← Back to list

Empat Minggu yang Mengasah: Transformasi Klinis di HCTM–UKM

Menjejakkan langkah di Hospital Canselor Tuanku Muhriz (HCTM) Universiti Kebangsaan Malaysia terasa seperti memasuki babak baru dalam…

Belliciajuntak · 2025-12-12 04:53 · 0 claps · 2.4 min read
#exchange #medical-student #colorectal #urology #endocrinology
Open on Medium ↗
Wiki topics: EDU · Education & Learning

Empat Minggu yang Mengasah: Transformasi Klinis di HCTM–UKM

Menjejakkan langkah di Hospital Canselor Tuanku Muhriz (HCTM) Universiti Kebangsaan Malaysia terasa seperti memasuki babak baru dalam perjalanan saya sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Selama hampir satu bulan penuh, mulai 3 hingga 28 November 2025, saya merasakan ritme kehidupan klinis di rumah sakit rujukan tersier yang sibuk, modern, dan penuh tantangan ini. HCTM bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang untuk menyerap budaya medis baru — bagaimana dokter, residen, perawat, dan mahasiswa bekerja dalam harmoni yang disiplin namun tetap ramah. Sejak hari pertama, atmosfer akademiknya terasa kuat: setiap staf menyambut mahasiswa dengan profesional, tetapi tetap memberi ruang untuk bertanya, berdiskusi, dan belajar lewat pengalaman nyata.

Rotasi pertama dimulai di Departemen Bedah Kolorektal, dan sejak hari itu saya benar-benar disadarkan pada kompleksitas dunia bedah saluran cerna. Di endoscopy suite, saya melihat bagaimana OGDS dan kolonoskopi bukan hanya prosedur rutin, tetapi jendela untuk memahami penyakit lebih dalam. Lesi kecil di antrum, polip sessile yang hanya 0,8 cm, hingga massa friable yang mengarah ke adenokarsinoma — semuanya tampak jelas tepat di depan mata, lengkap dengan penjelasan anatomi dan teknik dari konsultan yang sabar membimbing. Pengalaman masuk ke ruang operasi pun tak kalah intens: mengikuti Low Anterior Resection dan Right Hemicolectomy sambil mempelajari TME, vaskularisasi kolon, sampai prinsip onkologi membuat saya benar-benar merasa berada di garis depan bedah modern. Rasanya seperti menyaksikan ilmu dalam buku teks berubah menjadi realitas yang konkret.

Minggu berikutnya di Bedah Urologi justru membuka bab lain — lebih teknis, lebih presisi, namun tetap penuh kejutan. Di klinik urologi, saya belajar mengenali keluhan LUTS dari pasien, melakukan anamnesis, memahami pemeriksaan DRE, sampai menafsirkan nilai PSA dengan pendekatan berbasis risiko. Flowmetri menjadi alat favorit saya minggu itu, karena dokter menjelaskan kurva bell-shaped normal hingga pola khas obstruksi dengan cara yang sederhana namun mengena. Ruang operasinya pun menghadirkan tontonan medis yang tak akan saya lupakan: TURP dengan loop cautery yang bekerja cepat, vasektomi yang tampak sederhana namun penuh detail anatomi, hingga observasi partial nephrectomy yang begitu teknis dan strategis. Setiap prosedur seperti potongan puzzle yang membantu memahami betapa luasnya spektrum penyakit urologi.

Namun, pengalaman paling panjang dan paling berwarna datang dari rotasi Endokrin di Departemen Penyakit Dalam. Di sini, bedside teaching terasa seperti serial drama medis yang setiap episodenya punya kasus menarik. Diskusi mendalam mengenai patofisiologi diabetes, mekanisme kerja obat antidiabetes, hingga penentuan regimen insulin membuat pemahaman teoretis menjadi jauh lebih hidup. Tidak hanya itu, kasus stroke iskemik pada pasien DM tak terkontrol, hipertiroid dengan takikardia, hingga pasien dengan INR sangat tinggi karena overdosis warfarin menjadi contoh nyata bagaimana endokrin, neurologi, kardiologi, hingga psikiatri saling terhubung. Setiap hari ada laporan pagi, kunjungan bangsal, klinik, dan sesi diskusi yang membuat otak terus bekerja tetapi hati justru semakin jatuh cinta pada dunia klinis.

Program elektif di HCTM–UKM ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar syarat akademik — ia menjelma menjadi pengalaman hidup yang membentuk cara pandang saya sebagai calon dokter. Mulai dari interaksi dengan pasien multikultural, penggunaan teknologi medis yang lebih maju, hingga dinamika kerja tim kesehatan yang efisien, semuanya memperluas wawasan saya tentang bagaimana pelayanan kesehatan bisa berjalan di negara lain. Banyak hal yang saya pelajari: pentingnya bedside teaching, betapa membantu akses penuh ke rekam medis digital dan imaging workstation, hingga perlunya orientasi khusus bagi mahasiswa internasional. Meski program ini hanya berlangsung empat minggu, kenangannya terasa jauh lebih panjang — dan saya tahu, pengalaman ini akan selalu menjadi pijakan penting dalam perjalanan profesional di masa depan.


메타데이터
post_id
2c452cfd214f
slug
empat-minggu-yang-mengasah-transformasi-klinis-di-hctm-ukm-2c452cfd214f
url
https://medium.com/@bellicia03juntak/empat-minggu-yang-mengasah-transformasi-klinis-di-hctm-ukm-2c452cfd214f
canonical_url
https://medium.com/@bellicia03juntak/empat-minggu-yang-mengasah-transformasi-klinis-di-hctm-ukm-2c452cfd214f
author_url
https://medium.com/@bellicia03juntak
status
ok
fetched_at
2026-07-18 03:02:36