← Back to list

Seribu Satu Siasat untuk Berdamai

Dariku, Olehku, Untukku

Bumi in Meja Sajak · 2026-07-14 06:30 · 132 claps · 3.7 min read
#prosa #meja-sajak #topeng #penerimaan-diri #writing-challenge
Open on Medium ↗

Seribu Satu Siasat untuk Berdamai

Dariku, Olehku, Untukku

Photo by Soumyojit Sinha on Pexels

Photo by Soumyojit Sinha on Pexels

Barangkali berdamai memang tidak pernah diciptakan sebagai tujuan akhir.

Ia hanya sebuah kata yang selalu kita sebut ketika lelah memikul sesuatu yang tak lagi memiliki tempat untuk kembali rebah. Atas dasar itulah, aku telah merangkai Seribu Satu Siasat untuk sekadar mengemis sedikit reda pada riuh yang terus membandang di ulu hati.

Aku pernah merangkai hari-hariku hingga nyaris tak menyisakan ruang bagi kepalaku sendiri. Kupikir, semakin padat waktu yang kutinggali, semakin sempit jalan yang dapat dilalui ingatan untuk kembali kepada tuan rumahnya.

Siasat itu kumulai dengan membaur ke dalam riuh tawa yang kubagi bersama teman-teman. Aku menunjukkan senyuman paling renyah, membiarkan mereka melihat seorang manusia yang tampak bahagia dari caraku bersenda gurau.

Namun, riuh di luar hanyalah singgah yang fana.

Itu hanya sebatas tirai tipis agar orang-orang tak melihat betapa lelahnya diriku membasuh nestapa, menjinakkan riaknya yang perlahan melandai di dalam sana. Sebab ketika aku kembali sendirian di kamar, riuh di siang hari tak pernah cukup untuk mencegah senyap yang selalu menuntun ingatan itu pulang begitu malam menjemput.

Aku bahkan sempat mencoba siasat lain; menatap lembaran terakhir yang tak pernah menjadi penutupnya. Kukoyak lembar demi lembar, kubiarkan serpihannya lebur di udara bersama alunan lagu yang selalu pandai mengembalikannya utuh.

Kuharap koyakan itu turut merobek habis rasa yang tersisa, sebelum akhirnya aku tersadar bahwa yang hancur hanyalah anganku untuk melupa — sementara kisah kita kekal dalam ingatan.

Di malam-malam yang terlampau dingin, aku memilih bersiasat dengan jemariku untuk menggoreskan bait demi bait pada lembar baru. Berharap setiap aksara yang lahir mampu menyeret semua pilu dari ulu hati, lalu membiarkannya membiru bersama tinta yang perlahan mengering di atas kertas.

Namun, di sinilah letak ironinya. Rangkaian kalimat ini ternyata hanyalah tirai yang lain. Menulis tentang pilu sering kali hanya membuat luka-luka tertata rapi dan terlihat indah.

Logikaku sudah sepenuhnya mencerna bahwa kisah kita telah usai. Langkah kita sudah memilih persimpangan yang berbeda. Tampaknya yang belum selesai adalah perasaanku sendiri. Mengapa ini begitu rumit untuk benar-benar bisa berdamai dengan perasaanku?

Mungkin karena kamu bukan sekadar seseorang yang pernah mampir lalu pergi saat badai reda. Justru kamu pernah menjadi rumah penenang di kala badai menerpa, tempat bertukar cerita tanpa pernah takut dikhianati, dan satu-satunya ruang paling aman untuk menjadi diriku sendiri tanpa sekat siasat.

Kehilangan rupanya bukan hanya tentang seseorang yang meninggalkan kita. Kehilangan juga tentang kebiasaan-kebiasaan yang ikut pergi bersamanya. Tentang cerita yang tak lagi tahu harus berlabuh ke mana. Tentang pulang yang tak lagi memiliki alamat.

Kini, kebiasaan-kebiasaan yang terlanjur lekat itu harus kulepaskan satu demi satu.

Pelan-pelan aku mulai belajar untuk tidak mencarimu pada hal-hal kecil yang kutemui di sepanjang hari, juga belajar menepis harapan agar kamu berbalik arah. Namun, di balik semua kepura-puraan ini, aku masih sering menengok ke belakang dari kejauhan — hanya untuk memastikan apakah kabarmu baik-baik saja di sana.

Menyaksikan lengkungan senyummu di luar sana adalah titik paling indah antara ketulusan dan rindu yang saling bertemu.

Di satu sisi, ada rasa lega melihat seseorang yang pernah kusayangi tetap memeluk utuh hidupnya tanpa siasat sepertiku. Namun di sisi lain, ada kepahitan yang memelukku; sebuah kenyataan bahwa kamu bisa sekokoh itu tanpa memerlukan kehadiranku lagi di sampingmu.

Aku tak tahu harus menyebut getaran ini sebagai apa. Kerinduan yang kehilangan tempat, atau sekadar hati yang enggan mencerna kenyataan bahwa dua orang yang dulunya saling mengenal begitu dalam, kini harus berjalan sebagai dua orang asing yang saling mengetahui rahasia satu sama lain.

Jika ada yang bertanya apakah rasa sayang itu masih tersisa, jawabannya mungkin masih ada. Hanya saja, bentuknya kini tak lagi sama.

Ia tak lagi mampu menyapa atau menggenggammu kembali. Rasa sayang itu telah menjelma menjadi sebaris doa senyap yang kukirimkan pada angin yang berhembus, tanpa pernah menuntut untuk didengar olehmu. Dalam diam, aku tetap peduli, merindu, dan menyayangimu sembari pelan-pelan melepaskan.

Jika kebahagiaanmu kini berada di luar genggamanku, itu sama sekali tidak masalah. Aku turut merasakannya, meskipun aku hanya bisa menyaksikanmu dari balik tirai. Mungkin beginilah rupa cinta ketika ia mulai kehilangan hasratnya untuk memiliki.

Harapanku sederhana: aku ingin sampai di suatu hari di mana aku bisa mengingat namamu tanpa mengingat rasa sakitnya, bisa menyebut namamu tanpa perlu merasakan hatiku ikut jatuh.

Hingga hari ini aku tak dapat menghitung sudah ada berapa siasat yang kucoba untuk berdamai. Mungkin sepuluh. Mungkin seratus. Atau mungkin, sudah seribu satu.

Aku lelah, tentu saja. Dari berbagai siasat yang kulakukan untuk mengelabui perasaanku dan diriku, tak satu pun mampu menyembunyikan retaknya. Ia tetap menjadi sesuatu yang berdiri jauh di depan sana, memanggilku dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Kata ikhlas yang kerap kubisikkan pun, pada akhirnya, hanyalah sebuah siasat terakhir yang kuucapkan dengan lancang pada diri sendiri.

Namun, demi bisa merasakan damai dengan perasaanku, aku masih berjalan menapaki sisa-sisa hari dengan hati yang terus menyembunyikan lukanya.

Entah titik paling damai itu benar-benar ada atau tidak. Mungkin berdamai bukan perkara menemukan siasat yang tepat, melainkan perkara hati yang akhirnya cukup dewasa untuk berhenti menyangkal apa yang tak lagi dapat diubah. Dan mungkin… aku belum sampai di titik itu.

Yang kutahu, besok aku akan mencobanya lagi. Lusa juga, sambil terus mencari tahu: seperti apa bentuk titik terdamai yang kelak bisa diterima dengan utuh oleh hatiku sendiri.

14/07/2026 -Bumi

Tulisan ini termasuk bagian dari Writing Challenge Meja Sajak. Tema untuk Juli adalah Topeng. Ayo ramaikan tantangannya dengan menuliskan interpretasi terbaikmu mengenai tema Topeng dalam kehidupan sehari-hari atau dari ruang imaji. Tulisan dapat berupa karya fiksi mulai dari: cerpen, cermin (cerita mini/flash fiction), puisi hingga prosa.

[embed]July Writing Challenge Meja Sajak Agenda bulanan baru kamimedium.com


메타데이터
post_id
2bd1aa0efcf2
slug
seribu-satu-siasat-untuk-berdamai-2bd1aa0efcf2
url
https://medium.com/meja-sajak/seribu-satu-siasat-untuk-berdamai-2bd1aa0efcf2
canonical_url
https://medium.com/meja-sajak/seribu-satu-siasat-untuk-berdamai-2bd1aa0efcf2
author_url
https://medium.com/@gemabrr
status
ok
fetched_at
2026-07-15 00:06:11