Menimbang Keputusan Resign dan Langkah Memulai Pivot Karier
#462: Panduan Realistis Membangun Keterampilan Baru Sebelum Pekerjaan Kita Digantikan AI
Menimbang Keputusan Resign dan Langkah Memulai Pivot Karier
#462: Panduan Realistis Membangun Keterampilan Baru Sebelum Pekerjaan Kita Digantikan AI
Photo by BoliviaInteligente on Unsplash
Sayangnya, keahlian saya akan hilang dalam waktu dekat. Saya yakin kemampuan khusus saya akan mudah digantikan oleh AI. Yang tahu tentang Cloud Infrastructure Engineer mungkin akan setuju dengan saya. Dulu, seorang programmer yang mengetikkan code untuk membuat aplikasi membutuhkan orang DevOps/SysAdmin/infra untuk menjalankan, mencoba, memanipulasi code-nya. Semakin canggih AI, para programmer tersebut, saya yakin, hanya butuh mempunyai kemampuan infra minim, kemudian meminta AI untuk membuatkannya.
Dalam beberapa tahun terakhir saya bekerja di perusahaan startup. Saya punya target yang sangat tinggi, yaitu mencapai level Senior Manager. Namun, karena banyak hal, target itu tidak pernah tercapai. Saya harus meninggalkan perusahaan. Bukan perkara mudah, tetapi setelah 1 tahun keluar dari perusahaan tersebut, saya merasa bahwa itu adalah keputusan yang tepat. Tepat karena saya jauh mengungguli teman-teman saya yang masih berkutat menjadi developer di perusahaan teknologi. Mengapa saya mengatakan mengungguli, karena saya pivot lebih cepat dari mereka.
Saya beneran memulai lagi dari nol. Tentu downside-nya, saya harus benar-benar bisa menemukan skillset saya yang baru. Tentu ilmu lama saya tidak akan mubazir, karena kalau suatu saat saya punya bisnis sendiri yang membutuhkan aplikasi, ilmu saya masih bisa saya gunakan.
Tidak mudah memang, namanya juga mulai dari nol. Skillset yang saya bangun bertahun-tahun tidak pernah saya pegang lagi. Saya benar-benar harus meraba-raba hal baru apa yang harus saya kuasai dan relevan dalam beberapa tahun ke depan.
Gambaran umum yang saya sedang raba-raba adalah seperti ini. Kita coba kembali ke zaman dulu. Pendidikan kita adalah pendidikan yang mengikuti industri. Tidak berubah dalam waktu yang lama; karena bekerja dengan baik. Maka pendidikan kita akan mengerucut ke spesialis. Saya masuk kuliah di jurusan Teknik Elektro, dan itu pun dipenjuruskan lagi ke Teknik Telekomunikasi. Pekerjaan saya pun saya mulai ke skill yang lebih spesifik lagi, yaitu telekomunikasi berdasarkan TCP/IP, mudahnya telekomunikasi internet lah. Jadi saya berkutat di sana — server, telekomunikasi internet, cloud. Saya sedikit banyak paham tentang skill spesifik tersebut. Yang tidak saya ketahui adalah sistem yang bekerja dalam perusahaan tempat saya bekerja — sistem yang membayar saya. Bagaimana cara membuat produk, memasarkannya, menghitung harganya, merekrut orang, membuat dasar hukum, cash flow-nya bagaimana, regulasi, dsb.
Ada orang yang berkata bahwa walaupun saya sudah mencapai tahap spesialis yang paling canggih, saya tetap hanya akan menjadi budak. Ya, saya setuju, karena di Indonesia Anda pasti sering mendengar yang namanya budak korporat. Coba tanya ke diri kita sendiri. Jika kemampuan spesialis kita tersebut tidak relevan, dan di dalam otak kita, kita tidak punya alternatif mau mengerjakan apa selanjutnya, maka, ya saya, Anda, adalah budak. Orang yang selama hidupnya hanya berkutat di sana, maka saat semua “kenikmatan pekerjaan” itu diambil karena tidak relevan lagi, di sanalah disrupsi terjadi.
Maka, saya merasa langkah yang saya ambil tepat. Waktunya tepat. Walaupun sekarang rasanya seperti orang buta yang tersesat, bingung mau berjalan ke arah mana, pakai sepatu apa, sejauh mana saya berjalan, saya merasa percaya diri bahwa apa yang saya ambil adalah keputusan tepat.
Sekarang bagi yang masih bekerja di perusahaan dan takut akan mencoba pivot ke skill yang baru, saya coba menawarkan ide saya. Ini hasil pengalaman saya yang menurut saya akan bisa diterapkan pada banyak orang.
I. Selesaikan dulu masalah ekonomi Anda
Kita tidak hidup di surga. Di surga enak, minta makan, langsung ada. Di dunia, minta makan, ya, Anda butuh uang untuk makan. Bahkan kalau Anda tidak punya uang, Anda harus mencari orang atau tempat yang mau memberi Anda makan secara gratis. Maka uang menjadi sangat penting untuk kelangsungan dasar hidup Anda. Kalau nyawa Anda hilang karena tidak punya uang — tidak bisa makan, beli baju, bebersih, tidur — ya lupakan yang lain. Toh nyawa Anda sudah hilang. Cobalah cari cara apa pun yang membuat ekonomi Anda aman. Bisa Anda lakukan dengan menabung, investasi, atau apa pun itu yang menurut Anda cocok dengan Anda. Silakan tanya yang ahli dalam bidang ini, saya belum kompeten di sini. Tetapi dasarnya sama. Anda harus mengamankan ekonomi Anda dulu.
II.Mulai lakukan apa yang Anda sukai
Dalam waktu seminggu, sempatkan beberapa jam untuk meluangkan waktu, terserah Anda kapan, kerjakan sesuatu yang Anda sukai. “Kerjakan” dalam hal ini bukan hanya iseng belaka. Niat yang beneran niat. Pelajari dari ujung sampai ujung. Misal, Anda suka musik. Pelajari tentang musik, buatlah musik, nikmati musik, pelajari mengapa musik yang Anda dengarkan bisa sampai ke telinga Anda, apa beda musik digital dan analog, kenapa piringan hitam bisa berbunyi, mengapa kaset dan piringan hitam masih laku di era digital, bagaimana proses pembagian keuntungan artis yang upload lagunya di Spotify, YT Music, Apple Music, bagaimana copyright bekerja, bagaimana cara pembagian keuntungan lagu antara pembuat dan penggubah lagu, dsb. Saat Anda mulai sadar itu, maka Anda akan punya modal awal untuk terjun ke kolam skill baru Anda.
III. Kembangkan apa yang Anda sukai menjadi sebuah proyek yang menghasilkan
Apa yang Anda lakukan tadi, mulai jadikan proyek. Kalau Anda sedang melakukan rekaman video dan video editing, misalnya, jadikan proyek. Misal proyeknya adalah personal branding. Anda benahi akun YouTube dan Instagram Anda. Berikutnya targetkan 2 video per minggu. Target proyek tersebut harus dipenuhi. Di sinilah keinginan pivot kita akan mulai muncul. Syaratnya adalah proyek Anda terasa sudah mulai menuju jalan yang tepat, mulai menghasilkan, mulai dikenal. Proyek yang Anda jalankan tidak akan menjadi beban berat karena Anda suka melakukannya. Bahkan asyiknya, Anda bisa saja akan menjadi lebih bahagia bekerja di perusahaan Anda sekarang, karena “side project” Anda ini memenuhi emosi Anda. Anda senang melakukannya dan itu menghasilkan.
IV. Ambil pilihan
Nah, untuk saran kali ini, tidak ada parameternya. Pilihan ini akan kembali ke diri Anda sendiri. Contoh saja, pengalaman saya sendiri. Sekitar 2 tahun sebelum saya resign dari perusahaan, saya sudah secara intens melakukan dua hal sebagai side project saya.
- Pertama: Bersama dengan ayah saya, saya memperbaiki kos-kosan yang sudah dirintis. Kos-kosan itu rusak berat, hancur lebur, saya masuk dan proyek saya yang ini adalah bagaimana saya mengambil alih kos-kosan itu dari ayah saya, dengan cara saya modali besar untuk pembenahan, saya benahi regulasinya, saya benahi komunikasinya dengan penghuni, apa pun itu.
- Kedua: Membuat konten. Saya dengan istri membuat konten sederhana, ngobrol santai membicarakan tentang keluarga, anak, ekonomi, apa pun itu yang menyangkut tentang hidup di sekitar kami. Kata kuncinya konten dan personal branding.
Tinggal saat itu adalah kapan saya harus pivot. Pivot saya terjadi waktu itu di akhir 2024. Kondisi perusahaan yang sudah tidak kondusif membuat saya berani untuk mengambil langkah untuk resign.
- Saya sudah punya uang tabungan. Waktu itu saya hitung, dengan pengeluaran per bulan yang sama, saya bisa hidup 4 tahun tanpa uang pemasukan serupiah pun.
- Saya sudah punya penghasilan dari kos.
- Saya sudah punya project membenahi kos agar menjadi semakin menghasilkan, dan project personal branding dari konten.
Resign-lah saya. Pivot-lah saya.
Mungkin Anda bertanya apakah saran saya ini cocok untuk Anda? Coba Anda bertanya begini sebelum mengambil langkah pivot:
- Apakah pekerjaan Anda bisa diotomatisasi? Jika bisa, maka pekerjaan Anda akan terancam. Kemungkinan besar Anda harus pivot.
- Jika pekerjaan Anda tidak bisa diotomasi, selamat, Anda berada di posisi aman untuk saat ini. Tetapi tetap bertanya seperti ini: seberapa sehat perusahaan tempat Anda bekerja? Kalau jawabannya sangat sehat, ya silakan lanjutkan, tetapi jika perusahaan Anda tidak sehat, cobalah melakukan pivot. Saya bilang cobalah, karena bukan kewajiban. Bisa saja Anda memilih pindah ke tempat lain yang lebih baik.
Ada hal lain yang bisa membuat Anda mungkin ingin pivot, yaitu kemerdekaan. Saat Anda berani pivot dan pivot Anda berhasil, ada kemungkinan yang paling menyenangkan yaitu:
- Anda akan punya kebebasan melakukan apa pun, kapan pun, di mana pun. Bukan berarti Anda bertindak kriminal atau berbuat tidak senonoh, ya. Ya, Anda pahamlah maksud saya.
- Anda bebas mengarahkan bisnis Anda ke arah yang Anda inginkan. Anda sudah pasti jadi CEO-nya, kan? Kalau Anda bukan CEO-nya, ya berarti bukan pivot namanya. Pindah ke perusahaan lain.
- Anda bebas belajar apa pun. Belajar apa yang Anda sukai. Anda tidak perlu terpaku pada “apa kata orang” tentang ilmu bisnis, ilmu produk, ilmu marketing, dsb. Anda bebas eksplorasi sesuka Anda.
- Pivot Anda sesuai dengan perkembangan AI. Anda ada kemungkinan punya karyawan super hebat bernama AI. Jadi Anda tidak terlalu pusing mencari karyawan. Tinggal bayar langganan AI saja. Terdengar “kotoran sapi”, kan? Tapi ya begitu adanya. Sudah banyak solopreneur yang melimpahkan pekerjaan laporan, cashflow, dan pembukuan menggunakan AI.
Mungkin 4 hal yang saya ungkapkan ini adalah hal minimum yang saya kejar—mengapa saya pivot. Gimana ndak menyenangkan coba?
Tetapi semua harus kembali ke diri Anda masing-masing. Rekan saya ada yang bekerja di perusahaan besar. Dia lebih suka tertekan dalam pekerjaan tetapi punya titel “Manajer Operasional Wilayah Sumatera”. Titel itu tadi mengalahkan stresnya ditekan banyak orang. Saya tidak. Saya mau ke mana-mana tidak ada yang mengatur, mau membuat produk tidak ada yang menyuruh, mau olahraga tidak ada yang mengejar-ngejar, mau tidur tidak ada yang mengganggu. Apakah sudah tercapai? Ya, belum — sudah 60 persen lah.
Saya tinggal membenahi sistem kos saya — yang membutuhkan uang besar. Saya lagi nyari dananya. Kalau dananya sudah ada, saya bisa membuat kos saya autopilot.
Saya juga tinggal fokus mengerjakan karya saya dengan menjadi kreator konten. Setelah menjadi kreator konten, selanjutnya apa? Wah, banyak. Bisa affiliate, bisa sponsored content, bisa bikin course, bisa bikin sesi 1-on-1 berbayar, bisa bikin buku, bisa sembarang kalir.
Tapi ya itu saya. Kalau Anda bagaimana? Kalau tertarik, saya ada sesi 1-on-1 gratis untuk ngobrolin masalah ini. Silakan DM saya, jika berkenan.
메타데이터
- post_id
- 2bb3f2ad3f42
- slug
- menimbang-keputusan-resign-dan-langkah-memulai-pivot-karier-2bb3f2ad3f42
- url
- https://medium.com/cerita-uang-perekonomian/menimbang-keputusan-resign-dan-langkah-memulai-pivot-karier-2bb3f2ad3f42
- canonical_url
- https://medium.com/cerita-uang-perekonomian/menimbang-keputusan-resign-dan-langkah-memulai-pivot-karier-2bb3f2ad3f42
- author_url
- https://medium.com/@donnykrn
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-17 03:23:32