Productive atau Justru Toxic Productivity? Yuk Kenali!
Pernah gak sih kalian merasa bersalah saat istirahat setelah melakukan suatu kegiatan? Merasa takut tertinggal dan selalu ingin terus…
Productive atau Justru Toxic Productivity? Yuk Kenali!
Pernah gak sih kalian merasa bersalah saat istirahat setelah melakukan suatu kegiatan? Merasa takut tertinggal dan selalu ingin terus berkegiatan walaupun sudah merasa lelah. Apalagi menjadi mahasiswa yang merasa keren dengan jadwal padatnya, entah itu jadwal untuk nugas, lomba, rapat, acara kampus, ataupun sekedar hangout dengan teman. Menjadi mahasiswa kura-kura alias kuliah-rapat lebih terdengar keren dibanding dengan mahasiswa kupu-kupu yang hanya kuliah-pulang. Hal tersebut biasa terjadi dengan dalih “mumpung masih muda, masih banyak kesempatan, sayang kalo dilewatin”. Tidak ada yang salah jika selalu memanfaatkan kesempatan yang ada. Namun, jika semua kegiatan dilakukan tanpa mempertimbangkan keadaan fisik dan menyusun jadwal yang sesuai, apakah hal tersebut masih dapat dibenarkan?
Toxic productivity atau dikenal juga dengan workaholic merupakan suatu keinginan seseorang yang selalu ingin produktif setiap saat dengan segala cara. Hal tersebut merupakan keinginan tidak sehat karena membuat penderitanya merasa bersalah jika tidak melakukan apa-apa. Jika pekerjaan sudah selesai pun, orang yang menderita toxic productivity akan merasa bersalah karena merasa tidak mengerjakannya dengan cukup baik atau cukup banyak. Mereka akan lebih fokus pada apa yang belum dilakukan daripada melihat apa yang telah mereka capai. Toxic productivity juga erat kaitannya dengan perasaan FOMO (Fear Of Missing Out) terhadap pencapaian orang lain, karena khawatir tidak bisa bersaing dengan orang lain yang dianggap lebih produktif. Penderita toxic productivity juga sering kali mengabaikan kebutuhan sehari-hari seperti makan, minum, dan beristirahat.
Toxic productivity yang berkepanjangan akan mengganggu kesehatan mental dan fisik. Burnout merupakan salah satu dampak dari kelelahan tersebut yang dapat menurunkan performa kegiatan. Selain itu, produktifitas yang berlebih akan berpengaruh terhadap hubungan dengan orang lain karena biasanya penderita akan menjadi lebih sensitif. Upaya yang dapat mengatasi toxic productivity adalah dengan mengenali kapasitas diri dan tahu akan batasan terhadap diri sendiri. Tidak semua kegiatan itu harus dilakukan dalam satu waktu dan paham kapan harus merasa “cukup” untuk menghindari kelelahan mental dan fisik. Ada kalanya untuk melakukan istirahat jika dirasa sudah lelah dan dapat berolahraga ringan untuk menyegarkan fisik. Jika sudah terasa banyak kegiatan yang harus dilakukan, maka harus ditentukan prioritas kegiatan berdasarkan urgensi dan dampaknya.
Produktivitas yang sehat bukan tentang terus-menerus melakukan pekerjaan hingga lelah dan lupa waktu, tetapi tentang bagaimana kita dapat mengatur energi dan waktu dengan bijak. Kenali batas perbedaan antara efisiensi dan eksploitasi diri. Menjaga kesehatan fisik dan mental sama pentingnya dengan mencapai tujuan. Produktif itu bagus, tapi jangan sampai mengorbankan diri sendiri ya!
메타데이터
- post_id
- 2b80b28ba0f0
- slug
- productive-atau-justru-toxic-productivity-yuk-kenali-2b80b28ba0f0
- url
- https://medium.com/@brokenglasses/productive-atau-justru-toxic-productivity-yuk-kenali-2b80b28ba0f0
- canonical_url
- https://medium.com/@brokenglasses/productive-atau-justru-toxic-productivity-yuk-kenali-2b80b28ba0f0
- author_url
- https://medium.com/@brokenglasses
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 10:07:59