← Back to list

Ada yang Aneh dari Negeri Seribu Menara, dan Itu Bukan Piramidanya

Belajar dari Kairo: Ketika Identitas Bukan Sesuatu yang Diperforma

Zikri Assidiqqi · 2026-06-21 07:17 · 0 claps · 3.4 min read
#culture #egypt #indonesia #identity #society
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media 🔒 · Cybersecurity 🌐 · Society · General

Ada yang Aneh dari Negeri Seribu Menara, dan Itu Bukan Piramidanya

Foto: Pexels

Foto: Pexels

Belajar dari Kairo: Ketika Identitas Bukan Sesuatu yang Diperforma

Di tulisan sebelumnya, aku sempat nanya, sepeduli apa sih anak muda kita sama budaya lokal? Dan aku nutup dengan satu pertanyaan yang belum terjawab: apakah globalisasi benar-benar “tertuduh utama”, atau ada faktor lain yang lebih struktural?

Nah, tulisan ini adalah jawaban versi aku. Atau setidaknya, jawaban yang aku temukan tanpa sengaja, di dalam sebuah bus kota Kairo, sekitar dua atau tiga hari setelah aku pertama kali menginjakkan kaki di sana.

20 September 2017, Jam 8.30 Malam, Di Dalam Bus yang Tiba-tiba Jadi Arena

Waktu itu aku lagi perjalanan bareng senior ke Hay Asyir. Naik bus, santai, nggak nyangka bakal dapat “sambutan” yang cukup bikin jantung hampir copot.

Di jalan Hay Sadis menuju Hay Tamin, bus yang kami tumpangi tiba-tiba terlibat salip-salipan sama bus lain. Serius, kayak balapan. Dan bus kami menang.

Tapi bus yang kalah nggak terima. Dia nyalip balik, berhenti persis di depan bus kami, dan sopirnya langsung naik ke bus kami. Dan di situlah, di dalam bus yang kami tumpangi, di depan semua penumpang, dia nonjok sopir bus kami.

Aku yang baru 2–3 hari di Kairo cuma bisa bengong sambil nempel di kursi. Kok bisa gini ya? Baru juga sampe.

Tapi yang lebih bikin aku kaget bukan perkelahiannya, tapi cara mereka berhenti. Seseorang teriak “shollu alannabi”, bershalawatlah kepada Nabi. Dan perlahan, walaupun butuh beberapa kali diingatkan, mereka berhenti.

Di tengah keributan paling random yang bisa kamu bayangin, reflek mereka tetap kembali ke sesuatu yang sangat dalam dari diri mereka. Itu momen pertama aku mulai mikir, ada sesuatu yang berbeda di sini.

Penjual Jus yang Lebih Disiplin dari Aku

Waktu itu aku baru aja selesai setahun kelas bahasa dan resmi “dibebaskan” dari asrama. Asramanya sendiri sebenernya sudah lama berdiri sejak era Presiden SBY, tapi baru beneran ditempati mahasiswa di era Presiden Jokowi. Agak lucu kalau dipikir-pikir. Nah setelah keluar dari sana, aku pindah ke sebuah flat di daerah Tabbah bareng beberapa senior. Kalau di Indonesia mungkin paling mirip rusunawa lah ya, tapi versi Kairo.

Tabbah itu kawasan yang cukup padat dan jauh dari kampus. Perjalanan pulang dari Darossah ke Tabbah sekitar 40 menit naik bis 80 coret.

Suatu sore, pulang kuliah waktu Ashar, aku capek banget. Jujur, dalam hati udah ada negosiasi kecil, sholat di rumah aja deh, udah capek di jalan. Mampir dulu beli jus buah buat nemenin istirahat.

Eh, pas aku mau beli, si penjualnya malah nutup rolling door tokonya setengah dan langsung jalan ke masjid. Aku yang lagi nyari alasan buat sholat di rumah, malah kalah sama penjual jus yang ninggalin dagangannya begitu aja.

Dan itu bukan hal aneh di sana. Tukang sayur, pedagang buah yang jualannya dipajang di luar, mereka ninggalin begitu aja waktu azan. Bukan karena ada yang ngawasin, bukan karena takut kena denda. Udah reflek aja.

Warung Baru Buka, Sound Sistemnya Kayak Konser

Hal lain yang aku notice, kalau ada gerai baru buka di sekitar tempat tinggal, bukannya sepi atau biasa aja, mereka pasang sound sistem gede. Musik Amiyah keras banget, kayak orang punya hajatan.

Aku yang lihat pertama kali jujur mikir, ngapain buka warung harus segini amat? Tapi lama-lama aku paham. Itu bukan lebay. Itu cara mereka merayakan sesuatu, sekecil apapun, dengan identitas mereka sendiri. Nggak ada yang malu, nggak ada yang merasa itu kampungan.

Mulukhiyya dan Teman yang Nggak Minta Maaf

Satu momen lagi yang susah aku lupa.

Teman Mesirku pernah ngenalin makanan namanya Mulukhiyya, kuah ayam atau sapi yang dicampur daun jute, teksturnya agak berlendir waktu pertama kali dimakan. Reaksi pertama aku jujur agak ragu.

Tapi teman aku itu ngenalinnya dengan bangga, tanpa disclaimer, tanpa “maaf ya ini agak aneh” atau “nggak apa-apa kalau nggak suka.”

Dia bangga. Titik.

Dan hal kecil itu ternyata cukup bikin aku mikir panjang.

Jadi, Apa yang Beda?

Dari semua momen itu, aku mulai nangkep satu pola.

Di Mesir, identitas lokal mereka nggak hidup di acara seremonial atau pelajaran sekolah. Dia hidup di reflek paling spontan mereka, di tengah perkelahian sopir bus, di penjual jus yang nutup toko buat sholat, di sound sistem warung yang baru buka, di cara mereka ngenalin makanan ke orang asing tanpa minta maaf.

Mereka nggak punya “muka” yang perlu dijaga soal identitas mereka.

Sementara kita di Indonesia? Kita kadang justru kebalik. Di luar kelihatan modern, update, dan globally aware, tapi dalamnya mulai asing sama identitas sendiri. Ngomong bahasa daerah di kota besar masih sering dianggap kurang gaul. Batik masih perlu di-streetwear-in dulu biar dianggap keren.

Bukan salah globalisasinya. Tapi mungkin yang hilang adalah rasa, bahwa identitas kita itu sesuatu yang nggak perlu minta maaf.

Penutup

Aku nggak bilang kita harus jadi persis kayak Mesir, konteks kita beda, pluralisme kita jauh lebih kompleks. Tapi ada satu hal yang bisa kita pelajari: identitas yang kuat itu bukan yang dipajang di museum atau dihafal di buku teks. Tapi yang hidup di keseharian, di reflek, di cara kita merayakan hal-hal kecil sekalipun.

Itu pertanyaan yang aku sendiri belum punya jawaban pastinya. Mungkin kamu punya. 🙏


메타데이터
post_id
2cc0ed1aa87a
slug
ada-yang-aneh-dari-negeri-seribu-menara-dan-itu-bukan-piramidanya-2cc0ed1aa87a
url
https://medium.com/@zikriassidiqqi/ada-yang-aneh-dari-negeri-seribu-menara-dan-itu-bukan-piramidanya-2cc0ed1aa87a
canonical_url
https://medium.com/@zikriassidiqqi/ada-yang-aneh-dari-negeri-seribu-menara-dan-itu-bukan-piramidanya-2cc0ed1aa87a
author_url
https://medium.com/@zikriassidiqqi
status
ok
fetched_at
2026-06-23 17:05:31