Ketika kebebasan kehilangan batas, ia menjelma menjadi gerbang luas bagi kerakusan untuk berkuasa.
Mayoritas meyakini bahwa kebebasan tanpa batas adalah hadiah paling agung bagi umat manusia. Mereka merayakannya seolah itu adalah puncak…
Ketika kebebasan kehilangan batas, ia menjelma menjadi gerbang luas bagi kerakusan untuk berkuasa.
Mayoritas meyakini bahwa kebebasan tanpa batas adalah hadiah paling agung bagi umat manusia. Mereka merayakannya seolah itu adalah puncak peradaban. Namun, yang sering terlupa adalah bahwa kebebasan yang tak dikawal oleh tanggung jawab, akan menyeret kita pada Tragedy of the Commons. Ketika setiap orang mengambil lebih demi dirinya sendiri, hingga tak ada lagi yang tersisa untuk siapa pun.
Photo by Noah Ridge on Unsplash
Kejeniusan akal dalam menggunakan logika dapat melahirkan pemikiran yang hebat. Pemikiran yang tidak hanya menciptakan konsep, gagasan, atau ide, tetapi juga mampu membentuk aturan yang mengikat dan mengarahkan peradaban. Mayoritas manusia percaya bahwa kebebasan tanpa batas adalah hadiah paling mulia bagi umat manusia. Mereka memujanya, menyanjungnya seolah ia adalah puncak dari martabat dan kemajuan. Namun sejatinya, kebebasan tanpa batas hanyalah jalan sunyi menuju Tragedy of the Commons.
Bayangkan sebidang padang rumput komunal di sebuah desa kecil. Semua orang bebas menggembalakan ternak. Tidak ada pagar. Tidak ada larangan. Tidak ada negara. Rumput tumbuh untuk semua. Hingga suatu hari ada seorang warga yang menambah satu sapi lagi. “Apa ruginya? Hanya satu ekor.” pikirnya. Lalu yang lain mengikuti logika sederhana itu. Hingga rumput habis. Maka tragedi lahir: Bukan dari kebencian, bukan dari kejahatan, melainkan dari kalkulasi kecil yang masuk akal bagi seorang individu, tetapi mematikan bagi semua.
Sejak abad ke-20, penggembala itu telah berubah wujud. Ia berganti menjadi korporasi, perusahaan, dan institusi yang tak jelas jejak asalnya, pendatang yang tak memiliki kampung halaman dan tak punya ikatan emosional pada tanah yang mereka sentuh. Sapi telah digantikan oleh mesin bukan dua, bukan lima, melainkan ribuan mesin yang bekerja tanpa henti, mengunyah bumi lebih rakus daripada hewan mana pun yang pernah hidup. Ia tidak lagi merusak sepetak padang rumput, melainkan meruntuhkan habitat, menghancurkan ekosistem, dan memutus rantai kehidupan yang telah bertahan ribuan tahun. Ia tidak tinggal di tempat yang mereka hancurkan. Keuntungan dari kehancuran itu tidak pernah kembali ke wilayah yang dikorbankan. Menuju gedung-gedung kaca yang menjulang di kota lain, atau bahkan negara lain, tempat para pemilik modal menghitung laba sambil menutup telinga dari jeritan tanah yang ia hancurkan.
Photo by Iqro Rinaldi on Unsplash
Tragedi ini lahir ketika kebebasan individu menabrak batas ekologis, dan diperparah oleh kebebasan kekuasaan yang melampaui batas moral. Dalam keseharian, ia tampak sepele: ketika kita melempar sampah ke sungai, karena pikiran kita berbisik, “tidak apa-apa, semua orang juga begitu.” Dalam kehidupan bernegara, ketika undang-undang dilubangi dan dipelintir atas nama “kepentingan umum” kepentingan yang misterius, yang entah milik siapa.
Ketika kebebasan kehilangan batas, ia menjelma menjadi gerbang luas bagi kerakusan untuk berkuasa. Kerakusan tidak lagi berhenti sebagai sifat individu, ia berkembang menjadi karakter yang mengakar dalam sistem ekonomi dan politik. Ia dilegalkan lewat regulasi yang melonggarkan pembukaan lahan, izin yang terbit tanpa evaluasi, aparat yang lemah pengawasan, serta logika pertumbuhan ekonomi yang mengabaikan daya dukung lingkungan.
Ketika seluruh struktur bergerak mengikuti ritme eksploitasi, kerusakan bukan lagi kecelakaan, melainkan keniscayaan. Ia adalah konsekuensi logis dari mesin produksi yang menempatkan profit di atas kehidupan. Selama pohon hanya dihitung sebagai angka dalam laporan pasar, selama sungai dianggap sekadar saluran industri, selama gunung dipandang sebagai barang dagangan, maka kehancuran akan terus hadir, pada hari ketika bumi tidak lagi sanggup memikul beban yang ditumpahkan oleh kerakusan segelintir babi yang menggerogoti bumi.
Garrett Hardin, pada 1968 mengatakan “Freedom in a commons brings ruin to all.” Ketika kebebasan di ruang bersama tidak diberi batas, ia akan menghantarkan kehancuran bagi semua. Sekarang kebebasan itu bukan lagi milik semua orang melainkan milik sedikit kekuatan ekonomi yang bisa memperbesar efektivitas kerusakan. Ketika sebuah sumber daya dibiarkan terbuka — open access — rasionalitas justru bekerja sebagai alat perusak.
메타데이터
- post_id
- 2c16c3b5b7a5
- slug
- ketika-kebebasan-kehilangan-batas-ia-menjelma-menjadi-gerbang-luas-bagi-kerakusan-untuk-berkuasa-2c16c3b5b7a5
- url
- https://medium.com/@nurulshoi/ketika-kebebasan-kehilangan-batas-ia-menjelma-menjadi-gerbang-luas-bagi-kerakusan-untuk-berkuasa-2c16c3b5b7a5
- canonical_url
- https://medium.com/@nurulshoi/ketika-kebebasan-kehilangan-batas-ia-menjelma-menjadi-gerbang-luas-bagi-kerakusan-untuk-berkuasa-2c16c3b5b7a5
- author_url
- https://medium.com/@nurulshoi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 17:05:31