← Back to list

Hari Ini Saya di-PHK, Tetapi Saya Masih Punya Suami

Salah satu kenikmatan suami adalah mempunyai istri.

Hani in Perspektif Perempuan · 2026-05-05 13:31 · 108 claps · 3.1 min read
#relationships #family #women #phk #kerja
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships 👨‍👩‍👧 · Family & Parenting

Hari Ini Saya di-PHK, Tetapi Saya Masih Punya Suami

Salah satu kenikmatan suami adalah mempunyai istri.

Editor : Nadya Tutor

Photo by Hannah Busing on Unsplash

Photo by Hannah Busing on Unsplash

Keadaan global saat ini benar-benar sangat berpengaruh ke banyak sektor di dunia, termasuk Indonesia. Hari ini, nahasnya, saya di-PHK karena kantor berada di industri kreatif yang memiliki target pasar di Amerika mengalami penurunan penerimaan yang cukup signifikan. Berdasarkan penjelasan bagian SDM di kantor saya, karena harga gas sedang tinggi, prioritas pengeluaran perusahaan akan beralih dan menahan pengeluaran untuk bidang digital.

Saya mengerti ini karena saya tahu apa yang manajemen kantor saya rasakan. Saya lihat ini dari produksi kemasan plastik yang dikelola keluarga saya. Langkanya bahan produksi, juga naiknya bahan bakar kendaraan untuk pengiriman pastinya ikut menaikkan biaya produksi. Alhasil, para manajer harus berpikir lebih keras untuk menjaga stabilitas perusahaan. Agar perusahaan tetap berjalan, maka ada hal yang harus dilakukan, enak atau tidak enak.

Saya menyampaikan hal tersebut kepada Mas SDM. Berat, namun saya tahu bagaimana rasanya. Jadi, apapun yang terbaik, lakukanlah. Saya hanya satu dari belasan karyawan. Akan ada rezeki lain di balik kejadian ini. Tentunya saya sangat berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk dapat bekerja di lingkungan yang sangat disiplin dan kooperatif. Bersyukur saya masih punya suami yang menanggung kehidupan saya dan anak-anak, juga orang tua yang sehat.

Allah Maha baik, Maha Penyayang.

Dengan berbagai macam badai yang ada, saya masih bisa menikmati banyak hal. Meskipun di hati terasa cemas dan gelisah. Saya masih bisa melihat anak-anak tersenyum bahagia. Perut kenyang dan tumbuh sehat. Masih mendapatkan pendidikan yang layak.

Di balik seluruh tambahan dan penahanan rezeki-karena tidak ada rezeki yang dikurangkan, hanya akan diberikan pada waktu yang tepat — ada doa-doa, kebaikan bersama yang dilakukan oleh suami dan istri.

Kebaikan sebuah keluarga bukanlah hasil kebetulan, melainkan hasil dari usaha aktif, ketulusan, dan kesabaran suami dan istri dalam berakhlak baik satu sama lain serta menjalankan peran masing-masing dengan bertanggung jawab.

Frasa ini terjawab di hari ini, saat malamnya saya merasa begitu tersakiti oleh kata-kata suami. Saya bukan orang yang bisa membalas kata-kata kasar. Saya hanya bisa memendam rasa. Tanpa sadar ada doa yang saya panjatkan, “Setiap kata kasar yang dilontarkan kepadaku, tolong kurangi nikmatnya.”

Allah Maha Mendengar hambanya.

Beberapa kali saya mengucap ini dan beberapa kali juga langsung saya rasakan. Doa ini selalu berbalik kepada saya. Yang saya tanya kepada Allah saat pertama kali saya rasakan bagaimana Allah mengabulkan doa ini adalah, “Apakah nikmatnya ada pada saya, sampai-sampai Allah menghapusnya melalui saya?”

Yang pertama adalah Allah tarik nikmat sehat saya. 3 hari tidak bisa beraktivitas normal. Padahal saya biasanya mulai bergerak dari pagi sampai anak-anak tidur, dimana suami bisa menikmati me-time-nya dengan tidur atau sekedar bermain hp sebentar tanpa harus memikirkan kapan anak makan, mandi, atau cukup tidur atau tidak. Saat itu dia malah harus mengambilkan saya makan dan minum. Di hari ketiga, anak kedua saya ikut sakit — demam tinggi. Biasanya saya yang meng-handle ini, tapi kali itu saya tidak sanggup. Saya minta langsung dibawa ke IGD saja, khawatir kejang.

Kejadian ini terjadi di hari lebaran, dimana seharusnya kami punya waktu untuk berbahagia, bersilaturahim dengan keluarga, malah harus bersilaturahim dengan dokter. Allah tidak memberi nikmat itu di hari yang kami inginkan, ternyata. Allah kabulkan doaku, tapi kami semua merasakannya.

Yang terbaru adalah berita PHK saya ini.

Malamnya hati saya benar-benar sakit karena perlakuan suami saya. Dia tidak menyakitkan secara fisik, tapi mental. Secara tidak sadar, saya memanjatkan doa itu lagi sambil menangis.

Allahu Akbar.

Dia kehilangan lagi nikmatnya atas diri saya yang tenang tentang financial. Yang seharusnya kami punya double income, satu bulan ke depan saya harus mengikat kantong untuk menghemat pengeluaran. Dengan begitu harus ada toleransi akan banyak hal dan pekerjaan rumah yang lebih berat demi merealisasikan penghematan itu.

Dia tidak lagi mempunyai tambahan, meskipun dia tidak merasakan secara langsung tambahan itu. Dalam arti kata tidak menerima uang gaji saya. Tapi dia bisa merasakan bagaimana saya bisa spending untuk kenyamanan yang lebih layak untuk keluarga kami.

Saya masih punya suami yang memang harus menafkahi saya. Ini adalah pegangan saya agar tetap tenang. Tapi suami harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan kehidupan yang layak untuk kami sekeluarga.

Apakah seharusnya saya tidak berdoa seperti itu?

Atau mungkin memang harus seperti itu agar suami sadar akan kesalahannya?

Karena saya pun masih takut akan dosa dalam menyampaikan kata-kata yang tidak pantas. Takut terlalu banyak kata yang saya keluarkan, maka semakin banyak juga dosa yang saya dapat.

Punya tulisan tentang perempuan, ketimpangan gender, feminisme, atau tentang relationship dan parenting? Terbitkan di Perspektif Perempuan 😊Daftar sekarang dan cek panduannya


메타데이터
post_id
2abe8a635838
slug
hari-ini-saya-di-phk-tetapi-saya-masih-punya-suami-2abe8a635838
url
https://medium.com/perspektif-perempuan/hari-ini-saya-di-phk-tetapi-saya-masih-punya-suami-2abe8a635838
canonical_url
https://medium.com/perspektif-perempuan/hari-ini-saya-di-phk-tetapi-saya-masih-punya-suami-2abe8a635838
author_url
https://medium.com/@harihani
status
ok
fetched_at
2026-06-21 15:33:18