← Back to list

Analisa BBRI

28/02/2025

stockmology.idn · 2025-01-14 14:29 · 0 claps · 6.4 min read
#bbri #bank-bri #bank-rakyat-indonesia #banking
Open on Medium ↗
Wiki topics: ECO · Economy · General

Analisa BBRI

28/02/2025

Pada 14/01/2025 saat penulis pertama kali menerbitkan analisa BRI, harga saham BBRI berada di Rp 3800/lembar. Jumlah saham beredar sebesar 151.559.001.604 lembar saham sehingga kapitalisasi pasar BBRI berada di 576 Triliun Rupiah. Sekarang pada 01/03/2025, penulis mengupdate analisa BRI karena laporan terbaru, yaitu laporan keuangan Final Year tahun 2024 sudah keluar ditambah laporan keuangan Bulan Januari 2025 juga sudah keluar. Per 01/03/2025, harga BRI berada di Rp 3360/lembar sehingga kapitalisasi pasar BRI berada di 509 Triliun Rupiah.

BBRI melakukan IPO pada tahun 2003, menawarkan 40,5% dari seluruh jumlah saham beredar. Pada saat itu, Jumlah saham beredar sebanyak 11.764.705.000 lembat saham dan harga penawaran adalah Rp 875/lembar.

BBRI sempat melakukan stock split 1:2 pada tahun 2011 dan stock split 1:5 pada tahun 2017, lalu rights issue 28.2 miliar lembar di harga Rp 3400/lembar pada tahun 2021.

Harga saat penulis mulai menganalisa BRI sebesar Rp 3800/lembar itu setara Rp 8750/lembar pada saat IPO. Harga IPO adalah Rp 875/lembar. Investor yang sudah memegang saham BBRI sejak IPO sudah menerima keuntungan capital gain sebesar 900% atau 9x dalam 22 tahun (CAGR: 40%).

Dividen Historis BBRI

Management BBRI

Komisaris Utama: Kartika Wirjoatmodjo Kartika memiliki pengalaman yang lama di bidang keuangan. Beliau pernah menjadi CEO dan CFO pada waktu yang berbeda di Bank Mandiri.

Komisaris lainnya: Rofikoh Rokhim, Haryo Baskoro Wicaksono, Agus Riswanto, Dwi Ria Latifa, Nurmaria Sarosa, Heri Sunaryadi, Paripurna Poerwoko, Sugarda, Rabin Indrajad, Hattari, Awan Nurmawan Nuh

Direktur Utama: Sunarso Sunarso sempat berkarier di Bank Mandiri. Beliau memiliki spesialisasi di Corporate Kredit di bidang perkebunan sawit. Beliau masuk BRI pada tahun 2015 menjadi Direktur Utama dan melakukan transformasi digitalisasi di Bank BRI.

Direktur lainnya: Catur Budi Harto, Viviana Dyah Ayu R.K V, Amam Sukriyanto, Andrijanto, Handayani, Supari, Arga Mahanana, Nugraha, Agus Sudiarto, Agus Noorsanto, Agus Winardono, Ahmad Solichin, Lutfiyanto

Shareholder BBRI

Anak Perusahaan BBRI

Bisnis BBRI

Bank Rakyat Indonesia merupakan perusahaan perbankan BUMN yang sekarang dikelola DANANTARA, yaitu holding perusahaan-perusahaan BUMN di Indonesia, termasuk Bank Mandiri, Bank BNI, Telkom, PLN, MIND ID, dan seterusnya. Kegiatan operasional Bank BRI utamanya merupakan simpan-pinjam uang. Debitur — orang yang meminjam uang — Bank BRI berbeda dengan Bank mayoritas lain dan dibagi menjadi beberapa segmen yaitu ultra micro, micro, ritel, korporasi, lainnya, dan anak perusahaan. Bank BRI mempekerjakan lebih dari 80.000 orang dengan kantor cabang pembantu yang tersebar di lebih dari 7000 lokasi.

Sistem yang dibangun BRI sejak pendirian perusahaan tersebut memampukan perusahaan untuk menjangkau masyarakat sampai ke pelosok-pelosok desa, bahkan hingga pendalaman yang dinilai oleh bank lain sebagai terlalu beresiko. Salah satu sistem yang membantu, yang diketahui penulis, adalah BRI Link yaitu nasabah BRI yang dapat menjadi agen yang berfungsi sebagai bank pada umumnya, namun melayani jasa yang terbatas seperti contohnya simpan-tarik uang dan transfer uang. Hingga saat ini, tercatat ada lebih dari 1 juta agen BRI Link yang mengelola transaksi berjumlah 1.5 Triliun Rupiah.

Dalam perbankan, terdapat 2 komponen yang akan mempengaruhi laba bersih atau net profit. Walaupun dalam kenyataan, banyak turunan dalam laporan keuangan yang disebabkan oleh 2 komponen tersebut.

Pertama, Jumlah kredit disalurkan. Lalu Kedua, Dana Pihak Ketiga.

Bank BRI masih mencatat pertumbuhan dari kedua komponen tersebut. Pembaca dapat melihat tabel gambar yang akan terus diupdate oleh penulis sesuai perkembangan terakhir. Bank BRI menyalurkan lebih dari 1000 Triliun kredit dengan bunga pinjaman 10% hingga 15%. Cost of fund atau bunga simpanan yang harus dibayar BRI juga bervariasi tergantung kondisi ekonomi. Namun, seluruh bank pasti akan merebut dana murah atau CASA. Komponen CASA terdiri dari tabungan dan giro. Pemain utama dalam bisnis perbankan yang memiliki keunggulan CASA adalah BCA. Banyak nasabah BCA yang percaya untuk menaruh sebagian besar uangnya di tabungan BCA. Mungkin karena BCA sangat mudah dijangkau dan transaksi online menggunakan aplikasi m-banking BCA sangat mudah.

Selisih antara bunga pinjaman dan bunga simpanan disebut NIM. Selisih ini yang akan nantinya jadi keuntungan kotor Bank BRI. Perbedaan NIM yang tampak kecil, contoh 1%, akan berpengaruh besar dalam laporan keuangan laba (rugi). Ini semua bisa terjadi karena BRI menguasai lebih dari 15% market share kredit di Indonesia. Perhitungan sederhananya: Bank A Skenario NIM 7,5% DPK = 1100 Triliun Total kredit disalurkan = 1000 Triliun Bunga simpanan DPK (average 3,5%) = 38.5 Triliun Bunga pinjaman Kredit (average 11%) = 110 Triliun NIM = 7,5% Interest Margin = 71.5 Triliun

Bank A Skenario NIM 8,5% DPK = 1100 Triliun Total kredit disalurkan = 1000 Triliun Bunga simpanan DPK (average 2,5%) = 27.5 Triliun Bunga pinjaman Kredit (average 11%) = 110 Triliun NIM = 8,5% Interest Margin = 82.5 Triliun

Perbedaan NIM 1%, akan mempengaruhi interest margin BRI sebesar 11 Triliun Rupiah. Tentunya, dalam kenyataan, pasti akan menjadi lebih rumit karena adanya pertumbuhan dan terkadang malah penurunan. Namun biasanya, yang bisa meningkatkan NIM bukanlah bunga pinjaman. Mengapa? karena bunga pinjaman yang rendah itu diperlukan agar kredit semakin affordable.

Sehingga untuk meningkatkan NIM, Bunga simpanan DPK harus ditekan rendah. Biasa ini bisa terjadi jika ekonomi sedang panas. BRI juga berbeda dengan big banks lainnya, seperti Mandiri, BCA, dan BNI. Mereka cenderung bermain dalam segmen korporasi. Sedangkan, BRI bermain di segmen masyarakat menengah bawah. Ini bisa menjadi keunggulan kompetitif BRI karena merupakan pemain utama dalam segmen ini, atau bisa jadi menjadi risiko buruk karena terlalu agresif dan menyebabkan NPL membengkak. NPL atau Non Performing Loan adalah kredit bank yang tidak bisa di-recover oleh bank karena debitur tidak mampu membayar hutangnya, bisa terjadi karena kepailitan atau hal lain.

Melihat apakah ini sebuah keunggulan atau keburukan semua tergantung management yang sedang menjalankan kegiatan operasional BRI. Menurut saya, overall BRI sedang perform sangat baik.

Prospek Bisnis BRI

Saat penulis menganalisa prospek BRI, penulis tidak suka memprediksi masa depan karena penulis bukan seorang penerawang. Melainkan, penulis akan membeberkan serangkaian fakta yang sedang terjadi sekarang sebagai pedoman untuk pengambilan keputusan beli/jual saham. Penulis juga bukan merupakan spekulator jadi jangan berharap bahwa harga saham akan naik segera jika penulis merasa bahwa harga BRI sekarang sudah cukup murah.

BRI itu tidak bisa disamakan dengan bank lainnya. Setiap bank memiliki perbedaan mendasar dalam fundamental bisnisnya. Seperti di Bank BRI, Debiturnya — orang yang meminjam uang — mayoritas adalah masyarakat atau orang yang ingin menjalankan usaha. Bisa itu berupa warkop, pedagang retail, buka jasa salon, warmindo, atau usaha lainnya yang biasa kita lihat di pinggir jalan pada umumnya. Usaha-usaha ini biasa dikategorikan sebagai usaha mikro, kecil, menengah (UMKM). Pinjaman yang diberikan pun tidak terlalu besar per orangnya, Anda bisa melihatnya disini https://kur.bri.co.id/credit?tujuan=kur,

Program kredit KUR BRI mendistribusikan kredit sesuai keperluan pengusaha hingga ke skala super micro. Untuk supermicro, pinjamannya bisa 5 juta per orang hingga batas plafon di 50 juta per orang. Bunganya pun sangat affordable di angka 3% per tahun efektif di Februari 2025. Biasanya, kalau memang debitur tersebut niat untuk menjalankan usahanya, penulis yakin tidak mungkin debitur meminjam uang ke BRI untuk menjalankan usaha yang profit marginnya hanya 10%. Pasti lebih dari itu… mungkin 50% atau bahkan 100% karena itu bisnis umkm. Memang betul terkadang bisnis tidak menentu, kadang untung dan kadang rugi. Tapi jika bicara setahun, tentu cukup untuk mengumpulkan uang untuk membayar bunga dan pokoknya. Menurut penulis, kredit yang disalurkan BRI sudah sangat affordable dan sangat baik karena permodalan UMKM juga disupport oleh satu-satunya bank yang kredible.

Anda juga bisa melihat gambar diatas, bahwa kredit yang disalurkan dan DPK nasabah terus bertumbuh dari tahun ke tahun, minimal dari tahun 2015 hingga akhir 2024 masih bertumbuh. Namun kedepannya, kita masih kurang yakin terhadap pertumbuhan ini karena ekonomi sekarang sedang lesu. Sehingga, kalaupun bertumbuh, angkanya pasti nggak akan sebesar dulu. Provision tahun 2025 juga pasti akan naik, bahkan bisa jadi beban provisi ini bisa lebih besar dari tahun lalu. Provision adalah uang yang dicadangkan oleh Bank untuk menutup kemungkinan adanya debitur yang tidak bisa membayar hutangnya. Angka beban provisi tahun lalu mencapai 40 Triliun Rupiah. Tahun 2025, yang sudah ketahuan adalah bulan Januari, dimana net profitnya hanya 2 Triliun. Dibandingkan dengan 4.8 Triliun pada bulan Januari tahun 2024.

Penurunan laba bulan Januari disebabkan oleh turunnya net interest income dan naiknya beban operasional lain. NPL tahun 2025, jika dilihat dari hasil bulan januari juga sepertinya akan menjadi lebih buruk dari tahun 2024. NPL tahun 2024 mencapai 2,8%. Tahun 2025 mungkin akan lebih tinggi dari itu. Bank Indonesia membatasi NPL Bank yang dikategorikan sehat itu di bawah 5%.

Valuasi Bank BRI


메타데이터
post_id
2b08afd092a7
slug
analisa-bbri-2b08afd092a7
url
https://medium.com/@stockmology.idn/analisa-bbri-2b08afd092a7
canonical_url
https://medium.com/@stockmology.idn/analisa-bbri-2b08afd092a7
author_url
https://medium.com/@stockmology.idn
status
ok
fetched_at
2026-07-21 08:04:21