← Back to list

Perjalanan Mengembalikan Diri

#Writing78

Eva Maulidiyah BL · 2026-02-09 03:12 · 0 claps · 8.0 min read
#writing #writing-life #west-java #banyuwangi
Open on Medium ↗

Perjalanan Mengembalikan Diri

#Writing78

Memotret Gunung Raung dari Pos Pengamatan.

Memotret Gunung Raung dari Pos Pengamatan.

Saya masih di Banyuwangi saat menulis ini. Sendirian ditinggalkan di dalam kamar kos teman yang pagi-pagi sekali sudah berangkat ke Madrasah untuk mengajar, sedangkan saya sendiri masih harus kembali esok hari meskipun saya sendiri juga punya tanggung jawab mengajar.

Saya berangkat ke sini tiga hari yang lalu, tepatnya hari Jumat. Perjalanan saya ke Banyuwangi adalah guna memenuhi undangan program Kawan Sejarah 2026 yang digagas oleh kawan-kawan komunitas Historical Tour dari Banyuwangi. Ini bukan perjalanan jelajah di bawah kaki gunung pertama dalam hidup saya, sebab kemarin ketika di perjalanan saya tiba-tiba teringat zaman kuliah S1 dulu.

Rasanya sama persis, hanya saja saat ini dilakukan tanpa ada tuntutan sedangkan dulu dilakukan untuk memenuhi tugas mata kuliah dan harus membuat laporan akhir setelahnya. Selain itu, saya juga pernah terjaring dalam program Residensi kepenulisan yang diadakan oleh kawan-kawan Yayasan Gang Sebelah di kota saya sendiri, Gresik. Mereka juga mengajak saya untuk menelusuri jejak peninggalan sejarah di Gresik yang juga melahirkan buku antologi Literatutur setelahnya.

Lokasi champing, Jeongmara Campuhan.

Lokasi champing, Jeongmara Campuhan.

Kami nge-champ di bumi perkemahan milik perhutani Banyuwangi, tepatnya di Jeongmara Campuhan. Kegiatan ini menghadirkan beberapa pemateri yang sudah diundang dan dilanjutkan dengan diskusi setelah materi disampaikan.

Materi pertama disampaikan oleh Dr. Gema Budiarto, sejarawan asal Banyuwangi yang juga peneliti. Materi yang disampaikan adalah terkait historisitas, apa itu sejarah, bagaimana sejarah ditulis, apa saja yang harus ditulis untuk menjadi sebagai peristiwa sejarah, atau memilah lokalitas dan folklore yang juga bisa menjadi salah satu sumber sejarah, dan masih banyak lagi.

Jujur saja, materi ini mengingatkan saya di masa awal-awal kuliah dulu. Masih melekat di ingatan saya bagaimana ilmu adab dan budaya yang pernah menjadi makanan sehari-hari juga konsentrasi studi saya di perguruan tinggi berpengaruh pada aktivitas yang tidak jauh dari dunia akademis saya sekarang sebagai seorang guru.

Bagaimana sejarah harus ditulis secara obyektif dan bebas kepentingan, bagaimana sejarawan harus jujur menyampaikan apa yang ia lihat disertai dengan bukti juga sumber-sumber, baik primer maupun sekunder. Bahwa sejarah adalah fakta yang tidak perlu dipoles dan harus apa adanya adalah menjadi topik yang memang harus disampaikan dan juga ditanamkan pada para sejarawan pemula.

Kami bermalam di tenda yang sudah didirikan panitia, tertidur lelap setelah mendengarkan deras nya aliran air dari pegunungan yang tidak berhenti sama sekali juga rintik hujan yang turun sepanjang malam. Di bawah pohon pinus yang menjulang tinggi di antara tenda-tenda kami, saya berdiri mengamati pemandangan indahnya gunung Raung yang bertopping awan putih dan bermandikan cahaya matahari pagi dari balik pohon-pohon kelapa yang tak kalah tinggi di bumi perkemahan di hari kedua. Nasi kuning dengan ayam suwir dan telur dadar yang dipotong memanjang menjadi sarapan kami sebelum melanjutkan materi berikutnya hari itu.

Air jernih yang mengalir dari kaki gunung Raung.

Air jernih yang mengalir dari kaki gunung Raung.

Sejarawan Banyuwangi, Bpk. Zainollah Ahmad adalah pemateri kedua hari itu. Materi yang disampaikan lebih banyak terkait sejarah Banyuwangi di masa-masa klasik. Saya menyimak betul meskipun (jujur saja) tidak begitu ingat semua materi yang disampaikannya, materi beliau seperti buku-buku sejarah yang perlu dibaca berulang-ulang agar faham bagaimana kerajaan-kerajaan zaman dulu berkuasa.

Saya hanya mengingat raja Airlangga pada akhirnya memilih menjadi seorang Resi atau Rsi (dalam bahasa Sanskerta berarti pemuka agama) dalam hidupnya, ia bingung memilih penerusnya sebab kedua anaknya sama-sama mampu menjalankan tugas sebagai seorang raja.

Buku-buku karya Bpk. Zainollah Ahmad.

Buku-buku karya Bpk. Zainollah Ahmad.

Mendengarkan materi yang disampaikan beliau kepala saya rasanya sibuk mengetik banyak kata di dalamnya, sayangnya tidak semuanya mampu saya ingat bahkan hanya sebagian kecil saja. Tetapi menjadi menarik ketika diskusi dibuka dan saya menanyakan bagaimana sejarah harus disampaikan kepada generasi muda yang mana kebetulan beliau notabene-nya adalah juga memiliki background guru di SMP dan sudah bekerja sama dengan guru-guru MGMP Banyuwangi untuk meletakkan sejarah lokal menjadi salah satu pelajaran yang harus masuk dan dikaji dalam pelajaran mereka.

Teman-teman yang mengikuti dari zoom juga sempat menanyakan bagaimana pengaruh AI pada masa sekarang juga bisa menjadi salah satu alat untuk menyampaikan sejarah agar tidak terkesan membosankan, tetapi tantangannya tentu saja tidak semua kreator-kreator sejarah yang sedang ramai saat ini menyampaikan narasi yang benar. Entah karena kurangnya literasi atau mereka sendiri malas mencari informasi dan hanya mencari sejarah melalui AI itu sendiri.

Mendengar itu kesimpulan saya adalah selain mengajar di ruang-ruang kelas, seharusnya sejarawan atau guru sejarah perlu mahir untuk membuat prompt di masa sekarang ini. Selanjutnya mereka bisa berkolaborasi dengan para kreator untuk menyampaikan materi yang benar dan sesuai dengan teks sejarah, begitu juga sebaliknya, kreator tidak asal-asalan dalam membuat video bertemakan sejarah seenaknya sendiri.

Hal ini perlu dilakukan tentu saja agar meminimalisir kekeliruan informasi yang disampaikan, apalagi audio visual sudah menjadi santapan sehari-hari bagi generasi saat ini. Mereka lebih banyak melihat dan belajar dari gawai dibandingkan membaca buku-buku tebal yang ada di perpustakaan sekolah maupun perpustakaan-perpustakaan umum lainnya.

Satu lagi yang saya ingat dari yang disampaikan pak Zainullah dan memang ini juga menjadi konsentrasi saya sejak lama ketika berdiri mengajar di depan anak-anak, bahwa belajar sejarah sesungguhnya adalah memiliki kepentingan untuk membangun karakter diri. Maka sebagai guru sejarah saya selalu menegaskan keteladanan dari tokoh-tokoh yang dipelajari, apalagi saya mengajarkan sejarah kebudayaan Islam yang memang banyak sekali tokoh-tokoh Islam dihadirkan di sana.

Saya bukan hanya menyuguhkan keindahan atau tokoh baik dalam pelajaran saya, tetapi juga menghadirkan fakta bahwa memang tidak semuanya pemimpin dalam Islam memiliki kepribadian yang baik. Murid-murid saya harus bisa melihat, membaca, memilah, lalu memilih mana yang bisa mereka jadikan inspirasi dalam menghadapi kehidupannya di masa depan.

Area persawahan di sekitar petilasan Sayu Wiwit.

Area persawahan di sekitar petilasan Sayu Wiwit.

Usai mendengarkan materi, kami diajak menelusuri salah satu petilasan/makam Sayu Wiwit, ratu perang dari Gunung Raung, yang berada di desa Parangharjo, Banyuwangi. Sejarah lokal masyarakat setempat yang perlu saya simak untuk mendapatkan sedikit informasi terkait tempat yang sedang saya kunjungi saat ini, selebihnya mungkin hanya akan menjadi catatan perjalanan sebab memang saya hanya tamu bukan warga lokal yang harus nguri-nguri budaya di sini.

Sejarah lokal memang seharusnya memiliki tempat tersendiri bagi penduduknya, dan saya belajar itu sejak dulu. Bagi tamu seperti saya hari ini tentu saja seperti orang yang berkeliling melihat miniatur suatu tempat dalam sebuah etalase, saya tidak berhak mengutak-atik apapun di dalamnya dan hanya perlu melihat serta menyimak apa yang orang-orang lokal sampaikan. Sebab mendengarkan cerita-cerita masyarakat lokal juga bagian dari sejarah lisan yang bisa dicatat dalam narasi-narasi sejarah.

Petilasan Sayu Wiwit, ratu perang Gunung Raung.

Petilasan Sayu Wiwit, ratu perang Gunung Raung.

[embed]Petualangan di Gunung Bencana Philip dan saudara perempuannya Dinah dan Lucy-Ann dan saudara laki-lakinya Jack. Keempatnya sedang berlibur musim…aff.gramedia.com

Kami sempat ingin makan siang terlebih dahulu, tapi niat itu urung sebab lebih baik perjalanan diselesaikan baru kemudian beristirahat dan makan. Perjalanan pun dilanjutkan menuju Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Pos Pengamatan Gunung Raung di Mangaran, desa Sumberarum, kecamatan Songgon, Banyuwangi.

Dari ketinggian 580 mdpl saya melihat gunung Raung yang masih dikelilingi awan tebal di atasnya, bahkan di tengah perjalanan kami sebelumnya mendung tebal sedang menggelantung di atas kepala kami yang berkejaran dengan waktu. Untung saja hujan tidak turun saat itu juga, sehingga perjalanan kami bisa dibilang nyaman dan baik-baik saja.

Pos Pengamatan Gunung Raung. 580 mdpl.

Pos Pengamatan Gunung Raung. 580 mdpl.

Di dalam ruang Raung Volcano Observatory itu kami mendengarkan keterangan salah satu petugas bahwa aktivitas Raung cenderung stabil saat ini meskipun statusnya tetap awas, ini lebih mending daripada dua bulan lalu yang sempat mengalami lonjakan.

Meskipun begitu Raung tetap harus diawasi setiap saat sebab gunung ini termasuk yang aktif dan bisa sewaktu-waktu mengalami letusan. Ruangan Pos Pengamatan Raung itu dilengkapi dengan layar besar juga seismograf/seismometer (gempa), tiltmeter (kembang-kempis), GPS/GNSS (pergeseran), serta kamera termal/spektrometer (suhu/gas).

Raung Volcano Observatory.

Raung Volcano Observatory.

Sepanjang jalan menuju tempat ini saya disuguhi beberapa plang hijau dengan petunjuk arah yang bertuliskan Area Pengungsian. Selain itu, tentu saja plang madrasah-madrasah juga TPQ NU yang tidak asing di mata saya sebab saya juga pernah melihat hal serupa di kaki gunung Sindoro dan Sumbing, di Temanggung, tempat saya dulu melakukan penelitian sejarah semasa kuliah.

Saya teringat jokes (mungkin) garing yang sempat saya lontarkan pada salah satu teman yang rumahnya kami tempati menginap di kaki gunung saat itu, saya mengatakan: orang-orang yang hidup di kaki gunung adalah orang-orang alim karena memang lebih dekat dengan Tuhan. Mereka berada di ketinggian yang lebih tinggi dibandingkan orang yang hidup di dataran rendah atau di pesisir seperti saya yang lumayan jauh dari Tuhan. Dia heran dan melontarkan pertanyaan ‘kok bisa?’ saya jawab, ‘bukankah Tuhan berada di tempat tertinggi?’ Hehe.

Setelah mendengarkan keterangan petugas kami sampai pada materi terakhir terkait sejarah lingkungan. Materi disampaikan oleh dosen muda dari kampus Universitas Malang, Ronal Ridhoi, M. A. kami memanggilnya mas Ronal.

Sejarah lingkungan tentu saja mengajak kita kembali pada lingkungan tempat kita hidup, mengajak kita untuk melihat asal usul tempat kita berdiri hari ini dengan melihat masa lalu agar ke depan keburukan yang terjadi di lingkungan kita itu tidak terulang kembali di masa depan. Dalam materinya, mas Ronal menunjukkan peta Banyuwangi pada masa kolonial yang rupanya sudah dipetak-petakkan oleh Belanda, rupanya hal ini juga masih terjadi sampai sekarang.

Menyinggung masalah kapitalisme penjajah yang tidak ada habisnya, membuat kita terus melihat hak kita tidak lagi menjadi hak itu sendiri. Air minum yang seharusnya bebas kita dapatkan dari alam, justru kita dapatkan dari botol-botol kemasan dengan harga tertentu. Begitu juga tanah-tanah di kaki gunung Raung ini yang sejak dulu dikaveling untuk dibisniskan, diolah menjadi perkebunan kopi, teh, kakao (cokelat) atau tanaman buah-buahan lainnya untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah pada saat itu.

Dari belajar sejarah lingkungan saya menyimpulkan bahwa sebagai manusia seharusnya kita menyadari jika terus menuruti mental kapitalis sesungguhnya kita tidak akan mengenal kata ‘cukup’, tetapi sebagai manusia yang memiliki kesadaran diri baiknya kita berhenti ketika sudah tahu hal-hal yang kita lakukan perlahan menimbulkan kehancuran bagi lingkungan tempat manusia hidup.

Terburu-buru berkemas karena hujan.

Terburu-buru berkemas karena hujan.

Hidangan terakhir sebelum pulang ke rumah masing2.

Hidangan terakhir sebelum pulang ke rumah masing2.

Perjalanan selama dua hari ini memang melelahkan, ditambah lagi kondisi saya ketika berangkat tidak begitu fit karena masih ada sisa-sisa sakit di hari-hari sebelumnya. Tapi melihat keberanian diri sendiri untuk pergi sejauh ini rasanya sangat melegakan, seperti menaklukkan diri sendiri yang sebelumnya diselimuti ketakutan-ketakutan yang dibuat oleh kepala selama bertahun-tahun lamanya.

Berani mengambil resiko, keberanian melakukan perjalanan sendiri, menikmati perjalanan, pengetahuan baru, teman-teman baru, juga tulisan catatan perjalanan baru. Dan yang tidak kalah penting dari itu semua adalah saya berani berbicara, mengangkat tangan, menyampaikan informasi dan kritik dari pemikiran saya sendiri. Ah, rasanya kembali kepada diri sendiri yang sudah lama berdiam diri. Barangkali juga karena memang ini dunia yang saya tekuni, sehingga saya tahu banyak apa yang ada di dalamnya dan membuat saya nyaman berbicara.

Saya selalu membayangkan bisa pergi ke tempat-tempat yang jauh dengan fasilitas nyaman, lalu melihat, memotret, dan mencatat nya sebagai buku perjalanan hidup, selain itu juga bisa mendapatkan kemudahan dan keuntungan finansial.

Berharap semoga ke depan hidup membawa saya ke tempat-tempat impian yang ingin saya kunjungi di dunia ini, membawa serta keluarga, pasangan, dan juga anak-anak untuk merasakan kebahagiaan yang sama dengan apa yang saya rasakan nantinya.

Kepada diri sendiri yang sudah berusaha mencari, terima kasih.


메타데이터
post_id
2be99f585a5c
slug
perjalanan-mengembalikan-diri-2be99f585a5c
url
https://medium.com/@evaliberti1/perjalanan-mengembalikan-diri-2be99f585a5c
canonical_url
https://medium.com/@evaliberti1/perjalanan-mengembalikan-diri-2be99f585a5c
author_url
https://medium.com/@evaliberti1
status
ok
fetched_at
2026-07-21 06:15:37