Malam: Waktu dan Tempat Berkabung
Kalau hidup tak mendapatkan kebahagiaan yang sudah lama diminta, mempersingkat masa aktif di dunia bisa jadi pertimbangan sang pencipta.
Malam: Waktu dan Tempat Berkabung
Kalau hidup tak mendapatkan kebahagiaan yang sudah lama diminta, mempersingkat masa aktif di dunia bisa jadi pertimbangan sang pencipta.

Photo by Jon Tyson on Unsplash
Aku selalu berpikir suatu saat aku akan bahagia.
Aku ulangi kalimat itu berkali-kali dalam hati, ketika melihat sesuatu yang belum bisa aku rasakan, telah lebih dulu terjadi di kehidupan orang lain. Begitu juga dalam film. Dalam lagu. Dalam paragraf berisi kalimat-kalimat penuh sukacita kebanggaan. Rasanya bahagia menjadi proyek mangkrak. Fondasi dalam menjalani hidup punya ruang besar yang belum diisi. Belum dikerjakan. Belum ditinjau lebih dalam.
Rasanya malam jadi waktu tempat berkabung untuk segala perasaan yang tak tertampung di kepala.
Dimulai dari lampu utama kamar dimatikan, kemudian digantikan lampu tidur kecil. Tubuh duduk di atas ranjang, kemudian punggung bersandar pada dinding dingin. Layar ponsel menjadi salah satu sumber silau, sekaligus mengalahkan pekat malam di luar.
Aku menatap dinding putih depan kasurku sebagai layar pemutaran skenario di kepalaku yang berpindah-pindah cerita. Proses pengandaian itu mengirimkan satu kalimat: Kalau hidup tak mendapatkan kebahagiaan yang sudah lama diminta, mempersingkat masa aktif di dunia bisa jadi pertimbangan sang pencipta.
Perasaan mentah ini bergejolak. Pikiranku mengatakan bahwa sangat bodoh manusia yang terbatas, mengatur cara kerja sang Maha untuk yang bernapas di dunia.
Rasanya pertengkaran kembali dimulai di dalam. Bedanya tak ada penengah yang berusaha menyelesaikan perasaan yang berceceran. Aku hanya ingat besok bukan akhir pekan.
Aku ambil bantal yang menjadi sandaran punggung dan kepala. Kuletakkan kembali di atas kasur. Aku tidur meringkuk ke kanan, perlahan memejamkan mata. Hati dan pikiranku diambil alih untuk mempersiapkan diri sebagai pekerja. Waktu tak pilih-pilih orang dalam menolak untuk melambat atau bahkan berhenti sejenak.
Waktu selalu berjalan tanpa mampir menengok kekacauanku. Aku memilih tidur untuk tidak memperparah korban. Malam berjalan dengan perasaan mentah menunggu andil yang andal mengolahnya.
메타데이터
- post_id
- 2c69de77186e
- slug
- malam-waktu-dan-tempat-berkabung-2c69de77186e
- url
- https://medium.com/@jam22wib/malam-waktu-dan-tempat-berkabung-2c69de77186e
- canonical_url
- https://medium.com/@jam22wib/malam-waktu-dan-tempat-berkabung-2c69de77186e
- author_url
- https://medium.com/@jam22wib
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 14:09:32