← Back to list

Opini — Jaga yang Sudah Terjaga

Tulisan ini ku awali dengan hadist riwayat Timidzi, dilanjutkan dengan cerita yang lagi hangat minggu kemarin.

Bezghy · 2025-11-16 02:12 · 21 claps · 4.0 min read
#bahasa-indonesia #artikel-bahasa-indonesia #muhasabah-diri #muhasabah #reminder
Open on Medium ↗

Opini — Jaga yang Sudah Terjaga

Photo by Aziz Acharki on Unsplash

Photo by Aziz Acharki on Unsplash

Tulisan ini ku awali dengan hadist riwayat Timidzi, dilanjutkan dengan cerita yang lagi hangat minggu kemarin.

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya. Dan seburuk-buruk manusia adalah yang panjang umurnya tapi buruk amalnya.” (HR. Tirmidzi)

Minggu kemarin, seorang aktivis dakwah berpulang ke rahmatullah. Ia tidak meninggal di ranjang rumah sakit, tidak juga di tengah kesibukannya dalam berdakwah. Ia dipanggil Sang Khalik ketika sedang dalam perjalanan menuju masjid. Dalam langkahnya yang terakhir menuju rumah Allah, ruh itu dicabut. Husnul khatimah yang menjadi dambaan setiap mukmin.

Lalu muncul pertanyaan yang semestinya hati setiap diri kita: “Apakah nanti kita meninggal husnul khatimah juga?”

Beliau adalah contoh nyata dari sabda Rasulullah Saw tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah Swt di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. “Qalbun mu’allaqun fil masjid” — hatinya tergantung di masjid. Bukan sekadar kakinya yang sering melangkah ke masjid, tapi hatinya yang senantiasa rindu dan terikat pada rumah Allah.

Jaga yang Sudah Terbiasa

Kita semua tahu kalau kebiasaan baik itu mudah untuk dimulai, tapi justru lebih mudah lagi untuk ditinggalkan. Sholat berjamaah di masjid yang sudah menjadi rutinitas, yang mungkin sudah terasa biasa, jangan sampai kita anggap remeh. Justru di “yang biasa” itulah letak istiqomah yang luar biasa. Mungkin itulah jenis ujian yang Allah Swt. kasih ke kita. Allah tidak menuntut kita untuk melakukan hal-hal yang spektakuler setiap hari, tapi Dia menginginkan konsistensi dalam kebaikan-kebaikan sederhana yang kita lakukan.

Jangan biarkan kebiasaan baik itu luntur ditelan kesibukan. Jangan biarkan rutinitas duniawi mengalahkan rutinitas surgawi.

Kisah Sahabat Bernama Hanzhalah

Ada sebuah kisah dari masa Rasulullah Saw.

Suatu hari, Abu Bakar bertemu dengan Hanzhalah, salah seorang sahabat. Ia bertanya dengan ramah, “Bagaimana kabarmu pagi ini, Hanzhalah?”

Jawaban Hanzhalah mengejutkan: “Hanzhalah telah menjadi orang munafik.”

Abu Bakar terkejut, “Mengapa kau berkata demikian?”

Hanzhalah menjelaskan: “Ketika aku duduk di majelis ilmu bersama Rasulullah Saw dan beliau membahas tentang surga dan neraka, aku seakan-akan bisa melihat keduanya di depan mataku. Hatiku bergetar, mataku berkaca-kaca, dan jiwaku terasa begitu dekat dengan Allah. Tapi begitu aku pulang ke rumah dan disibukkan dengan urusan keluarga dan pekerjaan, semua perasaan itu menguap. Aku kembali lengah. Makanya aku merasa seperti orang munafik.”

Abu Bakar menghela napas panjang, “Demi Allah, aku pun merasakan hal yang sama.”

Mereka berdua kemudian menemui Rasulullah Saw dan menceritakan apa yang mereka rasakan. Dan inilah yang membuat kita tahu betapa mulianya ajaran Islam. Beliau, Rasulullah Saw tidak memarahi mereka. Beliau justru mengerti dan memaklumi kondisi tersebut.

Rasulullah Saw bersabda dengan penuh kelembutan: “Seandainya kalian senantiasa berada dalam kondisi seperti ketika bersama saya, niscaya malaikat akan berjabat tangan dengan kalian di jalan-jalan. Lashofatahul malaaikah. Tapi memang seperti itulah manusia. Iman mereka suka naik dan turun. Yaziidu wa yanqush. Naik dengan ketaatan, turun dengan kemaksiatan.”

Manusia Terbaik Bukanlah yang Tidak Pernah Jatuh

Dari kisah ini, kita belajar satu hal penting. Manusia terbaik bukanlah mereka yang tidak pernah mengalami penurunan iman. Bukan mereka yang selalu berada di puncak spiritualitas tanpa pernah terpeleset. Manusia terbaik adalah mereka yang segera sadar ketika imannya sedang turun. Mereka yang tidak berlama-lama dalam kelalaian. Mereka yang langsung bangkit ketika tersadar sedang jauh dari Allah.

Kita semua punya fase naik dan turun. Yang membedakan adalah seberapa cepat kita bangkit kembali.

Lima Waktu sebagai Pengendali

Dan di sinilah letak hikmah kenapa Allah mewajibkan sholat lima waktu. Ini bukan sekadar ritual yang menghabiskan waktu. Ini adalah sistem pengendali yang Allah desain dengan sempurna untuk jiwa-jiwa manusia yang mudah lalai.

Bayangkan, dari pagi hingga malam, di tengah segala kesibukan dunia, Allah “memaksa” kita untuk berhenti sejenak. Lima kali sehari, Dia memanggil kita untuk kembali menghadap-Nya. Lima kali sehari, Dia mengingatkan kita tentang hakikat hidup yang sesungguhnya.

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ

“Maka apabila sholat telah dilaksanakan, bertebaranlah kalian di muka bumi.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Perhatikan urutannya di ayat ini. Sholat dulu, baru dunia. Bukan sebaliknya. Pekerjaan yang mengikuti jadwal sholat, bukan sholat yang disesuaikan dengan pekerjaan.

Tapi realitanya? Kita sering terbalik. Kita atur sholat berdasarkan jadwal meeting. Kita tunda jamaah karena deadline. Kita qodho maghrib karena lembur. Padahal, Allah sudah mengatur waktu-waktu sholat dengan sedemikian rupa justru agar kita tidak tenggelam dalam dunia.

Tinggalkan Smartphone. Sebentar Saja

Ada sedikit saran yang mungkin kedengaran sepele. Tapi percayalah, banyak orang justru lengah dengan yang satu ini. Padahal ini sangat berpengaruh bahkan bisa mengganggu bukan cuma diri kita sendiri, tapi juga orang lain. Saranku: sebelum sholat, jangan lupa men-silent ponsel. Itu adalah bare minimum. Maksimalnya, boleh banget kalau smartphone mulai dimatikan ketika adzan mulai dikumandangkan. Tinggalkan benda itu dari pikiranmu. Dan jauhkan dari pandangan. Dari situ, kita akan terlatih untuk mengedepankan prioritas.

Pernah gak sih mikir, pemain bola saja tidak membawa ponsel ketika turun ke lapangan. Celana mereka memang didesain untuk tidak mengantongi handphone. Mereka fokus penuh di pertandingan. Handphone mereka bukan hanya ditaro di tempat kursi pemain cadangan, tapi di loker di ruangan pemain.

Lalu gimana dengan kita yang akan bertemu tuhan yang menciptakan kita? Masak sih pikiran kita masih tertuju ke pesan WhatsApp yang sempet dibaca tapi belum sempet dibalas? Masak hati kita masih disibukkan dengan si dia yang baru me-like story instagram kita?

Seringkali jidat kita sujud di hadapan Allah, tapi pikiran kita masih tercerai berai kemana-mana. Mulut kita mungkin membaca Al-Fatihah, tapi hati kita masih pusing memikirkan masalah hidup yang makin terasa susah. Ini yang membuat sholat kita serasa cuma rutinitas. Ini yang membuat doa kita terasa hampa.

Akhir kata, ayo kita jaga yang sudah terjaga. Mulai dari yang sederhana, Jaga lima waktu yang sudah biasa kita lakukan. Jangan anggap remeh rutinitas yang sudah terbangun. Pahami bahwa iman kita memang naik dan turun, dan itu wajar. Yang penting adalah kita tidak berlama-lama dalam kelalaian.

Jadikan sholat sebagai pengendali hidup kita. Bukan pekerjaan yang mengatur sholat, tapi sholat yang mengatur pekerjaan. Dan ketika nanti kita dipanggil Allah Swt, semoga kita dipanggil dalam keadaan husnul khatimah. Keadaan yang baik. Yang akan Dia taruh ruh kita tepat di sisi-Nya. Aamiin.

Wallahu a’lam bi shawab.


메타데이터
post_id
2a7cd80351fd
slug
opini-jaga-yang-sudah-terjaga-2a7cd80351fd
url
https://medium.com/@bezghy/opini-jaga-yang-sudah-terjaga-2a7cd80351fd
canonical_url
https://medium.com/@bezghy/opini-jaga-yang-sudah-terjaga-2a7cd80351fd
author_url
https://medium.com/@bezghy
status
ok
fetched_at
2026-07-15 08:22:34