyata, tetapi juga pada dunia maya. Pembatasan ini seringkali menyangkut kepentingan suatu pihak yang patuh kepada otoritas tertentu. Dalam hal ini, kita dapat melihat pada penindasan dan genosida yangdilakukan oleh Zionis kepada Palestina.
Tak cukup untuk sekedar membombardir kota dan memisahkan seorang anak kecil dengan keluarganya, mereka menutupi ini semua dengan membatasi suara-suara yang ada. Pada 1970-an, masyarakat palestina sendiri dilarang untuk mengibarkan atau sekedar melukis bendera palestina. Mengibarkan bendera diartikan sama dengan bentuk tindak kriminal. Ketragisan mereka tak boleh sedikitpun diekspresikan dalam identitas mereka sendiri. Hal-hal hangat lain hampir tak tersisa pada keseharian mereka. Mereka tak bisa makan bersama keluarga, mereka tak bisa tidur dengan nyenyak, mereka — menderita sejak dini.

Dengan debu setebal bedak yang telah melapisi kulit mereka, suara perjuangan akan selalu muncul sebagai bentuk kesatuan. Ditengah pembatasan pengibaran bendera Palestina, satu simbol yang muncul dari salah satu folklor setempat, yaitu sebuah Irisan Semangka.
Irisan semangka memiliki arti sendiri bagi rakyat palestina, selain karena buah itu adalah makanan khas setempat, Semangka juga memiliki ciri khas warna yang sangat mirip dengan bendera palestina yaitu Merah, Hitam, putih, Hijau. Sejak saat dimana pelarangan itu muncul, rakyat yang berdiri dengan membela palestina banyak menggunakan simbol tersebut untuk memperjuangkan keadilan dan Hak-hak rakyat Palestina. Entah itu di Dunia nyata ataupun di Sosial media.
Yang terakhir,
Sebagai seseorang yang terjun dalam ranah Desain, khususnya Desain Grafis, kepekaan seringkali diuji dalam keseharian, tidak hanya itu, cara kita untuk merespon berbagai hal juga seringkali dipertanyakan kembali. Dalam hal ini, uraian soal bagaimana beragamnya kejadian di Kehidupan seringkali digaungkan kembali sebagai sebuah referensi, yang membentuk pemahaman kita, ide kita, dan emosional kita dalam melahirkan sebuah desain yang tidak hanya estetis dan fungsional, tetapi juga kontemplatis dan juga refleksional. Sehingga dapat menyampaikan pesan yang lebih mendalam tentang apa yang kita rasakan sebagai manusia secara individual maupun kolektif. Oleh karena itu, observasi dalam kehidupan sehari-hari terasa begitu penting untuk menjadikannya referensi dalam membuat suatu narasi Desain yang baik. Terimakasih.
— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —
Sumber :
메타데이터
- post_id
- 2a7abbcd7877
- slug
- eksistensi-desain-dalam-kepribadian-yang-absurd-tentang-bagaimana-desain-merespon-pluralitas-hidup-2a7abbcd7877
- url
- https://medium.com/@ukaidarranjana/eksistensi-desain-dalam-kepribadian-yang-absurd-tentang-bagaimana-desain-merespon-pluralitas-hidup-2a7abbcd7877
- canonical_url
- https://medium.com/@ukaidarranjana/eksistensi-desain-dalam-kepribadian-yang-absurd-tentang-bagaimana-desain-merespon-pluralitas-hidup-2a7abbcd7877
- author_url
- https://medium.com/@ukaidarranjana
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 04:13:03