Isi Kepala yang Mengutuk Dirinya jadi Labirin
Labirin kuning yang estetik sekaligus menjemukan itu bukan arena bermain biasa, melainkan batas tegas yang memisahkan kegilaan ide cerita…
Isi Kepala yang Mengutuk Dirinya jadi Labirin

Sepuluh menit pertama Backrooms adalah ruang interogasi yang menguji kenyamanan menonton kita tahun ini. Kane Parsons, sutradara yang dulu viral di YouTube lewat video pendeknya, kini kembali membawa kematangan visual yang jauh lebih pekat. Dia enggan memakai trik jumpscare atau formula horor konvensional yang sekadar mengobral hantu di kegelapan. Kekuatan utama film bertumpu sepenuhnya pada permainan atmosfer; Parsons secara konstan meneror benak saya dengan rasa tidak nyaman yang lambat laun merayap naik.
Labirin kuning yang estetik sekaligus menjemukan itu bukan arena bermain biasa, melainkan batas tegas yang memisahkan kegilaan ide cerita dengan eksekusi visual di layar. Sinema horor mainstream sering kali malas, menempatkan karakter dalam ruang vakum — sebuah gelembung mistis tempat teror muncul tiba-tiba tanpa peduli latar belakang sosial korbannya. Backrooms mengambil arah sebaliknya. Labirin tak berujung ini secara konkret mewujudkan trauma manusia. Dinding kosong dan koridor pengap di sana bekerja sebagai cermin bagi pikiran buruk kita sendiri: kegagalan karier, romansa yang kandas, krisis personal, hingga konflik dengan rekan kerja. Siapa pun yang tersesat di dalamnya akan melahirkan tafsir berbeda, tergantung beban hidup yang mereka bawa.
Di tengah kepungan ruang buntu yang melumpuhkan kewarasan itu pula, Parsons menyelipkan kritik gender yang sangat tajam. Maskulinitas toksik diurai secara samar, hebatnya, hanya lewat sebaris kalimat maaf dari Clark: “I’m Sorry.” Sosok Kapten Monster Clark yang mengerikan itu bukanlah makhluk asing, melainkan perwujudan ego masif yang terus meneror sepanjang cerita sekaligus menjegal upaya si tokoh utama untuk berbenah.

Momen saat Clark akhirnya memilih berdamai dengan monster itu menjadi sebuah afirmasi diri yang fatal. Dia mengamini pembenaran keliru demi mempertahankan dominasi laki-laki dalam hubungan yang sudah sakit. Sebaliknya, adegan kejar-kejaran antara Mary dan sang monster secara kontras menyimbolkan perlawanan. Mary, sebagai perempuan sekaligus psikolog, merepsentasikan benturan keras kelompok perempuan dan ahli medis yang berusaha mendobrak tabiat buruk dalam raga Clark.
Memasuki babak ketiga, narasi mendadak bergeser menjadi cerita fiksi ilmiah futuristik yang serba klinis saat berkelindan dengan lembaga sains bermodalkan teknologi MRI. Proses pemindaian tersebut langsung mengikis kondisi psikis para objek yang terlanjur terperangkap dalam kegelapan masa lalu. Korporasi ini tampaknya menganggap Clark sebagai spesimen sempurna hanya karena dia berhasil menjinakkan monster batinnya. Padahal, bagi kita selaku penonton, Clark hanyalah pria egois yang membuang rasa bersalah, memoles kesalahan masa lalu, dan mengemasnya menjadi sebuah kebenaran baru.

Kebebalan moral Clark inilah yang akhirnya menumbalkan Mary. Ironisnya, meski Mary berusaha waras menghadapi trauma batinnya, sistem di dalam labirin kuning itu tetap mengurungnya. Lembaga sains di film ini membalikkan fungsi rumah sakit jiwa: sistem mengisolasi orang waras, sementara institusi membiarkan pria manipulatif seperti Clark lepas begitu saja di luar.
Sangat sulit untuk tidak menyandingkan karya Parsons ini dengan Hokum — dua karya yang belakangan sama-sama mendekat genre horor lewat gaya progresif. Perbedaan mendasar keduanya terletak pada cara sutradara memosisikan sumber ketakutan. Backrooms terasa atmosferik dan meminimalkan kemunculan fisik makhluk mengerikan, sementara Hokum justru menjadikan entitas menakutkan sebagai sajian utama. Parsons setia pada pendekatan ilmiah nonkonvensional yang kaku, sedangkan Hokum menggunakan cerita rakyat dan adat istiadat daerah sebagai motor penggerak teror. Dari segi resolusi pun keduanya bertolak belakang. Hokum menyodorkan konklusi tuntas yang mudah dicerna, sementara Backrooms membiarkan ujung cerita menggantung terbuka (open ending). Kendati mengambil metode penceritaan yang berlawanan, di mata saya keduanya tetap tampil memikat sekaligus bangsat.
메타데이터
- post_id
- 2a8c65aba072
- slug
- isi-kepala-yang-mengutuk-dirinya-jadi-labirin-2a8c65aba072
- url
- https://medium.com/@eskapism/isi-kepala-yang-mengutuk-dirinya-jadi-labirin-2a8c65aba072
- canonical_url
- https://medium.com/@eskapism/isi-kepala-yang-mengutuk-dirinya-jadi-labirin-2a8c65aba072
- author_url
- https://medium.com/@eskapism
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01