Meringkas, Menari, Berakhir
Tik Tik Tik dan Boom
Meringkas, Menari, Berakhir

Tik Tik Tik dan Boom
Pulpen itu menuntunku untuk membabat habis semua rasa yang kupunya bersama mentari tepat di tengah langit. Ia sedang marah-marahnya, sejak sepekan yang lalu. Begitu menyengat sekali semua rasa yang ia torehkan. Haduh, habis sudah semua atom yang menyusun jiwaku.
Semarah-marahnya mentari disiang hari, lebih marah pula jiwaku yang terasa begitu berantakan dibuatnya. Oleh keadaan yang benar-benar sekacau bumi pertiwi sekarang. Perasaan-perasaan yang aneh, menjalar melalui nadi hingga merasuk kedalam pilar-pilar ingatan bagaikan kaset rusak.
Tak tau bagaimana hal tersebut menimbulkan luka. Yang ternyata disajikan begitu perlahan, tak kusadari namun berakar hingga menusuk di titik terdalam jiwaku. Oh, inilah kehidupan. Torehan trauma di masa lalu sungguh menjelma menjadi buah racun di masa depan. Ketakutan yang tak berujung. Ketakutan yang mengikis udara pernapasanku. Ketakutan yang tak kusadari letak dan nuansanya menjadi muram dan padam secara perlahan.
Ia sebetulnya sosok asing. Bukan siapa-siapa, namun torehan lukanya sungguh luar biasa pilunya. Manusia dengan senyum paling baik yang pernah ku kenal, namun nyatanya, setiap senyum itu merekah ada nadi yang begitu kental dengan darah menetes tanpa cekalan.
Ia baik, awalnya. Bahkan terasa hangat, sepertinya. Namun nyatanya, ia pilu yang dibungkus dengan indahnya pancaran lesung pipinya. Aku menari, kala itu. Bersama kesenangan-kesenangan semu yang kudekap tanpa tau itu adalah kutukanku yang sebenarnya.
Berakhir, masa yang awalnya menjadi tanda syukurku bertemu dengan ia. Namun takdir mengakhirinya begitu cepat. Sangat cepat, hingga rasanya aku tak yakin itu ia. Sosok yang ada di dalam pandanganku.
Nanar ku tatapnya. Pilu ku tetapkan, menjadi bagian pelajaran hidup. Terlena akan sesuatu yang menjadi titik tersakit yang pernah kau harapkan. Yang kau takutkan tlah terjadi, lalu apa yang akan ku sesali. Yang ada hanya sisa-sisa kenangan busuk yang paling rancu dengan bekas sayatan panjang di kisah-kisah cantik itu.
Aku berdoa, semoga dia segera baik. Aku berdoa, semoga kelak ia tak melakukan hal serupa kepada orang lain, sebagaimana ia melakukannya kepadaku.
“Aku bisa saja terlihat baik kepadamu, padahal aku sangat membencimu”
Satu kalimat yang tak pernah bisa terlupakan. Bahkan nyaris menjadi dekapan di tiap malam yang ku langitkan agar perasaan-perasaan ini sembuh bersama kalimat-kalimat itu.
Ini adalah titik penghakimanku, apakah aku yang terlalu baik? ataukah aku yang terlalu terluka hingga lupa cara melindungi diriku sendiri? atau memang ia yang sungguh membenciku…
Kepadamu, ku langitkan hal-hal baik semoga kau tidak tergenang di dalam kolam yang sama.
메타데이터
- post_id
- 2cb302cbdd67
- slug
- meringkas-menari-berakhir-2cb302cbdd67
- url
- https://medium.com/@aesci/meringkas-menari-berakhir-2cb302cbdd67
- canonical_url
- https://medium.com/@aesci/meringkas-menari-berakhir-2cb302cbdd67
- author_url
- https://medium.com/@aesci
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13