← Back to list

Kewajiban Dosen Yang Sebaiknya Tidak Diketahui Calon Dosen

Dulu, waktu masih muda — sekarang sudah merasa tua — dan penuh harap, saya membayangkan menjadi dosen itu kira-kira begini: pagi-pagi…

Rusdi - · 2026-05-14 18:52 · 1 claps · 4.2 min read
#dunia-kampus #dosen #pendidikan-tinggi #indonesia
Open on Medium ↗

Kewajiban Dosen Yang Sebaiknya Tidak Diketahui Calon Dosen

Dulu, waktu masih muda — sekarang sudah merasa tua — dan penuh harap, saya membayangkan menjadi dosen itu kira-kira begini: pagi-pagi dengan kopi mengepul di meja sambil diskusi dengan kolega, atau membaca buku tebal sambil sesekali mengangguk-angguk bijak. Lalu masuk kelas, menyampaikan gagasan-gagasan besar yang mengubah cara pandang mahasiswa. Sore harinya menulis jurnal, malam harinya membaca lagi. Hidup yang tenang, intelektual, dan — ini yang paling penting — terlihat penting dan bijaksana.

Ternyata tidak.

Yang tidak pernah ada dalam bayangan itu adalah: duduk berjam-jam di depan laptop menyusun borang akreditasi dengan kolom-kolom yang jumlahnya seperti sensus penduduk. Lalu ada BKD — Beban Kerja Dosen — sebuah dokumen yang meminta Anda membuktikan bahwa Anda memang benar-benar bekerja. Kepada siapa dibuktikan? Kepada sistem. Sistem itu tidak akan menjawab, tidak akan berterima kasih, dan tidak akan bertanya kabar Anda. Tapi ia akan menolak file Anda kalau formatnya salah.

Beberapa hari — lebih tepatnya seminggu — belakangan, saya sering senyum-senyum sendiri.

Bukan karena ada yang lucu di sekitar saya. Bukan pula karena dapat kabar baik. Tapi karena saya membaca story Whatsapp — orang-orang yang saya kenal baik, yang wajahnya saya hafal dalam kondisi lelah — yang kinii sedang sibuk mempersiapkan asesmen lapangan.

Saya senyum. bukan karena bahagia, tapi ada sedikit bahagianya juga.

Yang membuat situasi ini tidak biasa — bahkan untuk ukuran dunia kampus yang memang sudah terbiasa dengan hal-hal tidak biasa — adalah bahwa jadwal asesmen lapangan itu baru diumumkan sekitar satu minggu sebelum pelaksanaan. padahal submit borangnya sudah lebih dari setahun lalu.

Satu minggu.

Tujuh hari. Seratus enam puluh delapan jam. Yang sebagian besarnya sudah terisi oleh jadwal mengajar, rapat rutin, bimbingan mahasiswa, dan tentu saja kehidupan yang tidak bisa serta-merta dijeda hanya karena sistem akreditasi nasional tiba-tiba ingat bahwa ia punya jadwal yang perlu dikabari.

Bayangkan Anda sedang tenang-tenangnya duduk di rumah, lalu ada orang mengetuk pintu dan berkata: “Minggu depan kami akan memeriksa seluruh isi rumah Anda. Tolong siapkan semua dokumen kepemilikan, nota pembelian setiap perabot, dan bukti foto bahwa Anda memang benar-benar tinggal di sini dan pemilik rumah ini.”

Lalu orang itu pergi begitu saja.

Tanpa menunggu reaksi Anda.

Itulah kira-kira rasanya.

Akreditasi, dalam teorinya, adalah sesuatu yang sudah diketahui jadwalnya jauh-jauh hari. Ia seharusnya datang dengan peringatan yang cukup, dengan waktu persiapan yang terhormat, dengan jeda yang memadai antara pengumuman dan pelaksanaan. Seharusnya seperti tamu yang mengirim surat dulu sebelum berkunjung.

Tapi kenyataannya ia lebih sering datang seperti perut mules yang tiba-tiba muncul tanpa tahu apa sebabnya.

Dan tentu saja, begitu kabar itu tersebar, semua orang tiba-tiba sangat peduli pada hal-hal yang biasanya tidak terlalu dipedulikan. RPS yang biasanya tinggal di laci tiba-tiba harus dipoles kilat. Presensi yang selama ini “nanti-nanti” tiba-tiba harus dilengkapi dalam hitungan hari. Dokumen yang seharusnya disiapkan berbulan-bulan harus rampung dalam hitungan hari. Mahasiswa, Alumni, pemangku kepentingan semua harus dihubungi. Dan ada satu kalimat sakti yang beredar di grup WhatsApp seperti mantra darurat: “Jangan lupa buktinya.”

Bukti. Segala sesuatu harus ada buktinya. Dan harus ada dalam tempo sesingkat — singkatnya.

Anda mengajar? Ada buktinya? Anda membimbing? Ada buktinya? bahkan Anda bernapas di lingkungan kampus selama tiga tahun terakhir? akan lebih baik jika ada buktinya, dan sebaiknya semua bukti sudah ter-scan dengan resolusi yang benar, dan sebaiknya sudah dinamai dengan format penamaan file yang konsisten.

Harus lengkap sebelum hari asesmen lapangan

Dan di tengah semua kepanikan yang singkat itu — mengajar tetap harus jalan, membaca tetap harus dilakukan, tulisan tetap menunggu untuk diselesaikan, mahasiswa bimbingan tetap butuh respons, pengabdian tetap harus dilaporkan. Kewajiban utama tidak hilang. Ia hanya makin terpojok atau dipojokkan sementara.

Saya pernah mengalami bagaimana mengajar jadi terasa seperti sela di antara urusan administratif, bukan sebaliknya. Membaca? Kemewahan. Menulis? pekerjaan apalagi itu!

Yang paling menggelikan — meski tidak terasa gelikan waktu itu — adalah bahwa semua kelelahan itu bukan karena Anda sedang memproduksi gagasan, bukan karena Anda baru menyelesaikan penelitian yang akan mengubah dunia. Tapi karena ukuran font di halaman 47 harus 12, bukan 11. Dan informasi itu baru Anda terima setelah datang jadwal asesmen lapangan. Dan besok pagi ada rapat mendadak untuk memastikan semua orang tahu bahwa ukuran font di halaman 47 harus 12, bukan 11.

Maka kini, dari posisi saya yang sedang beristirahat dari semua kewajiban itu — hanya memantau dari jauh, hanya membaca story kolega tanpa harus ikut menanggung bebannya — ada perasaan yang susah dinamai dengan tepat.

Kalau kasihan. Terlalu merendahkan. kalau senang. Terlalu jahat.

Mungkin lebih tepat: lega yang disertai rasa bersalah yang kemudian digantikan oleh rasa lega lagi. ini perasaan apa sih? hehe

Tapi juga ada satu pertanyaan kecil yang tiba-tiba muncul begitu saja, terbesit dari sudut kesadaran yang jujur: kok mau-maunya, ya?

Kok mau-maunya dulu kerja sampai tidak kenal waktu begitu? Sampai mengajar terasa seperti bonus, bukan pokok? Sampai membaca satu artikel pun terasa seperti pencapaian yang patut disyukuri? Dan kini — kok mau-maunya kolega-kolega itu menerima kabar mendadak itu, lalu bukannya protes keras, malah langsung buka laptop dan mulai mengetik?

Pertanyaan itu pastila tidak ada jawaban yang memuaskan. Atau mungkin jawabannya justru terlalu sederhana dan terlalu manusiawi: ya karena memang harus, dan karena di sekitar kita semua orang juga melakukan hal yang sama, maka kita pun ikut larut dan menyebutnya normal.

Begitulah cara sebuah situasi yang sesungguhnya tidak normal dilestarikan — sampai ia membuat dirinya terasa biasa.

Ini bukan ejekan untuk para kolega yang kini sedang berjibaku itu. Sama sekali bukan. Pekerjaan mereka penting. Akreditasi itu penting. Kelembagaan yang sehat itu penting.

Saya hanya sedang berdiri di pinggir lapangan, menonton dari kejauhan lewat layar ponsel, dan pelan-pelan baru menyadari betapa berat — dan betapa absurd — pertandingan yang dulu juga pernah saya ikuti itu. Pertandingan yang aturannya kadang baru dibagikan sesaat sebelum peluit ditiup.

Dan mungkin di situlah letak kemuliaannya yang sesungguhnya.

Bukan di gagasan-gagasan besar yang tersampaikan di ruang kelas. Bukan di jurnal yang terbit dengan nama kita di bagian atas. Tapi di kenyataan bahwa orang-orang itu — kolega-kolega yang story-nya saya baca sambil senyum-senyum tadi — tetap mau datang esok pagi dan pulang larut malam. Membuka laptop yang sama. Mengisi kolom yang sama. Meski kabar tentang kolom itu baru mereka terima.

Dengan mata yang mungkin sama perihnya, tapi kaki yang masih juga melangkah.

Itu bukan sekadar pekerjaan.

Itu semacam pertapaan modern yang dikelola dengan buruk — bedanya, di pertapaan zaman dulu orang mencari pencerahan batin dengan jadwal yang mereka tentukan sendiri, sedangkan di sini orang mencari nilai akreditasi yang cukup untuk melajutkan hidup kelembagaan, dengan jadwal yang ditentukan orang lain, seminggu sebelumnya, lewat grup WhatsApp.


메타데이터
post_id
2c0349d46e09
slug
kewajiban-dosen-yang-sebaiknya-tidak-diketahui-calon-dosen-2c0349d46e09
url
https://medium.com/@roesdysh_12164/kewajiban-dosen-yang-sebaiknya-tidak-diketahui-calon-dosen-2c0349d46e09
canonical_url
https://medium.com/@roesdysh_12164/kewajiban-dosen-yang-sebaiknya-tidak-diketahui-calon-dosen-2c0349d46e09
author_url
https://medium.com/@roesdysh_12164
status
ok
fetched_at
2026-06-23 06:34:20