← Back to list

Janji

Suarrapena_ · 2026-01-03 11:45 · 1 claps · 2.6 min read
#life #horror #history #kos-kosan
Open on Medium ↗
Wiki topics: HIS · History

Janji

POV Jagat

Rasanya kayak baru kemarin gue menghadapi kejadian serupa. Tapi yang ini jauh lebih kompleks dari apa pun yang pernah gue alami sebelumnya. Entah apa akar masalahnya, gue sendiri belum nemu titik terang.

Kata entitas itu, jiwa Wisesa sudah pernah terikat janji untuk mengabdi kepada mereka. Tapi begitu gue tanya langsung ke orangnya, jawabannya justru bertolak belakang.

“Gue nggak pernah sesyirik itu, Mas, sampai nyekutukan Tuhan gue. Amit-amit,” katanya, dengan nada kecewa yang kentara.

Nah, di situ gue makin bingung. Kalau bukan Wisesa… lalu siapa?

Hari ini gue sudah terlanjur janji ke anak-anak kos buat ceritain kejadian semalam. Mungkin emang sudah takdirnya begitu—gue nggak bisa ngindar. Sena juga nggak bisa pasang badan buat gue, anjir. Yaudah lah. Yang penting semuanya aman dan nggak ada yang curiga aneh-aneh ke gue.

Kami berkumpul di ruang tengah. Hari ini sebagian anak kos ada di rumah, sebagian lagi kerja, ada juga yang kuliah atau kerkom. Gue sendiri diizinin Pak Bos buat bolos sehari—hehehe.

Di ruang tengah sudah ada Jati, Mandala, Wisesa, Rui, Windu, dan Hasta. Adik-adik yang lain lagi ada kelas, jadi ikut nyimak lewat WhatsApp.

“Sebenarnya semalem ada apa sih, Mas?” tanya Mandala dengan wajah cemas.

“Iya. Kenapa bisa segitunya semalem? Gue masih bingung setengah mampus,” sambung Hasta.

Yang lain memilih diam, sepertinya masih mencerna semuanya.

“Oke,” gue tarik napas panjang. “Gue jelasin pelan-pelan ya. Tapi… jangan kaget.”

Mereka langsung fokus.

“Sebenarnya, semalem jiwa Wisesa hampir diambil sama makhluk halus. Tanya aja langsung sama orangnya.”

“HAH?! MAKSUD LO DEMIT?” Mandala refleks teriak.

“Ya… bisa dibilang gitu.”

“Sejak kapan kos kita jadi angker, Mas? Terus kenapa sampai segitunya?” Jati ikut nimbrung.

“Sebenernya,” gue mulai lagi, “dari awal kos ini udah banyak banget entitas asing. Cuma mereka nggak bisa nembus ke kalian. Dari pertama gue masuk halaman ini, aura kosnya udah beda.”

Gue jeda sebentar.

“Gue sempat mikir, apa karena 𝘣𝘢𝘶 gue—makanya mereka ngerasa terpanggil. Tapi setelah gue telusuri, sebagian iya… sebagian enggak.” Semua langsung saling pandang.

“Maksud lo bau apaan sih, Mas?” tanya Rui, alisnya berkerut.

“Bukan bau badan, anjir,” gue nyengir dikit. “Aura. Energi. Sesuatu yang nempel sama gue sejak lama.”

“Terus hubungannya sama Wisesa apa?” Windu nanya, suaranya lebih tenang dibanding yang lain.

Gue melirik Wisesa. Anak itu dari tadi diem, tangannya saling menggenggam, mukanya pucat tapi masih berusaha santai.

“Hubungannya,” gue jawab pelan, “karena semalem itu bukan sekadar mau ‘ngambil’. Mereka mau nagih.”

“Nagih apa?” Hasta ikut nimbrung.

“Janji.”

Ruangan langsung hening.

“Janji lama,” lanjut gue. “Yang seharusnya udah kelar… tapi entah kenapa muncul lagi sekarang.”

Wisesa akhirnya angkat suara. “Mas… sumpah, gue nggak pernah janji apa-apa. Gue hidup normal, ibadah normal. Nggak pernah macem-macem.”

“Gue percaya,” kata gue cepat.

“Makanya ini jadi masalah.”

“Terus… kalau bukan gue?” suara Wisesa sedikit bergetar.

Gue menghela napas. “Berarti janji itu bukan milik lo secara sadar,” jawab gue. “Bisa jadi... itu warisan.”

“WARISAN?” Mandala refleks berdiri. “Maksud lo keturunan?”

“Bisa dari darah. Bisa dari tempat. Bisa dari nama,” jelas gue. “Dan yang paling bahaya… bisa dari orang yang pernah tinggal di sini sebelum kita.”

Semua langsung menoleh ke sekeliling ruang tengah, seolah dinding-dinding kos ikut menyimak.

“Kos ini,” lanjut gue, “punya sejarah yang belum selesai. Dan semalem... ada sesuatu yang 'bangun' karena ngerasa waktunya udah tiba.”

“Terus sekarang gimana, Mas?” Jati nanya, nadanya mulai waspada. Gue menatap satu-satu wajah mereka.

“Untuk sekarang, yang gue minta.. Kalian jaga diri masing-masing. Minta perlindungan dari Allah. Banyak-banyak berdoa, hanya itu yang bisa kita andelin. Satu lagi.. gue mau kedepannya kalau ada kejadian janggal atau permasalahan apapun, kalian bisa cerita satu sama lain. Jangan di pendem sendiri. Okke?”

"Iya, Mas, " jawab mereka hampir serempak.

Semua anak kos hanya saling pandang. Mungkin masih ingin mencerna kejadian semalam yang asing menurut orang awam. Tidak buat gue, Windu, dan Wisesa.


메타데이터
post_id
2c55256e684a
slug
janji-2c55256e684a
url
https://medium.com/@suarrapena/janji-2c55256e684a
canonical_url
https://medium.com/@suarrapena/janji-2c55256e684a
author_url
https://medium.com/@suarrapena
status
ok
fetched_at
2026-07-08 10:57:59