PROMISE
yushi and jaehee siblings story
PROMISE
yushi and jaehee siblings story

“Jaehee, tugas Kakak udah selesai. Kita jadi pergi, kan? Jaehee?”
Adikku, Jaehee, pernah tiba-tiba mengajakku pergi ke pantai tepi kota.
Katanya di sana akan ada fetival akhir tahun setelah lima tahun terakhir ditiadakan.
Tapi, karena aku terlalu sibuk dengan tugas kuliahku, aku menolak ajakannya.
Jaehee awalnya masuk ke kamarku dengan mata berbinar-binar, ia memperlihatkan layar ponselnya.
“Kak, besok weekend ayo nonton festival di pantai!”
Namun, ketika aku menggelengkan kepala dan mengatakan bahwa ada tugas yang harus dikumpulkan akhir pekan ini juga, Jaehee langsung menurunkan bahunya dengan lesu.
“Gantinya, nanti kalau tugas Kakak udah selesai, ayo ke taman kota.”
Ajakanku itu berhasil membuat Jaehee kembali bersemangat.
“Oh iya! Katanya bakal ada foodcourt!”
Aku mengangguk, tadi siang aku baru mendapat informasi itu dari teman kuliahku.
“Kakak serius, kan, ngajak aku ke sana?”
Aku mengangguk lagi, tentu saja. Jaehee tau kalau aku tidak pernah ingkar janji.
Jadi, setelah hari itu, Jaehee selalu tersenyum dan bersemangat.
Dia setiap hari selalu datang ke kamarku. Entah memberi semangat, entah memberi makan. Karena dia memang jago masak.
“Yushi, adikmu Jaehee ke mana?”
Sampai satu hari sebelum aku dan Jaehee berjanji akan pergi bersama, tiba-tiba ibu kami masuk ke kamarku dan menanyakan keberadaan Jaehee.
“Eh?”
Aku yang terlalu sibuk dengan projekku sampai tidak sadar, kalau hari itu Jaehee tak datang ke kamar.
“Dia belum pulang sekolah?”
Ibu menggeleng khawatir mendengar pertanyaanku.
Aku melihat jam di ponsel, ini sudah cukup malam untuk anak SMA pulang sekolah. Apalagi hari ini Jaehee tidak ada jadwal les.
“Jaehee nggak ngehubungin kamu?”
Aku menggeleng kebingungan.
Yushi: Jaehee kamu di mana?
Aku mengirim pesan itu setelah ibu masuk ke kamarku tadi. Namun sudah dua jam berlalu, pesan itu belum dibaca.
Aku pikir dia pergi mengerjakan tugas bersama teman-temannya. Karena beberapa hari yang lalu, Jaehee sempat mengeluhkan tugas kepadaku.
Tapi karena rumpun kami berbeda, aku tidak bisa membantu.
“Yushi, ayah mau mencari Jaehee ke luar.”
Jam sembilan malam, Ibu masuk ke kamarku dengan ekspresi yang tidak bisa aku jelaskan.
“Aku ikut.”
Tanpa banyak kata lagi, aku berdiri. Mau lanjut mengerjakan tugasku juga tidak bisa fokus sebelum adikku kembali.
“Ibu jangan jauh-jauh dari ponsel, ya. Kalau ada seasuatu, langsung saling berkabar.”
Jaehee bukan orang yang seperti ini. Adikku tidak pernah menghilang tanpa kabar. Dia bahkan selalu pamit walau hanya mau mandi.
Jaehee, kamu di mana.
Aku berbisik dalam hati, kakiku melangkah mengikuti Ayah. Kami perlahan menyusuri komplek perumahan yang mulai sepi.
Ryo: Aku belum ketemu Jaehee kak, dia juga nggak masuk sekolah hari ini
Satu balasan dari teman Jaehee masuk ke ponselku. Aku hampir lompat saat benda pipih itu bergetar.
Dan begitu membacanya, aku menautkan alisku dengan serius.
Tidak masuk?
Sebenarnya dia itu ke mana?
“YUSHI!!”
Saat tiba di ujung komplek, di dekat taman bermain, Ayah tiba-tiba berteriak kepadaku. Aku langsung menoleh, Ayah menyuruhku mendekat dengan gerakan panik.
“Kenapa— ”
Dan ucapanku terhenti saat melihat sesuatu yang tidak terduga. Di sana sepatu manusia yang mencuat dari balik semak-semak.
Tidak, aku sebenarnya juga belum tau pasti itu apa. Aku tidak berani mendekat. Sedangkan Ayah langsung mengintip ke sebalik semak-semak itu dengan penerangan dari senter ponsel.
Aku menunggu dengan cemas. Siapapun yang ada di posisiku, pasti tidak bisa tenang.
“Yushi.”
Ayah memanggil namaku dengan suara lirih, jantungku berdegup semakin kencang.
Aku mendekat dengan harap-harap cemas.
Dan ketika mataku melihat sesuatu di balik semak-semak itu, kakiku langsung lemas.
Ya, tidak salah lagi. Itu … Jaehee.
Itu adikku.
Terkapar tak berdaya dengan sekujur tubuh yang lusuh dan lebam. Ada bekas darah di sudut bibir dan pelipisnya.
“Yushi, panggil ambulance.”
Ayah berkata kepadaku dengan suara tenang.
Aku mendengar itu, tapi tubuhku kaku.
“Yushi, dengar Ayah. Cepat panggil ambulance, adikmu masih bisa ditolong.”
Mataku mengerjap, aku kembali tersadar. Dengan tangan gemetar, aku berusaha mencari nomor darurat.
—
Ya.
Dan hari ini sudah hampir satu bulan sejak peristiwa yang tidak menyenangkan untuk diingat itu terjadi.
Aku duduk termenung di bangku taman kota.
Seorang diri.
“Jaehee, kenapa malah kamu yang ingkar janji?”
메타데이터
- post_id
- 2aa2b990f8bd
- slug
- promise-2aa2b990f8bd
- url
- https://medium.com/@nadaerindu/promise-2aa2b990f8bd
- canonical_url
- https://medium.com/@nadaerindu/promise-2aa2b990f8bd
- author_url
- https://medium.com/@nadaerindu
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-17 06:21:34