← Back to list

Terikat.

Kici · 2025-07-03 03:04 · 3 claps · 0.8 min read
Open on Medium ↗

Terikat.

Aku sudah terlalu sering merasa sesak, tetapi tetap diam. Bukan karena aku tak tahu ini salah, melainkan karena aku sadar bahwa aku tak lagi memiliki tempat lain untuk pergi. Setiap hari terasa seperti peperangan kecil yang harus kutuntaskan dalam sunyi. Aku tak boleh salah, tak boleh lambat, dan tak boleh meminta jarak. Sebab setiap kali aku mencoba mundur, dia justru menarikku lebih dalam, dan setiap kali aku bersuara, dia membuatku merasa bersalah karena berani menyampaikan isi hati.

Hubungan ini melukaiku, tetapi anehnya, dari semua hal yang menyakitiku, dia tetap menjadi satu-satunya sosok yang membuatku merasa dibutuhkan. Maka aku bertahan, meski perlahan kehilangan diriku sendiri. Kadang aku bertanya-tanya, mungkin ini bukan cinta lagi. Mungkin ini hanya keterikatan yang tumbuh dari rasa takut — takut ditinggalkan, takut sendirian, takut kehilangan satu-satunya orang yang, meskipun menyakitiku, masih memelukku saat aku jatuh.

Aku lelah. Namun, aku juga takut kehilangan satu-satunya hal yang selama ini membuatku merasa berarti — meskipun makna itu datang dari genggaman yang terlalu erat, dari pelukan yang lebih menyerupai jerat.

Aku tahu ini tak sehat. Aku tahu ini bukan tempat yang aman. Namun, aku tetap tinggal. Bukan karena aku percaya dia akan berubah, melainkan karena aku tak tahu harus pergi ke mana… jika bukan padanya.


메타데이터
post_id
2bce5aee9bc0
slug
terikat-2bce5aee9bc0
url
https://medium.com/@yKeonho/terikat-2bce5aee9bc0
canonical_url
https://medium.com/@yKeonho/terikat-2bce5aee9bc0
author_url
https://medium.com/@yKeonho
status
ok
fetched_at
2026-07-19 04:24:24