← Back to list

Semacam Pengaduan

Hari kedua, di jam 2.50 dini hari setelah menyalakan rokok kretek Juara rasa jambu, teman temanku dan aku berangkat dengan ketiga motor…

sekisuy · 2023-10-26 16:41 · 0 claps · 6.5 min read
#semacam #pengaduan #kepada #siapa #ya
Open on Medium ↗

Semacam Pengaduan

Hari kedua, di jam 2.50 dini hari setelah menyalakan rokok kretek Juara rasa jambu, teman temanku dan aku berangkat dengan ketiga motor masing masing namun belum keluar kami dari gang, salah satu teman memutuskan tidak jadi ikut karena ban motornya bocor. Di mana mau menambal ban, jam segini dan di Ubud pula. Akhirnya kami lanjut berangkat tanpa Yan. Di jalan aku dan teman boncenganku tidak banyak berbicara, kami asik dengan lagu di earphone kami masing-masing. Lagu pertama yang aku putar adalah lagu yang tidak benar benar aku suka sebab biasanya aku sedikit menyanyi jika bermotor sambil mendengar lagu. Namun semakin tak ada percakapan, semakin lirik lagu menyusup kedalam kepala. Sialan! lagu kalau diresapi bisa mengaitkan lamunan terhadap situasi perasaan di waktu waktu tertentu. Kubuka gas sedikit lebih dalam menyusul temanku yang memimpin jalan dan bertanya kepadanya “aku lapar. Cari sarapan di mana kita?” dijawab “Kita makan nasi jinggo di ujung aja”. Ternyata butuh waktu satu jam lebih menuju ujung yang dimaksud, tempatnya di dekat pertigaan sebelum Jl. Terunyan, bisa dibilang ini salah satu nasi jinggo yang paling mantep yang pernah aku makan sebab isinya adalah bagian ekor ikan “mujair nyat nyat” yang aku lahap dua bungkus sekaligus, dan teh panas. Bakal jadi bekal energi yang cukup aku kira sebelum pendakian dimulai.

Setelah sarapan kami lanjut bermotor menuju Bukit Terunyan, kami parkir motor di teras rumah warga yang tarifnya “terserah” kata pemilik rumah itu. Empat puluh ribu terlalu mahal ternyata setelah aku tahu kalau ternyata di pos satu pendakian ada administrasi lagi, tapi tak apa. Kami mulai menyalakan head lamp dan senter handphone sebagai penerang jalan. Tanpa pemanasan, kami langsung mulai menapaki kaki bukit yang tanpa basa basi langsung mengencangkan otot otot kaki, paha juga kurasa otot pinggul sebab sepulang sampai di rumah, pinggulku juga terasa pegal. Sepanjang jalur pendakian yang kau temukan adalah bebatuan, pasir, tanjakkan, semak belukar, pepohonan, tanjakkan, dan tanjakkan. Belum apa apa paru-paru rokok kretek ini sudah kembang kempis luar biasa. Tanjakkan yang tak ada ampun. Sebelum melangkah aku harus menghisap oksigen banyak banyak kemudian menghela sisanya sambil menanjak dua-tiga langkah, begitu seterusnya. Baru sepuluh menit pertama, tapi ini lebih menguras tenaga ketimbang latihan fisik yang dipimpin oleh tutor skateboardku setiap Kamis. Faak men!

Dari mulai kaki bukit sampai puncak Bukit Terunyan, mungkin hanya ada sekitar lima titik di mana jalur mendakinya sedikit datar ataupun landai, kami menyebut ini sebagai “bonus track”. Sepenuhnya adalah tanjakkan demi tanjakkan yang menguras tenaga. Sekitar satu jam lebih kami mendaki, sampai lah kami di pos pertama pendakian jam enam pagi. Di sini, kami disambut matahari yang baru mencuat keluar di ufuk timur disamping Gunung Agung. Sunrise. Ah, sudah lama sekali aku tidak melihat matahari secantik pagi itu. Apalagi jika dilihat dari ketinggian 700m di atas bukit dengan suhu dingin seperti ini, cahaya jingga dalam kecepatan ratusan ribu kilometer per detik hangat menerpa wajah dan telinga, tapi matahari tetap saja matahari. Di mana pun aku berada, kurasa warna dan kecepatan cahayanya kurang lebih sama sama saja.

Masih ada 1100m lagi sebelum sampai ke puncak, setelah beristirahat di pos satu, tenaga berangsur angsur pulih kemudian kami melanjutkan pendakian. Masih sama, tanjakkan demi tanjakkan dengan cepat menguras dengan tenaga. Setiap 10 menit kami beristirahat mengambil nafas menurunkan tempo detak jantung yang sebelumnya berdegup cepat sambil melamun menatapi cantiknya pemandangan sejauh jangkauan pandangan mata. Dari atas ramai berbondong bondong warga menjinjing gulungan rumput segar di atas kepala mereka. Aku salut melihat mereka yang menuruni bukit dengan beban di atas kepala mereka, sebegininya usaha mereka mencari makanan untuk hewan ternaknya. Tak terbayang seberapa lebih gila lagi mereka mencari makan untuk anak dan keluarganya. Semoga kalian dilindungi selalu ya. Itu adalah doa yang aku minta untuk diriku juga.

Matahari mulai meninggi di sebelah kiriku, cahaya hangatnya pelan pelan berubah menjadi hangat yang terlalu hangat. Berhenti lagi aku untuk melepas jaket. Sampai di titik ini, Jaket menjadi pakaian tak berguna karena di setiap langkah naik tubuhmu membakar kalori di dalam. Kusimpan jaket di dalam ransel yang juga terisi penuh barang ini dan itu. Berat badan dan berat isi ransel yang jadi beban fisikku. Belum ada bonus track sejauh ini, semakin tinggi kami naik semakin betis dan pahaku mau pecah rasanya. Nafas terengah engah menghirup oksigen yang bercampur debu dari bekas pijakkan teman yang di atasku. Tiupan angin cukup kencang, ketika angin melalui pepohonan cemara, ia menghasilkan bunyi yang lumayan menyeramkan di telinga seperti efek suara di film film thriller. Walaupun perjalanan ini melelahkan, tapi sejauh ini aku menikmatinya sampai aku akhirnya ada di punggung naga bukit yang posisinya ada di beberapa puluh meter sebelum puncak, kehabisan tenaga dan memutuskan untuk istirahat panjang.

Ketika aku berbalik badan, tak ada satu helai daun pun yang menghalagi pandanganku. Luas dan terang, indah dan tenang. Aku kagum dengan pemandangan ini, tapi rasa kagum ini tak bertahan lama. Di ketinggian yang hampir 1800m ini, tiba tiba isi kepala membuat skenario yang tidak tidak. “bagaimana kalau badan ini terlampau lelah untuk lanjut mendaki kemudian aku ditiup angin kencang dan kehilangan keseimbangan kemudian tergulung gulung jatuh ke bawah?” Faakkk! Kenapa di saat seperti ini aku baru sadar kalau aku takut ketinggian. Kenapa malah aku yang mengajak monyet monyet ini untuk naik ke puncak bukit ini? Aku diserang panik, jantungku yang tadi melambat justru kembali berdegup terburu buru, kepalaku pusing dan badanku gemetar. Pemandangan yang beberapa menit lalu aku kagumi, kini menjadi penglihatan yang aku takuti. Tidak seperti sebelumnya aku berdiri tegak, sekarang aku berbalik badan tak mau melihat kanan kiriku, sebisa mungkin lolos dari keberadaanku di antara jurang di kanan dan kiri, mendaki merangkak seperti anjing yang sekujur tubuhnya basah kuyup oleh keringat yang melekatkan setiap debu yang menempel. Tanjakkan tanjakkan terakhir menuju puncak memakan tenaga dua kali lipat dari sebelumnya rasanya, tatapan mataku hanya sejarak dua jengkal kepada tanah berpasir, debu, kerikil, dan rerumputan kering yang aku cengkram agar aku tidak terperosot kebawah. Otot betisku mau pecah, jantungku mau meledak dan darahku mau mendidih rasanya.

Akhirnya kami sampai pada ketinggian 1800 meter di atas permukaan laut. Dataran di sini cukup lebar untuk berpijak atau bahkan merebahkan badan. Ketakutanku mereda, awan awan tipis mengambang sejajar pandangan mata, kaki Gunung Abang di depan mata, di sebelah kanan Gunung Batur terlihat utuh di satu sisinya, dari kaki sampai puncaknya tertanam gagah dari pangkal Danau Batur sampai ke dasar planet bumi, tak sedikit pun awan yang menghalangi. Siluet Gunung Rinjani tak kelihatan lagi barang batang hidungnya saja. Awan, polusi dan asap kebakaran tempat pembuangan sampah berkolaborasi menjadi filter yang membuat samar samar pandangan terhadap laut Bali yang indahnya tak pernah mati sekalipun seandainya kau bosan disuguhi itu setiap hari.

Puncak bukit adalah tempat sempurna jika kau ingin berteriak. Kau tak perlu berpikir tentang anggapan orang lain tentangmu di sini, tak ada asumsi dan ekspektasi sosial di puncak Bukit Terunyan. Takkan ada yang terganggu, maka tanpa aba aba, aku pun berteriak kencang. Jarang jarang suaraku bisa sampai ke awan tingginya. Ada yang mengganjal kemudian terlepas setelah aku berteriak kencang sampai teman temanku terkejut, apa ada dengan anak ini barusan? Untungnya, mereka bukan bagian dari yang aku sebut asumsi dan ekspektasi sosial. Perasaan yang lebih baik datang setelahnya. Untuk yang pertama, itu semacam check sound.

Setelah lelah setengah mati disiksa tanjakkan demi tanjakkan, saatnya mengisi kembali tenaga yang terbuang dengan pop mie double. Kompor yang kami bawa gasnya habis. Dari Sanur sampai ke Terunyan yang kami bawa hanya kaleng kosong tak berguna ternyata. Sempat terpikir untuk dimakan mentah aja mie ini, tapi untungnya ada sepasang lawan jenis yang berkemah di sebelah sana, kami pinjam gas yang dia punya, kami rebus air sampai mendidih kemudian menyeduh mie kami masing masing. Aku makan lahap sekali seperti monyet kelaparan di tengah savana di musim kemarau panjang. Mungkin aroma pop mie kami menguar sampai ke tenda pasangan itu, tak lama kemudian si cewek dari depan tendanya memanggil bertanya meminta gas-nya kembali, padahal kami baru saja mau merebus air lagi untuk menyeduh teh dan kopi. Dasar sekumpulan monyet keparat tak tahu diuntung, sudah dipinjami malah mau dieksploitasi lagi. Bergegas aku kembalikan gas itu dan membalas kebaikan mereka dengan hanya ucapan terima kasih. Setelah kenyang, sudah saatnya mengkalemkan syaraf otak dengan rokok rasa jambu biji. Kuhisap dalam dalam kemudian menahannya di dalam paru paru sejenak sebelum kembali dihembuskan. Sebuah ketenangan menyerang. Musik musik klasik lawas terus berputar sampai sekarang dari pagi buta tadi. Ini lah manusia, maunya apa? Ketika kau sibuk berkutat dengan duniawi, di ujung hari kau putar musik dengan nuansa alam, bunyi angin, bunyi daun dan bunyi air. ASMR bahasa istilahnya supaya kau mudah tertidur. Setelah kau di sini tak kurang sedikit pun bunyi ASMR kau dapat, tapi kau malah mendengarkan musik digital dari speaker portable-mu. Aneh. Memang sih, di sini tak ada bunyi air sungai mengalir, tapi kau tetap bisa mendengar bunyi air lewat kerongkongan temanmu yang kering kerontang sedang meneguk minum. Aku malas melihat jam, tapi tak bisa dibohongi ini sudah waktunya tengah hari. Matahari persis di atas pohon yang kami teduhi, satu per satu dari kami mencari tempat untuk tidur siang. Ahh, tidur siang yang sudah jadi kebiasaanku tak boleh terlewat. Mendapat jatah jam tidur siang adalah sebuah hak istimewa bagi orang dewasa kukira. Tidak semua orang dewasa punya hak istimewa ini. Kurasa aku patut mensyukuri hal ini.

Di puncak tak banyak pohon untuk berlindung dari sengat matahari musim panas ini, maka kami tidur berpencar menjadi dua kelompok. Aku dengan teman seperjalananku dan temanku dengan teman seperjalanannya. Meluruskan tubuh bersandar di punggung puncak bukit, terasa luruh sebagian penat yang ada. Badanku merebah, mataku terbuka memandangi awan awan, angin bertiup menyapu wajah berminyakku. Kurekam sebagian pemandangan ini sebisanya saja dengan kamera depan. Aku pakai kamera depan sebab sebelumnya handphoneku terlindas mobil yang membuat kamera belakang dan flashlight-nya tak berfungsi lagi. Suasana hening, hanya bunyi angin yang meniup pohon pinus tak henti henti bersuara. Tanpa aba aba, aku kembali berteriak panjang dan kencang. “Aaaaaarrgghhh!” ketiga temanku terkejut dan protes. Aku senang dan menikmati kekesalan yang mereka rasakan kemudian tertawa terbahak bahak. Teriakkan kedua itu sama sekali tak ada hubungannya dengan melepaskan sesuatu dari dalam, tapi murni hanya untuk membuatku tertawa. Kemudian kami semua memejamkan mata untuk beristirahat. Di dalam tidur aku bermimpi berada di tengah tengah awan. Pun sebenarnya tanpa mimpi itu secara nyata kami memang berada di antara awan awan. Hanya saja di dalam mimpi, ada di tengah tengah awan, aku tak bisa membedakan apakah aku sedang terbang atau sedang jatuh?


메타데이터
post_id
2a94cb2fa709
slug
semacam-pengaduan-2a94cb2fa709
url
https://medium.com/@sickicun/semacam-pengaduan-2a94cb2fa709
canonical_url
https://medium.com/@sickicun/semacam-pengaduan-2a94cb2fa709
author_url
https://medium.com/@sickicun
status
ok
fetched_at
2026-07-25 01:02:52